BRIN Ingatkan Sinyal Dini Kemarau Panjang Meski Hujan Masih Turun

Bagikan:

Jakarta, NU Online

Hujan yang masih mengguyur sejumlah wilayah, khususnya di Pulau Jawa, tidak serta-merta menandakan musim kemarau belum tiba. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mengingatkan adanya sinyal awal kemarau panjang yang berpotensi lebih kering dan panas pada 2026.


Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa hasil pengamatan terkini menunjukkan fenomena El Nino mulai terbentuk. Hal ini ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang semakin signifikan.


“Suhu terpanas hingga anomali lebih dari lima derajat Celsius telah terjadi di lapisan permukaan timur Pasifik dan lapisan tengah (subsurface) ekuator. Aktivitas awan yang minim juga mulai terjadi di wilayah tenggara Indonesia, ditandai anomali outgoing longwave radiation (OLR) yang positif. Ini berarti tutupan awan berkurang dan menjadi sinyal kemarau mulai terbentuk secara konsisten,” ujarnya, dikutip NU Online, Rabu (6/5/2026).


Ia menyoroti hujan sporadis yang masih terjadi di Jawa tidak menggagalkan pembentukan El Nino. Menurutnya, hujan tersebut lebih dipengaruhi ketidakstabilan atmosfer akibat dinamika perairan di selatan Jawa, tepatnya di Samudra Hindia.


“Hujan di Jawa saat ini lebih merupakan dampak dinamika lokal, termasuk pengaruh vorteks di Samudra Hindia yang diprediksi bertahan hingga Juni. Namun, kondisi ini bersifat sementara dan tidak mengubah kecenderungan menuju kemarau yang lebih kering,” jelasnya.


Erma menilai pemerintah daerah belum sepenuhnya responsif terhadap sinyal dini kekeringan. Padahal, potensi deret hari tanpa hujan yang lebih panjang perlu diantisipasi sejak dini.


“Jika Jawa masih mengalami hujan sporadis, ini seharusnya dimanfaatkan untuk memanen air hujan sebagai cadangan menghadapi kemarau. Tanpa langkah antisipatif, kita berisiko menghadapi krisis air yang berulang setiap tahun,” tegasnya.


Ia juga memperingatkan bahwa periode Juli hingga Oktober 2026 berpotensi menjadi fase paling kering. Kombinasi El Nino dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan akan memperkuat intensitas kemarau.


“Dampaknya bukan hanya berkurangnya hujan, tetapi juga peningkatan suhu udara yang signifikan. Kesiapsiagaan harus dimulai sekarang, bukan menunggu kondisi memburuk,” pungkasnya.

Source link

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...