Pupuk Kimia Jadi Ancaman Iklim, Dosen IPB Dorong Revolusi Pertanian Biointensif

Bagikan:

Jakarta, NU Online

Ketergantungan sektor pertanian Indonesia terhadap pupuk kimia dinilai telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan mempercepat krisis iklim. Di tengah ambisi besar mewujudkan kedaulatan pangan nasional, praktik pertanian konvensional justru dinilai menciptakan paradoks karena menyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam jumlah besar.

 

Dosen Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Suryo Wiyono mengatakan bahwa penggunaan pupuk kimia secara masif telah mempercepat kerusakan ekosistem sekaligus memperburuk perubahan iklim global. Menurutnya, sektor pertanian selama ini terlalu bergantung pada pendekatan instan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan.


“Banyak hal yang sebenarnya berpengaruh pada iklim. Pupuk kita sebagian besar pupuk kimia dan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang paling besar,” ujarnya dalam Bicara Iklim #1 bertajuk Perang & EL Nino: Pangan Kita Aman Nggak? pada Jumat (8/5/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa pola pertanian konvensional meningkatnya emisi dinitrogen oksida (N2O) yang dihasilkan dari residu pupuk nitrogen. Gas tersebut memiliki daya rusak ratusan kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam memicu pemanasan global.


Prof Suryo mendorong revolusi pertanian biointensif sebagai solusi berbasis sains yang lebih ramah lingkungan. Konsep tersebut mengedepankan pemanfaatan mikroba dan agensia hayati untuk memperkuat ketahanan tanaman secara alami tanpa ketergantungan berlebihan pada bahan kimia.


“Konsep Biointensif ini menitikberatkan pada pengamatan intensif terhadap ekosistem lahan dan penggunaan mikroba sebagai langkah ‘imunisasi’ sejak tahap benih,” katanya.


Ia menjelaskan bahwa penggunaan bakteri perakaran atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) serta bakteri endofit mampu membantu tanaman menyerap nitrogen alami dari udara sekaligus meningkatkan daya tahan terhadap hama dan penyakit.

 

“Dengan menggunakan bakteri perakaran dan endofit, kita tidak hanya memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit, tetapi juga membantu tanaman melakukan fiksasi nitrogen secara alami langsung dari udara. Ini jauh lebih berkelanjutan daripada menyiram tanah dengan urea secara berlebihan,” tegasnya.

 

Seorang petani di Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta, Etik Linawanti mengungkapkan bahwa pertanian biointensif lebih ramah lingkungan yang terbukti meningkatkan hasil panen sekitar 30 persen.


“Kalau model pertanian seperti ini diperluas, Indonesia bukan hanya bisa menjaga produksi pangan, tetapi juga mengurangi tekanan terhadap lingkungan dan emisi iklim secara signifikan,” ujar Etik.

Source link

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...