Digdaya Bukan Proyek IT, tapi Perubahan Cara Kerja 2 Juta Pengurus dari PBNU hingga Ranting

Bagikan:

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) – Ketika kata ‘digitalisasi’ muncul dalam rapat pengurus, reaksi yang paling umum adalah salah satu dari dua hal: antusias berlebihan, atau skeptis diam-diam. Yang antusias membayangkan aplikasi canggih. Yang skeptis bertanya: ini proyek IT-nya tim teknis, atau memang urusan kita semua?

Pertanyaan itu penting. Dan jawabannya menentukan segalanya.

Digdaya NU bukan proyek IT. Bukan dalam arti yang biasanya kita bayangkan bahwa tim pengembang menulis kode, aplikasi jadi, lalu selesai. Digdaya adalah sesuatu yang berbeda secara mendasar yakni perubahan cara NU bekerja, dari ujung ke ujung, dari pusat hingga ranting.

“Sistem secanggih apapun tidak akan berarti jika pengurusnya tidak mau atau tidak mampu menggunakannya.”

Bukan Digitalisasi Dokumen

Selama ini, banyak upaya digitalisasi di organisasi besar terperangkap dalam satu jebakan yakni memindahkan cara kerja lama ke dalam format digital. Surat yang tadinya diketik manual kini diketik di komputer. Arsip yang tadinya di lemari kini di hard disk. Prosesnya sama, hanya medianya yang berubah.

Digdaya tidak seperti itu. Digdaya bukan tentang memindahkan dokumen ke layar. Ini tentang mengubah cara dokumen itu dibuat, dikirim, diterima, dicatat, dan dipertanggungjawabkan. Ini tentang mengubah alur kerja, bukan hanya medianya.

Ketika seorang Sekretaris PCNU membuat surat melalui Digdaya Persuratan, surat itu tidak hanya tersimpan digital. Surat itu langsung tercatat di sistem, nomor surat otomatis berurutan, disposisi bisa dikirim ke pihak terkait tanpa bolak-balik fisik, dan jejak audit tersimpan secara otomatis. Ini bukan digitalisasi dokumen tapi ini perubahan proses kerja.

Tanggung Jawab Seluruh Jajaran

Salah satu pergeseran paling penting yang dibawa Gus Yahya dalam transformasi NU adalah memindahkan tanggung jawab digital dari tim IT ke seluruh jajaran kepemimpinan. Transformasi digital bukan urusan satu divisi. Ini tanggung jawab setiap Ketua, setiap Sekretaris, setiap pemimpin NU di setiap tingkatan. Artinya, keberhasilan Digdaya tidak diukur dari seberapa canggih teknologinya. Tapi dari seberapa banyak pengurus yang mau dan mampu menggunakannya. Dari seberapa jauh sistem ini mengubah cara kerja nyata di lapangan.

Budaya digital harus tumbuh di seluruh jajaran NU, bukan hanya di kantor PBNU Jakarta, tapi di PWNU, di PCNU, di MWC, bahkan hingga di Ranting tingkat desa.

Fondasi untuk Seratus Tahun

Cara termudah untuk memahami Digdaya mungkin bukan dengan melihat fitur-fiturnya, tapi dengan membayangkan NU dua puluh tahun lagi. Sebuah organisasi di mana setiap pengurus baru langsung terdata, setiap keputusan langsung tercatat, setiap program termonitor kemajuannya, dan setiap warga bisa mengakses layanan organisasinya dari ponsel.

Itu bukan mimpi. Itu rencana. Dan fondasi untuk mencapainya sedang dibangun sekarang.
Digdaya bukan proyek yang selesai kalau aplikasinya jadi. Ini fondasi yang terus dibangun. Untuk NU abad kedua. Untuk seratus tahun ke depan. (*)

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...