Surabaya, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar berupaya istiqamah ngaji bersama jamaahnya meski kesehatannya belum stabil. Mengingat faktor tersebut, rutinan Ngaji kitab Syarah Al-Hikam dalam pertemuan ke-158 berlangsung lebih singkat dibandingkan biasanya.
“Sekarang masih belum sehat, estu (sungguh). Masih menggeh-menggeh (kondisi pernapasan tidak normal), masih lemas, tapi demi ngaji, sebisanya tetap ngaji,” katanya saat memulai Ngaji Kitab Syarah Al-Hikam, dikutip dari kanal Multimedia KH Miftachul Akhyar, Jumat (8/5/2026).
Pada satu pertemuan sebelumnya, pernapasan Kiai Miftah, sapaannya, memang sudah terlihat ada masalah, begitu juga dengan suaranya yang sengau, namun tetap memaksakan ngaji dengan santri dan jamaahnya.
Bagi Kiai Miftah ngaji adalah cara untuk memperoleh sekaligus mendalami ilmu Allah swt yang begitu luas. Karena itu, sepanjang memiliki waktu luang dan kesehatan yang cukup, ngaji tetap akan menjadi salah satu prioritasnya. “Lha ilmu itu bisa dicapai melalui ngaji,” terangnya.
Ngaji menurutnya memang perlu dipaksa, kecuali sudah tidak mampu karena faktor-faktor tertentu. Kiai Miftah juga mengaku beberapa kali meliburkan rutinitas ngajinya, karena faktor kesehatan yang mesti segera ditangani dokter.
“Kemarin libur karena saya masih ada di rumah sakit, pada hari Jumat (24 April 2026). Ya, sebuah nikmat dari Allah yang segera kita ikhtiari,” ucapnya.
Ngaji kali ini berlangsung cukup singkat, kurang dari satu jam semenjak Kiai Miftah membacakan Syarah Al-Hikam. Di penghujung pengajian pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini juga tak membuka pertanyaan untuk jamaahnya.
“Dikit saja ngajinya, yang penting mantap. Di samping kesehatan belum stabil, masih dalam masa-masa pemulihan. Semoga dalam pertemuan selanjutnya bisa ngaji dalam durasi seperti biasanya,” harapnya.
Orang Berilmu, Enteng Hadapi Ujian Hidup
Pada kesempatan ini, Kiai Miftah berpesan kepada jamaahnya agar istiqamah dengan ilmu. Ini penting menjadi bekal dalam menghadapi berbagai ujian di dunia. Ujian tak akan ada habisnya, bahkan hingga di kehidupan berikutnya.
Setiap orang pasti diuji di dunia. Yang membedakan adalah cara masing-masing individu menghadapi ujian tersebut. Orang yang berilmu akan cenderung lebih enteng dan tabah, ia selalu menyadari bahwa segala ujian adalah atas kehendak Allah.
Pada saat yang sama, ia juga percaya bahwa Allah memiliki sifat kasih sayang yang jauh lebih besar dibandingkan dengan ujian yang diberikan kepadanya. Ia bahkan meyakini bahwa di balik setiap ujian terdapat hikmah yang sangat berharga.
“Ini harus kita pahami betul, bahwa oang bisa merasakan ringan dan enteng dalam menghadapi bala atau ujian hanya orang yang berilmu,” tandasnya.
