JAKARTA – Bursa calon Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) jelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35 tahun ini, mulai memanas. Sejumlah nama calon Ketum pun mulai bermunculan.
Hal ini diakui Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU H Saifullah Yusuf telah muncul sejumlah figur yang memiliki peluang besar bersaing merebut kursi Ketum PBNU dalam Muktamar mendatang. Diantaranya, calon petahanan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.
Bahkan Gus Ipul sapaan akrabnya mengakui potensi Gus Yahya menjabat kembali sebagai Ketum PBNU cukup kuat. “Kalau bicara soal potensi, Pak Nasaruddin Umar berpotensi karena pernah jadi Katib Aam sebelumnya, Gus Yahya dulu juga pernah jadi Katib Aam sebelumnya,” kata Gus Ipul saat dimintai keterangan oleh wartawan di Jakarta, kemarin.
Saat disinggung perihal peluang dirinya maju sebagai caketum, Gus Ipul menyatakan tidak ada niatan. Sebab, ia menilai dirinya belum memenuhi syarat. “Saya udah sampaikan berulang-ulang ya, saya merasa tidak mencukupi syarat untuk bisa jadi ketua umum,” ujar Gus Ipul saat menjadi pembicara di podcast cannel Gaspol Kompas.com.
Meski demikian, lanjut Gus Ipul yang juga Menteri Sosial (Mensos) mengatakan, sejumlah nama-nama yang sudah beredar meramaikan bursa Caketum PBNU adalah sesuatu yang biasa. Pasalnya, nama-nama figur tersebut nantinya yang menentukan adalah muktamirin.
“Kalau nama nama yang sudah beredar, biasalah. Tapi ya tetap pada akhirnya kan (dipilih) muktamirin. Yang jelas, semua nama-nama ini punya kapasitas yang cukup, kecuali saya. Yang pasti NU tidak kekurangan kader lah,” tegasnya.
Di tempat terpisah, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf telah memberikan sinyal kesiapan untuk mencalonkan diri kembali pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama setelah menerima dukungan dari kalangan kiai dan masyayikh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Kamis (7/5/2026) lalu.
Pertemuan yang berlangsung dalam agenda halal bihalal tersebut melibatkan jajaran Syuriah PCNU se-Jawa Timur, PWNU Jawa Tengah, serta DIY, sebagai bentuk penguatan koordinasi organisasi. Dukungan terhadap kepemimpinan petahana semakin menguat saat sesi foto bersama, di mana para masyayikh menyerukan kata “lanjutkan” sebagai bentuk apresiasi atas program transformasi organisasi.
Merespons dorongan untuk melanjutkan masa jabatan periode kedua, Gus Yahya mengungkapkan alasan personalnya terkait tanggung jawab yang masih harus diselesaikan.
“Saya punya utang yang belum lunas dan karena diganggu ya saya misalnya meminta waktu lagi untuk membayar utang saya, ya itu terserah kepada para kiai,” tutur Gus Yahya. ris
