Mengenal Sekte Bathiniyah: Sejarah, Ajaran, dan Kontroversinya dalam Islam

Bagikan:

Salah satu firqah atau sekte yang sering disebut dalam literatur kitab-kitab klasik maupun kontemporer adalah aliran Bathiniyah. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada kelompok yang menekankan adanya makna tersembunyi di balik teks-teks syariat, dan karena itu pula, sering kali ajaran dan pemahaman yang mereka ajarkan tidak sejalan dengan pemahaman mayoritas ulama.

Meski tak semasyhur Ahlussunnah, Muktazilah, Syiah, dan lainnya, tetapi aliran yang satu ini tumbuh menjadi sekte yang sangat menonjol sekaligus kontroversial. Saking kontroversialnya, tak sedikit ulama yang menilai ajarannya keluar dari Islam. Salah satu yang menyetujui pendapat ini adalah Imam al-Qadhi Iyadh, sebagaimana dikutip oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, halaman 10.

Nah, dalam kesempatan ini, penulis hendak mengurai dengan detail sejarah munculnya sekte ini hingga beberapa ajaran mencolok dari sekte ini. Dan berikut uraiannya:

Mengenal Sekte Bathiniyah

Mengutip penjelasan Imam Abu Abdillah as-Sanusi (wafat 895 H), kelompok ini disebut Bathiniyah karena meyakini bahwa di balik makna lahiriah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad terdapat makna batin yang lebih dalam. Mereka menggambarkan hubungan antara lahir dan batin itu seperti kulit dan isi buah: yang tampak di luar hanyalah pembungkus, sedangkan inti sejatinya ada pada bagian dalam.

Simak penjelasannya berikut ini:

الْبَاطِنِيَّةُ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِأَنَّهُمْ يَدَّعُونَ أَنَّ لِظَوَاهِرِ الْقُرْآنِ وَالْأَحَادِيثِ بَوَاطِنَ تَجْرِي مِنَ الظَّوَاهِرِ مَجْرَى اللُّبِّ مِنَ الْقِشْرِ

Artinya, “Bathiniyah: mereka dinamakan demikian karena mereka mengaku bahwa di balik makna lahiriah Al-Qur’an dan hadits terdapat makna batin, yang hubungannya dengan makna lahiriah ibarat hubungan isi buah dengan kulitnya.” (As-Sanusi, Syarhul Aqidah al-Kubra, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2006 M], halaman 448).

Penjelasan yang senada juga pernah dipertegas oleh Ibnul Jauzi (wafat 597 H) yang memandang bahwa sekte Bathiniyah adalah kelompok yang menyembunyikan identitas aslinya di balik nama Islam, karena akidah dan tindakan mereka sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, mereka tidak langsung mengemukakan hal tersebut di awal kemunculannya.

Karena pada mulanya, mereka mengaku meyakini Allah, mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, dan membenarkan Islam sebagai agama yang benar. Baru setelah rasa percaya terbentuk, mereka mulai menyebarkan pandangan bahwa segala ajaran yang tampak hanyalah penampakan luar, sedangkan hakikat sesungguhnya tersimpan dalam makna tersembunyi yang hanya diketahui oleh kelompok mereka saja. (Ibnul Jauzi, Talbis Iblis, [Beirut: Darul Fikr, 2001 M], jilid I, halaman 124).

Sejarah Munculnya Sekte Bathiniyah

Mengutip penjelasan Abul Muzhaffar al-Isfarayini (wafat 471 H), gerakan ini mulai terlihat pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun (170 – 218 H/786 – 833 M) dan terus berlanjut setelahnya.

Dalam sejarahnya, sekte ini muncul berawal dari hasil perencanaan sekelompok orang yang bertemu di penjara Irak pada masa al-Ma’mun. Mereka adalah Abdullah bin Maimun al-Qaddah yang merupakan bekas budak Ja’far Shadiq, Muhammad bin Husain yang dijuluki Dandan, Maimun bin Dishan, dan beberapa orang lainnya yang disebut al-Jaharbijah.

Setelah keluar dari penjara, mereka mulai menyebarkan dakwah Bathiniyah, yang dipimpin oleh Muhammad bin Husain alias Dandan. Ia mengajak penduduk pegunungan Kurdi di daerah Tuz. Dari sanalah kemudian dakwahnya diterima oleh sekelompok orang.

