SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) – Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, Jawa Timur, KH Asep Saifuddin Chalim, menyampaikan harapan agar gelaran Muktamar ke-35 NU dipusatkan di lingkungan pondok pesantren.
“Penyelenggaraannya (Muktamar NU) harus di pesantren. Karena NU itu jamiyahnya pesantren,” katanya, Sabtu (09/05/2026).
Sosok yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ini menegaskan, NU dengan pesantren-pesantrennya harus bergemuruh melahirkan ulama dan ilmuan besar yang bisa menerangi dunia, khususnya Indonesia.
“NU dan pesantren harus melahirkan pemimpin bangsa dan pemimpin dunia yang senantiasa memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dan tegaknya keadilan, terutama di Indonesia,” terangnya.
Di samping itu, Kiai Asep menyebut bahwa NU, pesantren dan lembaga pendidikannya harus melahirkan konglomerat besar. Hal ini agar memberikan kontribusi maksimal terhadap terwujudnya kesejahteraan rakyat Indonesia.
“NU juga harus melahirkan para profesional yang berkualitas dan bertanggung jawab,” ucap Kiai Asep.
Putra muassis NU dan Katib Tsani Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode awal berdiri, KH Abdul Chalim Majalengka, itu mendorong agar kepengurusan NU bisa konsisten melanjutkan cita-cita awal pendirian NU.
“Sejak awal berdirinya, NU punya tugas mulai, yakni mendominankan Aswaja dan Indonesia merdeka,” katanya.
Pada pelaksanaan Muktamar NU, Kiai Asep secara tegas menolak perilaku risywah atau sogok-menyogok. Menurutnya, tindakan risywah adalah awal kepengurusan NU yang tidak barakah.
“Bahkan, saya mengusulkan jika terjadi atau ditemukan ada risywah, maka yang bersangkutan agar ditangkap dan dilaporkan pada pihak yang berwajib,” pungkasnya. (nhr)
