
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Konflik Israel yang disokong Amerika Serikat (AS) dengan Iran, yang berlarut-larut, membuat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) prihatin. Apalagi perang belum menunjukkan akan berhenti
sepenuhnya dan korban pun terus berjatuhan. Karena itu, jalur diplomasi harus dikedepankan untuk mencari solusi atas konflik di Timur Tengah dan stop perang.
Untuk ikut membantu menghentikan perang di kawasan Teluk, Gus Yahya menemui Duta Besar Amerika Serikat (AS), Peter Mark Haymond, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Sebelumnya, Gus Yahya juga telah menemui Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammed Boroujerdi, di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat.

Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), yang ikut mendampingi Gus Yahya menemui Dubes AS, menjelaskan, bahwa dalam pertemuan tersebut, Gus Yahya mendorong komunikasi yang intens antara Pemerintah AS dan Republik Islam Iran guna segera mengakhiri perang. Pemerintah Amerika perlu segera mengakhiri perang ini dengan jalan apa pun.
” Yang terpenting adalah membangun komunikasi dengan Pemerintah Iran untuk mencari jalan keluar agar konflik ini berakhir,” katanya.
Selain itu, Gus Ulil menyebut Gus Yahya juga menyampaikan kekhawatirannya atas dampak perang yang dinilai sangat merugikan, terutama dari sisi ekonomi.
“Perang ini sangat merugikan karena dampak ekonominya luar biasa. Masyarakat Indonesia berkepentingan agar pemerintah Amerika segera mengakhiri perang ini. Itu aspirasi Gus Yahya yang disampaikan kepada Duta Besar Amerika,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Yahya juga menanyakan sejumlah hal terkait situasi terkini, kepentingan AS, serta arah akhir dari konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran itu.
“PBNU melalui Gus Yahya telah menyampaikan aspirasi sekaligus mendengarkan perspektif Amerika. Kita menunggu perkembangan selanjutnya, apakah konflik ini dapat segera diselesaikan atau tidak,” katanya.
Duta Besar AS, Peter Mark Haymond, menyatakan bahwa pemerintah AS telah melakukan berbagai upaya komunikasi dengan Pemerintah Republik Islam Iran untuk mengakhiri konflik yang masih berlangsung. Ia membenarkan Gus Yahya bahwa dampak perang ini juga dirasakan masyarakàt Indonesia.
“Kami berharap upaya ini dapat membuahkan hasil. Seperti disampaikan Gus Yahya, dampak perang terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di sektor ekonomi, sangat nyata,” katanya.
Hal serupa dilakukan Gus Yahya saat melakukan pertemuan dengan Dubes Iran. Gus Yahya menyampaikan solidaritas dan dukungan moral kepada bangsa Iran atas konflik yang terjadi di kawasan Teluk itu.
“Gus Yahya menyampaikan bahwa hati dan pikirannya tertuju untuk mendoakan bangsa Iran. Beliau berharap perang ini segera berakhir,” kata Ketua PBNU Rumadi Ahmad.

Bukan hanya Dubes AS dan Iran, Gus Yahya juga menyambangi Duta Besar Kerajaan Arab Saudi, Syekh Faisal Abdullah Al-Amudi, di Kantor Kedutaan Kerajaan Arab Saudi, Kuningan, Jakarta.
Gus Ulil menegaskan bahwa Gus Yahya berharap konflik di Timur Tengah dapat segera mereda melalui jalur diplomasi. Menurutnya, tidak ada solusi yang lebih rasional selain dialog antarnegara di kawasan.
“Karena perang ini merugikan semua pihak, PBNU mendorong solusi diplomatik. Kami juga akan mengajak ormas Islam lain serta mendorong pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam upaya penyelesaian konflik di kawasan Teluk,” katanya. (*)
