Wudlu tidak hanya dilakukan sebelum sholat. Beberapa muslim juga melakukan wudlu sebelum membaca Al-Quran, bahkan umat muslim juga dianjurkan berwudlu sebelum tidur. Lalu apa fadilahnya jika berwudlu sebelum tidur. Berikut ulasannya.
Wudlu dapat dikatakan sebagai pintu masuk dalam beribadah. Hampir semua pelaksanaan ibadah menganjurkan wudlu terlebih dulu, meskipun berbeda hukumnya. Di dalam Al-Quran, kewajiban berwudlu ini diperintahkan oleh Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ma’idah (QS. Al-Maidah [5]:6).
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah [5]:6)
Keutamaan yang lain, Rasulullah SAW dalam haditsnya, berkat wudlu, kesalahan dari setiap anggota tubuh yang dibasuh akan berjatuhan. Tak heran, usai berwudlu dan shalat sunat dua rakaat, seseorang seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.
Bahkan, orang yang tidur dalam keadaan suci, disebutkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah, didoakan dan dimintakan ampunan oleh malaikat. Seseorang yang melakukan wudlu sebelum tidur akan dijaga oleh malaikat sampai ia terbangun. Padahal doa malaikat termasuk doa yang mustajab.
“Siapa saja yang bermalam dengan keadaan suci dalam syiar yang suci, maka satu malaikat bermalam bersamanya dalam syiar tersebut. Dan tidaklah dia terbangun satu saat pun di waktu malam kecuali malaikat tadi berdoa: Ya Allah, ampunilah hamba-Mu, fulan. Sebab, ia tidur dalam keadan suci” (HR. Ibnu Hibban).
Orang yang tidur juga digambarkan Rasulullah SAW sebagai orang memiliki beberapa belenggu. Namun, jika ia terbangun dan berwudlu, maka belenggu-belenggu tersebut akan terlepas. Malahan, apa pun yang hajat dan keinginannya akan terkabul.
Rasulullah bersabda, “Dua orang laki-laki dari umatku dimana salah seorangnya bangun malam dan membawa dirinya untuk bersuci, sementara dia terbelenggu beberapa belenggu, kemudian berwudlu. Ketika berwudlu membasuh kedua tangannya, terlepaslah satu belenggu. Ketika berwudlu membasuh wajahnya, maka terlepaslah belenggu lainnya. Ketika berwudlu mengusap kepalanya, maka terlepaslah belenggu lainnya. Ketika membasuh kedua kakinya, maka terlepaslah belenggu berikutnya. Kemudian, Rabb berfirman kepada mereka yang ada di balik hijab, ‘Lihatlah hamba-Ku ini. Ia mengatasi dirinya. Apa pun yang diminta hamba-Ku itu kepada-Ku maka permintaan itu untuknya,’” (HR. Ibnu Hibban).
Sementara dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa wudlu dapat mengangkat derajat seseorang. Dengan catatan, wudlu tersebut ditunaikan dengan sempurna. Pernah suatu ketika, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian atas apa yang membuat Allah menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu, ya Rasul.”
Rasulullah melanjutkan, “Menyempurnakan wudlu di pagi hari yang dingin, bersabar menghadapi perkara yang tidak disenangi, memperbanyak langkah ke masjid, dan menanti shalat setelah shalat. Itulah ribath,” (HR. Muslim). Maksud ribath di sini adalah benteng dari musuh.
Lebih istimewa lagi, ketika seseorang berwudlu dan masih dalam keadaan memiliki wudlu sebelumnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan, sepuluh kebaikan telah menanti orang yang berwudlu dalam keadaan belum batal wudlu. “Siapa saja yang berwudlu dalam keadaan suci, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.”
Bahkan saat beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudlu lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah Bin Abbas RA: “Bahwasaannya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudlu) lalu kembali tidur.” (HR. Al Bukhari No. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan disahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud No. 4217).
Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah SAW ketika hendak tidur yang perlu kita teladani. wallahu a’lam bisshawab. * ris
