Guyonan Gus Yahya: Antara Kiai Madura dan Kiai Jateng

Bagikan:

KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memberi gambaran soal keragaman tradisi budaya di Tanah Air dan ajaran agama. Hal itu pula yang menurutnya perlu ada sebuah klasifikasi pada sebuah norma tradisi budaya yang dianut oleh masyarakat.

Tujuannya untuk membedakan antara ajaran agama qath’i yang tidak bisa diganggu gugat atau sebuah budaya yang bersifat dinamis dan masih bisa didiskusikan. Maksudnya, agar tidak rancu satu sama lain.

“Di lingkungan kita yang terdekat saja, kita bisa lihat perbedaan budaya satu sama lain,” kata Gus Yahya suatu ketika saat mengisi sambutan dalam acara Halaqah Fiqih Peradaban dan Bahtsul Masail Kiai dan Nyai Se-Indonesia yang berlangsung di Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Jawa Barat.

Gus Yahya mencontohkan, laki-laki Madura dikenal punya budaya poligami, sedangkan pria di Jawa Tengah tidak demikian. “Apalagi Jawa Tengah pesisir, lebih beda lagi,” tambahnya.

Mengenai hal ini, Gus Yahya punya cerita lucu tentang kiai Madura dan Jawa Tengah. Suatu hari, kata Gus Yahya, ada sebuah kegiatan yang digelar di suatu pesantren di daerah Jawa Tengah pesisir. “Sejumlah kiai-kiai berkumpul di ruang tamu kiai fulan-lah, ndak usah saya sebut nama supaya tidak menimbulkan fitnah,” katanya.

Dari sejumlah kiai dalam forum tersebut, sambung Gus Yahya, ada seorang kiai Madura yang berpoligami, sedangkan kiai Jawa Tengah yang menjadi pribumi ini diketahui hanya punya satu istri. Hal ini kemudian menjadi bahan gojlokan kiai Madura.

“Kalau kiai kita ini, ini memang kiai ‘takwa’, takut sama istri tua. Lah wong sunah Rasul kok ndak berani,” kata Gus Yahya sambil mengucapkannya dengan dialek Madura.

Rupanya, ruang tamu itu dengan ruang tengah hanya disekat dengan tirai kelambu. Ternyata di ruang tengah ada istri kiai pribumi yang mendengar percakapan para kiai, termasuk gojlokan kiai Madura. Saat itu juga sang istri langsung merespons. “Cangkeme sopo iku? Mulutnya siapa itu? Kata nyai fulan,” ucap Gus Yahya yang membuat hadirin tertawa.

Mendengar suara bu nyai fulan itu, kiai Madura pun mengaku bisa jadi masuk jajaran kiai “takwa”. “Aduh kalau begini biar pun saya juga takut. Terus pamitan,” kata Gus Yahya dengan dialek Madura yang lagi-lagi disambut tawa hadirin.

Gus Yahya menegaskan, hal ini menjadi bukti bahwa budaya satu daerah dengan daerah lain belum tentu sama dan budaya bisa bergerak secara dinamis. Di Madura misalnya, perempuan bisa menerima poligami, sedangkan di daerah Jawa Tengah sebaliknya. (nuo)

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...