Jalan Taslim Mas Yahya, Rais Aam, dan Etika Mengetuk Pintu Para Kiai

Bagikan:

ADA konflik yang ribut. Ada konflik yang meledak. Dan ada pula konflik yang nyaris tak bersuara, namun justru paling melelahkan bagi batin orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Islah PBNU hari-hari ini berada di kategori ketiga.

Jika dibaca perlahan, rangkaian sowan, pesan WhatsApp, dan permohonan waktu Gus Yahya kepada Rais Aam KH Miftachul Akhyar bukanlah kisah perebutan kuasa. Ia lebih menyerupai kisah seorang santri yang terus mengetuk pintu gurunya, dengan kepala sedikit menunduk, meski tahu pintu itu tak selalu dibukakan.

Gus Yahya, dalam hampir setiap langkahnya, memilih jalan taslīm; berserah pada adab. Bahasa yang dipakai selalu lembut. Permintaan selalu diawali izin. Bahkan dalam kondisi genting, ketika waktu administrasi hampir habis dan negara menunggu kepastian, ia tetap memosisikan Rais Aam sebagai poros legitimasi.

Di sisi lain, Rais Aam menunjukkan sesuatu yang tak kalah kuat: penolakan halus yang nyaris sempurna. Tidak ada kata “tidak”. Tidak ada bentakan. Yang ada adalah jeda. Diam. Kesehatan. Permintaan struktur. Kehendak agar semua tampak normal dulu, baru melangkah.

Ini bukan penolakan kasar, ini penolakan ala kiai sepuh yang tahu bahwa diam kadang lebih keras dari kata.

Dalam tradisi NU, ini bukan hal asing. Kiai sepuh seringkali mengajar bukan dengan perintah, tapi dengan menahan restu. Bukan dengan larangan, melainkan dengan memperlambat langkah muridnya agar belajar sabar.

Yang menarik dan hebatnya, Gus Yahya tampak memahami betul bahasa itu. Ia tidak membentur pintu. Tidak melompat pagar. Apalagi — nyuwun Sewu: menyerapah dalam hati.

Bahkan ketika undangan Harlah akhirnya dicetak tanpa jawaban eksplisit, ia tetap meminta izin, tetap mengabarkan, tetap menempatkan Rais Aam di posisi terhormat. Adab terjaga dengan sempurna. Bahkan tidak ada pernyataan keras. Tidak ada klaim sepihak bahwa restu telah turun.

Inilah taslīm yang sunyi. Taslīm yang tidak heroik di mata publik, tapi sangat berat bagi seorang ketua umum yang dituntut bergerak cepat oleh waktu, negara, dan jutaan jam’iyah.

Gus Yahya memilih menanggung risiko disalahpahami demi menjaga satu hal yang lebih mahal: adab kepada kiai sepuh.

Sementara Rais Aam, dengan segala keterbatasan kesehatan dan kehati-hatiannya, seakan ingin memastikan satu pesan: islah bukan sekadar cepat, tapi harus sah secara batin jamaah. Dan kesahan itu, dalam NU, tidak bisa dipaksa.

Islah PBNU hari ini belum selesai, belum rampung. Tapi dari kisah ini, satu hal sudah tampak jelas: konflik ini tidak sedang dipimpin oleh orang-orang yang kehilangan akhlak. Justru sebaliknya, ia dipenuhi oleh orang-orang yang terlalu menjaga adab, sampai-sampai langkahnya terasa lambat. Pelan sekali.

Benar kata bijak bestari. Cara paling lekas sampai tujuan adalah pelan-pelan. Karena, semakin tergesa, akan semakin terlambat, sebab ada saja batu sandungannya.

Dan mungkin, di situlah NU sedang diuji: apakah masih sabar membaca bahasa kiai, di zaman ketika semua orang ingin jawaban serba cepat dan tegas. Wallahu alam. (bb)

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...