Delapan ribu kilometer memisahkan Indonesia dan Arab Saudi. Beda musim, beda kebudayaan, beda etnis, beda sejarah. Namun di balik semua perbedaan itu, ada satu kepercayaan yang menyatukan: Islam. Dan dari kepercayaan itu lahirlah hubungan yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Haji adalah tali paling kuat yang mengikat dua dunia yang jauh ini, menjadikan jarak bukan halangan, melainkan jembatan.
Di balik perjalanan haji tersimpan sistem transportasi raksasa. Bagi jamaah Indonesia, perjalanan dimulai dari dua maskapai utama: Garuda Indonesia dan Saudia Air Lines. Garuda melayani embarkasi besar seperti Jakarta, Solo, Balikpapan, Makassar, Lombok, dan sebagian Surabaya. Saudia menangani Batam, Medan, Padang, Palembang, Aceh, Banjarmasin, serta sebagian kloter Jawa.
Pembagian ini bukan sekadar teknis, melainkan manajemen skala besar untuk distribusi jamaah yang seimbang, mengangkut 221.000 orang yang melibatkan ribuan petugas sehingga satu kementerian sepanjang tahun berkonsentrasi bekerja untuk itu. Salain itu, merupakan satu-satunya jumlah perjalanan bangsa Indonesia yang tak ada padanannya ke negara lain.
Pola perjalanan jamaah haji Indonesia setiap musim haji terbagi dalam dua gelombang besar—sebuah sistem yang dirancang bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan arus manusia di dua kota suci: Madinah dan Makkah.
Bagi jamaah gelombang pertama, perjalanan dimulai dari berbagai embarkasi di Indonesia menuju Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz di Madinah. Hari-hari pertama diisi dengan pelaksanaan arbain—shalat berjamaah selama 40 waktu di Masjid Nabawi—yang biasanya berlangsung sekitar delapan hingga sembilan hari.
Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Makkah. Bus-bus membawa jamaah keluar dari Madinah, melintasi gurun menuju titik miqat di Bir Ali atau Zulhulaifah. Di situlah, niat ihram diambil, menandai dimulainya umrah wajib. Dari titik itu, perjalanan tidak lagi sekadar berpindah kota, tetapi memasuki fase ibadah yang lebih intens—menuju Masjidil Haram di Makkah. Perjalanan Madinah ke Makkah musim haji 2026 ini dimulai Kamis 30 April.
Sementara itu, jamaah gelombang kedua menempuh jalur yang berbeda sejak awal. Mereka terbang langsung dari embarkasi di Indonesia menuju Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Tidak ada jeda panjang seperti di Madinah. Setibanya di Jeddah, jamaah segera diarahkan menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Ritmenya lebih cepat, lebih padat, karena mereka langsung masuk ke pusat aktivitas haji.
Baru setelah seluruh rangkaian puncak haji di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina selesai, jamaah gelombang kedua bergerak ke Madinah. Di sana, mereka menjalani arbain sebelum kembali ke Tanah Air. Urutannya terbalik, tetapi tujuan spiritualnya tetap sama.
Dua jalur ini—Madinah lebih dulu atau Makkah lebih dulu—pada akhirnya bertemu dalam satu titik: pengalaman haji yang utuh. Yang berbeda hanyalah ritme awalnya. Gelombang pertama memulai dengan ketenangan dan persiapan batin di Madinah. Gelombang kedua langsung masuk ke intensitas ibadah di Makkah.
Di balik perbedaan itu, tersimpan satu kesamaan: setiap jamaah, dari gelombang mana pun, sedang menempuh perjalanan yang sama—menyusuri jejak panjang ibadah yang telah dilalui umat Islam selama berabad-abad.
Transportasi di Makkah dan Madinah
Setibanya di Arab Saudi, jamaah haji Indonesia beberapa kali melakukan perjalanan darat ke beberapa tempat. Kepala Bidang Transportasi Daerah Kerja Makkah Syarif Rahman mengatakan, sekitar 6.000 bus antarkota disiapkan melalui kerja sama Kementerian Haji Arab Saudi dengan 15 syarikah, menghubungkan Madinah, Makkah, dan Jeddah.
Pertengahan pekan lalu, dia menginspeksi sebuah syarikah yang terikat dengan Kementerian Haji Indonesia, Rawahil, di kawasan Zumum, pinggiran Kota Makkah. Dia sempat menguji secara langsung salah satu busnya di tempat. Pemerintah Indonesia, kata dia, tak mau mengambil risiko, dalam urusan transportasi. Armada bus tak ada yang lebih dari lima tahun.