Sementara itu, Maimun bin Dishan pergi ke wilayah Maghrib, dan mengaku sebagai keturunan Aqil bin Abi Thalib. Setelah berhasil mengumpulkan pengikut, ia mengklaim dirinya sebagai anak keturunan Muhammad bin Ismail bin Ja’far Shadiq, padahal menurut para ahli nasab, Muhammad bin Ismail wafat tanpa meninggalkan keturunan,

ثم إن ميمون بن ديصان قصد ناحية المغرب وانتسب إلى عقيل بن أبي طالب فلما أجابته جماعة ادعى أنه من اولاد محمد ابن إسماعيل بن جعفر الصادق فقبله منه جماعة من الجهال الذين لم يعلموا أن محمد بن إسماعيل بن جعفر خرج من الدنيا ولم يعقب وهذا شيء قد اتفق عليه النسابة

Artinya, “Kemudian Maimun bin Dishan pergi ke wilayah Maghrib dan mengaku keturunan Aqil bin Abi Thalib. Ketika sekelompok orang telah mempercayainya, ia lalu mengaku bahwa ia adalah keturunan Muhammad bin Ismail bin Ja’far as-Sadiq. 

Hal ini diterima oleh sebagian orang yang bodoh, yang tidak mengetahui bahwa Muhammad bin Ismail bin Ja’far telah meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan sama sekali, dan hal ini merupakan kesepakatan bulat di kalangan para ahli nasab.” (Al-Isfarayini, at-Tabshir fid Din, [Lebanon: Alamul Kutub, 1983 M], halaman 140).

Setelah itu, sekte Bathiniyah semakin menyebar ke berbagai penjuru. Dari doktrin yang dilakukan Maimun bin Dishan, muncullah murid bernama Hamdan Qarmat yang kemudian menyebarkan ajaran ini ke penduduk Bahrain, ada juga Abu Said al-Janabi yang akhirnya menguasai wilayah Bahrain dan menyebarkan paham ini dengan masif di kota tersebut.

Di wilayah Khurasan, Husain bin Ali al-Marwazi ikut menyebarkannya saat menjabat sebagai pejabat di Herat dan Marwarrud. Kemudian setelah ia meninggal, tugas ini diteruskan oleh Muhammad bin Ahmad an-Nasafi yang dikenal dengan nama al-Bazdawi, serta Abu Ya’qub as-Sijzi di wilayah Sijistan.

Lebih jauh dari itu, para sejarawan mencatat sebagaimana yang dikutip oleh al-Isfarayini, bahwa gerakan Bathiniyah semakin meluas pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah (180 – 227 H/796 – 842 M). Bahkan seorang pejabat istana bernama Afsyin ikut masuk ke dalam dakwah mereka, sehingga atas bantuannya, paham ini semakin menyebar dan meluas. (Al-Isfarayini, hal. 141).

Sementara itu, menurut Muhammad Hasan Ismail asy-Syafi’i, para sejarawan sepakat bahwa orang-orang yang menyusun ajaran Bathiniyah pada dasarnya berasal dari keturunan bangsa Majusi, yang masih condong kepada agama nenek moyang mereka, namun tidak mampu menampakkannya secara terang-terangan karena kuatnya kekuasaan Islam saat itu.

Karena itu, mereka menyusun ajaran dengan kemasan yang tampak sejalan dengan Islam, agar mudah diterima oleh masyarakat awam. (Al-Babiyah wal Bahaiyah Tarikhan wa Aqidatan, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2009 M], halaman 115).

Ajaran Mencolok Sekte Bathiniyah

Setelah mengetahui definisi dan sejarah munculnya sekte Bathiniyah, terasa sangat tidak lengkap jika tidak menelusuri ajaran-ajaran mencolok yang mereka miliki. Sebab, di situlah letak ciri khas sekaligus penyebab utama mengapa paham ini begitu kontroversial dan sering dianggap menyimpang oleh banyak ulama. Dan berikut adalah beberapa ajaran mencolok yang dipegang oleh kelompok mereka:

1.    Meyakini adanya dua pencipta alam semesta

Kelompok ini berpendapat bahwa alam semesta memiliki dua pencipta, bukan satu seperti ajaran pokok dalam Islam. Pencipta yang pertama adalah cahaya, yang menjadi sumber asal segala hal yang baik dan segala manfaat bagi makhluk. Sedangkan pencipta yang kedua adalah kegelapan, yang menjadi sumber asal segala keburukan serta segala hal yang membawa kerugian dan bahaya.

