Ancaman El Nino Menguat, BMKG Ingatkan Risiko Gagal Panen dan Suhu Ekstrem

Bagikan:

Jakarta, NU Online

 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan ancaman El Nino dan anomali iklim tahun ini berpotensi memperparah musim kemarau di Indonesia. Kondisi tersebut dapat memicu krisis air, penurunan produksi pertanian, hingga meningkatnya risiko kesehatan bagi para petani akibat suhu panas ekstrem.

 

Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto mengatakan bahwa pada Februari lalu BMKG sudah memprediksi musim kemarau tahun ini berpeluang dibarengi fenomena El Nino.

 

“Di bulan Februari saat basah-basahnya musim hujan, BMKG sudah memiliki prediksi kapan musim kemarau akan datang. Yang menarik, musim kemarau tahun ini ada potensi dibarengi dengan El Nino,” ujarnya dalam Bicara Iklim #1 bertajuk Perang & EL Nino: Pangan Kita Aman Nggak? pada Jumat (8/5/2026).

 

Ia menjelaskan, kondisi suhu permukaan laut di Samudera Pasifik pada Maret masih berada pada fase netral setelah sebelumnya dipengaruhi La Nina. Namun, pada pertengahan tahun atau awal Juni, kondisi itu diperkirakan beralih menuju fase El Nino.

 

Menurutnya, Samudera Pasifik memiliki tiga fase utama, yakni La Nina, netral, dan El Nino. “La Nina biasanya berasosiasi dengan musim kemarau yang lebih basah di Indonesia. Sebaliknya, ketika El Nino muncul, biasanya memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya,” jelasnya.

 

Siswanto menyampaikan bahwa peluang munculnya El Nino berada pada kisaran 50 hingga 60 persen dengan kategori lemah hingga moderat. “Saat ini, pembaharuan data peluang tersebut meningkat menjadi 70 hingga 90 persen. Jadi, sepertinya kita yakin El Nino datang beneran,” ucapnya.

 

BMKG belum menyimpulkan El Nino tahun ini akan masuk kategori ekstrem seperti yang ramai disebut sejumlah pihak sebagai “super El Nino” atau bahkan “Godzilla El Nino”.

 

“BMKG tetap mengacu pada standar operasional. Sampai saat ini, prediksi El Nino masih berada pada kategori lemah hingga moderat,” tegas Siswanto.

 

Ia mengingatkan dampak terbesar berpotensi terjadi di sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau dapat menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga 35 sampai 50 persen, bahkan memicu gagal panen di sejumlah daerah.

 

Selain itu, anomali suhu juga menjadi ancaman serius. Siswanto mencontohkan suhu maksimum harian di Indramayu, Jawa Barat pada 2015 pernah mencapai 39,9 derajat Celsius. Tren kenaikan suhu siang hari maksimum bahkan tercatat meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius setiap 10 tahun.

 

“Ini mengkhawatirkan petani. Kalau mereka harus bekerja di sawah dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius, risiko heat stroke meningkat dan kemampuan bekerja menurun,” katanya.

Source link

spot_img

Related articles

PBNU Gelar Pleno 21 Mei 2026 Putuskan Munas-Konbes & Muktamar ke-35, Gus Yahya: Jangan Ada Kepentingan Politik!

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan jadwal...

PBNU Akan Gelar Pleno pada 21 Mei 2026, Putuskan Pelaksanaan Munas-Konbes

https://youtu.be/fEUN9VSlq4U?si=6aFR1P7MDPZKdqZ0 PBNU akan menggelar Rapat Pleno pada tanggal 21 Mei 2026 untuk memutuskan waktu penyelenggaran Munas Alim Ulama dan...

PW Ansor Kepri dan Kapolda Komitmen Pererat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

KEPRI (SuaraNahdliyin.id) - Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dengan Kapolda Kepri, Asep...

Nobar Film ‘Pesta Babi’ di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Ada Apa?

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dibubarkan paksa...