Di dalam kota Makkah, 452 unit bus Shalawat beroperasi 24 jam penuh, mengantarkan jamaah dari hotel ke Masjidil Haram. Untuk jamaah berkebutuhan khusus, jika dalam satu rombongan ada minimal lima kursi roda, disediakan bus Shalawat khusus dengan sistem hidrolik.
Transportasi pada puuncak haji atau disebut fase Masyair—menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina—ratusan ribu jamaah haji Indonesia beriringan dengan jutaan jamaah dari berbagai negara bergerak hampir bersamaan dengan puluhan ribu bus dalam waktu terbatas. Karenanya, transportasi tersebut diambil alih langsung pemerintah Arab Saudi, tidak lagi syarikah.
Akar sejarah: semangat Nusantara yang tak padam
Orang Nusantara dan tradisi perjalanan haji berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Peneliti Belanda Martin van Bruinessen dalam artikelnya “Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji” mencatat, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah jamaah asal Nusantara mencapai 10–20 persen dari total haji asing, bahkan pada 1920-an sekitar 40 persen.
Masih menurut Martin, Bahasa Melayu menjadi bahasa kedua di Makkah setelah Arab sejak 1860. Semua itu dicapai dengan perjuangan luar biasa: perahu layar yang bergantung musim, perpindahan kapal dari Nusantara ke Aceh, lalu ke India, Hadramaut, atau langsung ke Jeddah. Perjalanan bisa setengah tahun sekali jalan, dengan bahaya karam, bajak laut, rampok Badui, hingga wabah penyakit.
Semangat itu menurun menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia, akibat perang dan fatwa KH Hasyim Asy’ari yang menyatakan haji tidak wajib saat negara dalam keadaan perang. Fatwa itu menjadi Maklumat Menteri Agama No. 4 tahun 1947. Namun setelah keadaan normal, umat Islam Indonesia kembali berhaji.
1952: pertama kali pesawat terbang dan perjuangan KH Wahid Hasyim
Pada 1950, KH Wahid Hasyim menjadi menteri agama. Tahun 1952, calon jamaah haji membeludak hingga 14.000 orang, sedangkan kapal yang tersedia hanya mampu mengangkut 11.000. Kiai Wahid Hasyim pun terbang ke Jepang, mencari kapal tambahan.
“Setelah mampir di Bangkok dan Hong Kong, Menteri Agama KH Wahid Hasym tiba di Tokyo pada 1 April 1952. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: mendapatkan kapal murah untuk mengangkut jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci,” tulis Tempo.
Setelah 18 hari di Tokyo, ia berhasil mendapatkan kapal dari Osaka Sissen Kaisha. Di tahun yang sama, untuk pertama kalinya Indonesia memberangkatkan jamaah haji dengan pesawat terbang. Ongkosnya dua kali lipat lebih mahal: Rp16.691 untuk pesawat, sedangkan kapal laut Rp7.500. Akibatnya, jumlah jamaah laut 14.031 orang, sedangkan yang naik pesawat hanya 293 orang.
1978: berakhirnya era kapal laut haji
Masih menurut Tempo, selama dekade 1950-an hingga 1970-an, transportasi haji berlangsung dua jalur: laut (murah tapi lama) dan udara (mahal tapi cepat). Namun pada 1977, ongkos haji laut justru menjadi lebih mahal (Rp795.000) dibanding udara (Rp690.000), sedangkan waktu tempuh laut tetap 30 hari pergi-pulang. Perusahaan kapal PT Arafat mengalami kesulitan keuangan meski mendapat subsidi.
Akhirnya, pada 1978 pemerintah menghentikan perjalanan haji dengan kapal laut. Menteri Agama Ratu Alamsyah Prawiranegara sempat membuka peluang bagi perusahaan kapal lain, tetapi tak ada yang mengajukan diri. Sejak itu, kapal laut benar-benar berakhir sebagai angkutan haji Indonesia.
Perjalanan yang terus berubah
Dari perahu layar berbulan-bulan, kapal uap penuh sesak, hingga pesawat jet dan bus Shalawat 24 jam—perjalanan haji orang Indonesia adalah bukti iman yang beradaptasi dengan zaman. Semangat leluhur yang rela menempuh bahaya kini dilanjutkan dalam sistem transportasi raksasa yang terukur, modern, dan inklusif.
Cara mencapainya terus berubah, tetapi tujuannya tetap sama: sebuah perjalanan personal yang didesain secara kolosal di tengah orkestrasi global yang tak pernah benar-benar berhenti. Delapan ribu kilometer bukanlah pemisah, melainkan saksi bisu bahwa perbedaan bisa dirajut menjadi persaudaraan abadi.
