Jakarta, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) mengajak santri, ustadz-ustadzah, serta para kiai dan nyai untuk bersama-sama menjaga pesantren dari kekerasan seksual. Hal ini menyusul penangkapan terduga pelaku kekerasan seksual di Pati.
“Kami juga mengajak kepada seluruh santri, para ustadz-ustadzah, dan juga mohon maaf para kiai-nyai semuanya, mari, kita sama-sama menjaga pesantren kita dan menjaga lembaga pendidikan kita agar tidak terjadi lagi kasus kekerasan khususnya di pesantren,” kata Ulun Nuha, pengurus RMI PBNU, di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Ia juga mendorong seluruh santri yang melihat, mendengar, menyaksikan, atau bahkan menjadi korban kekerasan terutama kekerasan seksual untuk berani bersuara dan melaporkan kepada aparat penegak hukum, para kiai, pengurus ormas, orang tua, atau pihak yang dipercaya. Hal ini penting agar pelaku dapat dihentikan dan tidak ada lagi kekerasan di lembaga pendidikan.
Gus Ulun, sapaan akrabnya, menyampaikan rasa syukur atas kerja cepat aparat penegak hukum yang berhasil menangkap terduga pelaku kekerasan seksual di Pati. Ia menekankan bahwa langkah ini menjadi bukti keseriusan negara dalam melindungi santri dan memastikan keadilan berjalan.
“Alhamdulillah aparat penegak hukum bisa menangkap pelaku, terduga pelaku kekerasan seksual di Pati di hari tadi,” katanya.
Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada aparat penegak hukum atas penangkapan pelaku. Ia juga menekankan pentingnya mengawal proses hukum agar berjalan cepat, tepat, dan transparan demi menghadirkan rasa keadilan bagi para korban maupun masyarakat luas.
“Kita sampaikan apresiasi dan terima kasih kepada aparat penegak hukum dan tentu kita semuanya mengawal, berharap dan mengawal agar kasus ini segera diproses secara cepat, tepat dan juga transparan untuk bisa mendapatkan rasa keadilan bagi para korban dan juga masyarakat luas,” katanya.
Ia juga menyampaikan harapan agar kasus kekerasan seksual di Pati menjadi pelajaran bersama, sehingga ke depan tidak ada lagi kejadian serupa yang terjadi di dunia pendidikan maupun di tempat lain.
“Dan kita berharap, kita belajar juga dari kasus ini bahwa ke depan mudah-mudahan ini menjadi kasus kekerasan yang terakhir yang terjadi di dunia pendidikan dan di manapun,” ujarnya.
Kontributor: Ahmad Syafiq Sidqi
