SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menginginkan organisasi yang dipimpinnya tak terlibat langsung ke dalam politik praktis. Dia menegaskan keinginannya mengembalikan muruah NU.
“Saya tidak mau ada calon presiden dan wakil presiden dari PBNU. Mari istrahat dulu, mari sembuhkan dulu luka-luka dan mengutuhkan kembali polarisasi yang sudah terjadi,” kata Gus Yahya.
Gus Yahya tak menampik ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan PBNU untuk kepentingan pribadi hingga kepentingan politik. Ini harus segera diakhiri.
“Setiap orang punya kepentingan, tetapi bagaimana saya ajak mengejar kepentingan masing-masing untuk membawa maslahat untuk semua orang,” harapnya.
Dia ingin muruah NU dan cita-cita peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia menjadi tujuan organisasi ini. Caranya yakni dengan menghidupkan kembali cara pikir mantan Ketua PBNU yang juga Presiden keempat RI KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
“Mari kita gunakan cara berpikir Gus Dur dengan mengutamakan kepentingan bangsa. Beliau tidak pernah peduli dengan kepentingan sendiri atau kelompok,” kata putra dari KH Muhammad Cholil Bisri, salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Hidupkan lagi cara berpikir Gus Dur
Gus Yahya juga menyebutkan keinginan menghidupkan kembali idealisme, visi, dan cita-cita Gus Dur. Secara sosiologis, ide dan pemikiran Gus Dur masih relevan hingga puluhan tahun mendatang.
Menurut Gus Yahya, melihat dinamika domestik maupun internasional, gagasan Gus Dur masih amat relevan sekali dengan momentum saat ini. Sayang, secara konstruksi organisasi PBNU, Gus Yahya menilai, belum ada upaya yang nyata dalam menghidupkan kembali Gus Dur.
“Ini momentum sangat tepat untuk menghadirkan kembali Gus Dur. Persoalannya Gus Dur telah tiada, tetapi kita masih butuh ke-Gusdur-an. Kita lihat banyak masyarakat yang mengekspresikan rasa rindu dengan Gus Dur,” ujar mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur ini. (*)
