Nasihat Al-Ghazali Tentang Tipu Daya Dunia

Bagikan:

Dunia hanyalah sementara bagi kehidupan manusia. Dunia menjadi ladang untuk menentukan pilihan berbuat kebaikan. Tipu daya dunia sungguh bisa menyesatkan kehidupan manusia. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali pernah menasihati murid-muridnya untuk berhati-hati terhadap tipu daya dunia.

Dikisahkan, Imam al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, “Apa yang paling dekat dengan diri kalian di dunia ini?” Mereka menjawab, “Orang tua, guru, teman, dan kerabatnya”. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar. Tetapi menurut Sang Imam, yang paling dekat dengan manusia adalah “mati”.

Sebab, hal itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imran :185).

Kemudian, beliau mengajukan pertanyaan kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kalian di dunia ini?” Para muridnya ada yang menjawab, “Negeri Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang”. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar. Tapi yang paling benar, kata Sang Imam, adalah “masa lalu”.

Bagaimanapun Anda, apa pun kendaraan Anda, tetap Anda tidak boleh kembali ke masa lalu. Maka dari itu, Anda harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Imam al-Ghazali kembali mengajukan pertanyaan, “Apa yang paling besar di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab, “Gunung, bumi, dan matahari”. Semua jawaban itu benar, kata Sang Imam. Namun, kata dia, yang paling besar di dunia ini adalah “nafsu”.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai” (QS al-A’Raf :179).

Untuk itu, Anda harus hati-hati dengan nafsu Anda, jangan sampai nafsu membawa Anda ke neraka. Beliau kemudian mengajukan pertanyaan keempat, “Apa yang paling berat di dunia ini?” Di antara mereka ada yang menjawab, “Baja, besi, dan gajah.” Semua jawaban hampir benar, kata Imam Ghazali, “Tapi yang paling berat adalah memegang amanat”.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS al-Ahzab :72).

Sayangnya, tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi, manusia dengan sombongnya menerima permintaan Allah SWT sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanatnya.

Sang Imam kembali bertanya, “Apa yang paling ringan di dunia ini?” Muridnya ada yang menyebut kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Imam al-Ghazali kembali membenarkan. Tapi, kata beliau, yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan shalat”. Gara-gara pekerjaan, Anda tinggalkan shalat.

Lalu, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” Imam al-Ghazali kembali bertanya. Murid-muridnya serentak menjawab, “Pedang.” Beliau kembali membenarkan jawaban muridnya. Namun, kata dia, yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Al-Ghazali mengingatkan umat Islam untuk mewaspadai dunia ini yang penuh dengan tipu daya. Ia memancarkan segala keindahannya sehingga Anda terkadang lupa akan akhirat yang kekal itu. Dunia selalu menggoda manusia agar melupakan tujuannya. Padahal, dunia hanya alat atau ladang untuk mengeruk sebanyak-banyaknya amal kebaikan sehingga bisa dibawa sebagai bekal di akhirat. Maka dari itu, utamakanlah meraih kehidupan akhirat yang bersifat kekal dan abadi untuk selama-lamanya. Wallahu A’lam. ris

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...