​​​​​​​

قالوا إن للعالم صانعين أحدهما النور يكون منه الخيرات والمنافع والآخر الظلمة يكون منه الشرور والمضار

Artinya, “Mereka berkata: sesungguhnya alam semesta memiliki dua pencipta. Pertama adalah cahaya, segala kebaikan dan manfaat berasal darinya. Kedua adalah Kegelapan, segala keburukan dan bahaya berasal darinya.” (Al-Isfarayini, at-Tabshir fid Din, [Lebanon: Alamul Kutub, 1983 M], halaman 140).

2.    Mengingkari hari kebangkitan dan akhirat

​​​​​​​

Sekte Bathiniyah meyakini bahwa ketika seseorang meninggal, ia tidak akan dihidupkan kembali. Karena bagi mereka, tidak ada hari kebangkitan, pengumpulan manusia, perhitungan amal, maupun balasan pahala atau dosa di kemudian hari. Adapun perihal ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal itu, aliran Bathiniyah menafsirkannya hanya sebagai gambaran perasaan manusia semata.

Bagi mereka, maksud dari ayat-ayat itu hanyalah agar seseorang sadar bahwa ia akan “diperhitungkan” atas perbuatannya dalam hati sanubarinya sendiri, bukan di akhirat nanti. Mereka juga meyakini kenikmatan surga hanyalah perasaan gembira dan bahagia akibat perbuatan baik yang pernah dilakukan. Sebaliknya, siksa neraka hanyalah rasa sedih dan penyesalan akibat perbuatan buruk yang pernah dikerjakan. (Shalahuddin, Aqaidul Asya’irah, [Dar Iman, t.t], jilid I, halaman 166).

3.    Mengingkari Kenabian dan Menggunakan Taktik Penyamaran

Selain dua ajaran di atas, masih banyak lagi keyakinan kontroversial yang dimiliki sekte Bathiniyah. Salah satunya sebagaimana yang dicatat oleh Ibnul Jauzi adalah  mengingkari keberadaan Allah, mendustakan para utusan-Nya, serta menolak kenabian. Mereka menilai para nabi hanyalah orang-orang pandai melakukan keajaiban dan akal-akalan semata.

Namun ketika melihat ajaran Nabi Muhammad telah tersebar luas dan sulit dilawan secara terang-terangan, mereka pun menyusun strategi licik dengan cara memutuskan untuk memeluk identitas kelompok yang menurut pandangan mereka paling mudah dipengaruhi, paling tidak kritis, dan paling mudah menerima hal-hal yang tidak masuk akal, maka Syiah Rafidhah menjadi sasarannya.

Mereka mendekati kelompok ini dengan berpura-pura bersedih atas nasib keluarga Nabi yang mengalami penindasan. Tujuannya agar Syiah Rafidhah bisa dengan leluasa mencela para tokoh awal yang telah mewariskan ajaran Islam. Jika para tokoh itu sudah dipandang buruk dan tidak berharga, maka masyarakat tidak lagi akan mengindahkan ajaran yang disampaikan oleh mereka, sehingga pintu untuk menyesatkan banyak orang menjadi terbuka lebar.

Jika masih ada orang yang berpegang teguh pada makna lahiriah Al-Qur’an dan hadits, mereka akan menyesatkannya dengan cara berkata bahwa makna yang tampak hanyalah kulit luar saja, sedangkan rahasia dan hakikat yang sesungguhnya tersimpan di dalamnya. Orang yang hanya berpegang pada makna lahir dianggap bodoh, sedangkan orang yang mau mengikuti penafsiran batin mereka dianggap cerdas dan berakal. (Ibnul Jauzi, I/125).

Demikian tulisan tentang sejarah kemunculan serta ajaran-ajaran mencolok yang dianut oleh Sekte Bathiniyah. Mulai dari latar belakang terbentuknya kelompok ini, penyebarannya ke berbagai wilayah, hingga paham-paham yang mereka usung dan taktik yang mereka gunakan untuk menyebarkan keyakinannya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.



Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Source link

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...