JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), penuh dengan batu ganjalan. Beberapa pengurus maupun warga nahdliyin pun tak segan-segan melayangkan kritik.
Kondisi ini tak ubahnya era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menjadi Ketum PBNU. Hal ini dikisahkan Gus Yahya saat Gus Dur menghadapi kritik tajam KH Misbah Mustofa yang tak lain adalah adik dari Kakek dari Gus Yahya sendiri.
“Kakek saya Kiai Bisri Mustofa itu punya adik namanya Kiai Misbah Mustofa. Ketika Gus Dur memimpin NU dengan macam-macam gagasannya tentang transformasi, Kiai Misbah ini orang yang paling keras menentang, kritik yang paling keras. Apalagi ketika Gus Dur menggagas tentang bank NU itu, Nusuma, keras sekali kritiknya Kiai Misbah,” kata Gus Yahya mengawali ceritanya dalam sebuah kesempatan.
Gus Yahya mengatakan, sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika banyak kalangan, termasuk sahabat-sahabat Gus Dur sendiri, mulai mempertimbangkan agar Gus Dur tidak mencalonkan diri lagi setelah dua periode menjabat Ketum PBNU. Namun, di tengah desakan itu, justru Kiai Misbah menunjukkan sikap sebaliknya.
Dalam suasana seperti itu, Gus Yahya mengungkapkan bahwa Kiai Misbah memanggil KH Mustofa Bisri (Gus Mus), yang juga merupakan ponakannya, untuk menyampaikan pesan khusus kepada Gus Dur.
“Kamu kasih tahu Durrahman (panggilan Gus Dur), bilang sama Durrahman dia harus maju lagi. Dia harus teruskan, terus nyalon lagi dan teruskan pimpin NU ini,” kata Gus Yahya sambil menirukan intonasi Kiai Misbah.
Gus Mus sempat heran dan mempertanyakan sikap Kiai Misbah yang selama ini menjadi pengkritik paling tajam Gus Dur, tetapi tiba-tiba meminta agar Gus Dur kembali maju.
“Loh, jenengan ini kan pengkritik paling sadis kepada Gus Dur ini. Kenapa sekarang malah meminta Gus Dur terus?” kata Gus Yahya menurut Gus Mus Jawaban Kiai Misbah, menurut Gus Yahya, sangat sederhana.
Ia menekankan bahwa dalam memilih pemimpin, ada dua syarat utama yang harus dipenuhi, yaitu menjadi seorang pemimpin harus pintar dan berani. “Sekarang nih siapa yang lebih pintar dari Durrahman? Siapa yang lebih berani dari Durrahman? Beliau boleh yang begitu, kalau pintar aja tapi penakut, nggak ada gunanya. Pemberani tapi goblok malah bahaya. Harus pinter dan berani,” tutur Gus Yahya menirukan pernyataan Kiai Misbah.
Gus Yahya menegaskan bahwa meski perbedaan pandangan sangat tajam, antara Gus Dur dan Kiai Misbah tetap ada kepercayaan satu sama lain, sehingga kritik dan perbedaan bukan dilandasi kebencian, tetapi tulus demi kebaikan NU.
“Tapi dia selama ini mengkritik Gus Dur begitu keras. Kamu ini, beda pendapat itu halal tau nggak? Beda pendapat itu halal. Tadi, yang pintar dan berani itu,” lanjut Gus Yahya mengungkapkan argumentasi Kiai Misbah.
Dari cerita ini, Gus Yahya menyimpulkan bahwa Kiai Misbah tetap percaya pada ketulusan Gus Dur dalam memimpin NU, walau tidak setuju dengan beberapa gagasan yang diusungnya.
Begitu juga sebaliknya, Gus Dur juga memahami bahwa kritik dari Kiai Misbah adalah bentuk kepedulian, bukan permusuhan. “Jadi dalam perbedaan yang tajam seperti itu, ada trust bahwa itu dilakukan dengan tulus,” pungkasnya. nuo/ris
