Berkhidmat di NU Harus dengan Cara dan Adab Pesantren

Bagikan:

SEMARANG (SuaraNahdliyin.id) – Dinamika organisasi pasti terjadi setiap berganti kepemimpinan di NU. Namun sebagai pengurus NU yang berkhidmat di NU, tetap harus mengendepankan adab pesantren dan sebagai santri.

Hal ini disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh. Menurutnya, dalam pelaksanaan Muktamar NU ke depan harus tetap berpijak pada koridor konstitusi organisasi dan mengedepankan adab pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen itu mengatakan, dinamika dalam organisasi merupakan hal yang lumrah, terlebih ketika banyak pihak ingin menunjukkan semangat berkhidmat.

Namun demikian, ia mengingatkan agar semangat tersebut tidak keluar dari jati diri Nahdliyin, dan tetap mengedepankan adab. “Dinamika itu pasti ada. Kadang orang mau khidmat itu ada yang dengan cara-cara seperti itu dan lain sebagainya. Tapi istilah kami wong Jowo niku, ngunu ya ngunu tapi ojo ngunu (boleh begitu tapi jangan keterlaluan),” kata Kiai Ubaidillah dalam siaran di TVNU.

Kiai sepuh Jateng yang akrab disapa Kiai Ubaid ini menegaskan, bahwa Muktamar merupakan forum konstitusional selama dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Peraturan Perkumpulan (Perkum) yang telah disepakati bersama.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya etika dalam kontestasi, khususnya dalam pemilihan Ketua Umum. Menurutnya, praktik-praktik yang tidak mencerminkan nilai-nilai santri harus dijauhkan dari arena Muktamar.

“Ada batasan tertentu bagi aktivis NU yang ingin berkhidmat. Harus dengan cara NU, harus dengan adab NU. Kita diharapkan dalam kontestasi nanti, kita memakai adab tersebut sehingga insyaallah setelah Muktamar tidak ada gejolak apa-apa,” tegasnya.

Kiai Ubaid juga menyinggung pentingnya keselarasan antara tujuan dan cara dalam perjuangan NU. Ia mengutip kaidah Nashiril Haqq bil Haqq, yakni menegakkan kebenaran dengan cara yang benar.

“Kita tidak bisa menegakkan kebenaran kecuali dengan cara-cara yang benar. Kalau cara kita batil, ya kita tidak bisa memperjuangkan NU secara batin maupun zahir. Itu sangat sulit sekali,” imbuhnya.

Terkait jabatan pengurus NU, ia menyebut dirinya dan jajaran pengurus hanyalah sebagai khadim (pelayan) atau jonggol (wakil/utusan).

Menurutnya, pemilik sejati NU adalah para kiai sepuh dan kiai tradisional di akar rumput. “Pemiliknya ya para romo kiai sepuh. Kita harus tetap sam’an wa tho’atan (mendengar dan taat). Pengurus ini tidak akan berarti sama sekali tanpa dukungan kiai tradisional, kiai lokal, apalagi kiai sepuh,” tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh kader untuk belajar dari pengalaman Muktamar sebelumnya dan mengutamakan persatuan setelah forum selesai. Menurutnya, perbedaan pandangan di awal merupakan hal yang wajar, namun harus diakhiri dengan kerukunan. “Marilah kita bersatu kembali. Geger neng ngarep, engko neng mburi anteng (berdinamika di depan, namun setelahnya tenang kembali). Jika kiai-kiai sepuh sudah ‘menyemprit’ atau memberi peringatan, kita semua harus patuh,” pungkasnya. nuo/ris

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...