Rembang, NU Online
Kondisi ekonomi yang lesu tahun ini berdampak besar terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Rembang. Penurunan daya beli masyarakat, kenaikan harga bahan baku, hingga minimnya kegiatan pemasaran membuat para pelaku usaha harus memutar strategi agar tetap bertahan.
Widya Wijaya Ismoe, pelaku UMKM produk olahan ikan Keriyes asal Rembang, mengaku usahanya mulai terdampak sejak kondisi ekonomi global memburuk. Menurutnya, melemahnya daya beli masyarakat di dalam negeri turut memengaruhi penjualan produknya.
Ia menyebut ketidakpastian ekonomi mulai terasa sejak muncul konflik internasional antara Iran dan Amerika Serikat. Dampaknya, harga bahan baku dan kemasan mengalami kenaikan drastis. Selain itu, distribusi juga terkendala akibat harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus meningkat.
“Di dalam negeri sendiri daya beli menurun. Belum lagi situasi konflik global, sehingga akhirnya berpengaruh terhadap ekonomi,” ujar Widya kepada NU Online, Kamis (7/5/2026).
Widya mengatakan pasar domestik saat ini terlihat lesu. Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia mencoba melakukan diversifikasi pasar dengan memanfaatkan peluang kebutuhan lauk dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, menurutnya, program tersebut masih dipenuhi ketidakpastian.
“Saya mencoba mencari peluang di program MBG, namun ternyata juga penuh ketidakpastian karena belum ada tata kelola yang baik. Mereka mencari supplier sendiri-sendiri dan harga ditekan, sehingga kami merasakan kegelisahan dan ketidakpuasan,” imbuhnya.
Ia mengaku penurunan omzet mulai dirasakan sejak 2025 hingga menjelang Lebaran 2026. Jika sebelumnya omzet usahanya dapat meningkat hingga tiga kali lipat, kini hanya sekitar dua kali lipat dan kondisi itu berlanjut hingga tahun ini.
Selain itu, Widya juga menyoroti berkurangnya pembelian dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) yang selama ini menjadi salah satu konsumen potensial UMKM, terutama saat kegiatan bazar kuliner yang diselenggarakan pemerintah daerah.
“Biasanya kami tertolong oleh event dinas dari pemerintah kabupaten. Sekarang pembelian juga berkurang, termasuk dari PNS yang dulu menjadi pembeli potensial,” terangnya.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM semakin gelisah. Bahkan, ia pernah mengalami pembatalan pesanan saat produk sudah selesai diproduksi sehingga harus disimpan kembali untuk dijual ulang.
Untuk mengurangi risiko kerugian, Widya kini mengubah strategi stok barang. Jika sebelumnya menyiapkan stok dalam jumlah besar, kini ia lebih membatasi produksi berdasarkan permintaan pasar.
“Kalau dulu stok produk saya bisa sampai 100, sekarang saya kurangi. Selain itu, manajemen stok juga saya minimalisasi,” tambah Widya.
Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, Widya terus mencari peluang lain, termasuk melakukan pemasaran di pasar ekspor. Ia mengaku mulai mengikuti kegiatan ekspor ke luar negeri sembari memperluas jaringan pemasaran melalui reseller dan platform e-commerce.
Namun, ia menyayangkan minimnya event pameran dan promosi yang sejak tahun lalu hingga kini hampir tidak ada. Padahal, kegiatan tersebut dinilai penting untuk memperluas pangsa pasar UMKM.
Senada dengan itu, Ummi, pelaku UMKM produk Akar Jawi asal Sidorejo, Pamotan, Rembang, menyampaikan bahwa pengaruh efisiensi anggaran dan kondisi global sangat menghambat keberlangsungan pelaku usaha kecil dalam dua tahun terakhir.
“Yang paling terasa adalah penurunan pembeli karena orang-orang sekarang lebih memilih menyimpan uang untuk tabungan jangka panjang sehingga mengurangi belanja,” ucap Ummi kepada NU Online, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku juga memaksa pelaku usaha menaikkan harga jual produk. Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran operasional agar usaha tetap berjalan.
Untuk bertahan, ia memilih fokus menjaga kepercayaan pelanggan dengan memastikan kualitas produk tetap terjaga. Sistem produksi pun diubah menjadi lebih efisien melalui pembatasan stok dan penerapan sistem pre-order (PO) agar bahan baku tidak banyak terbuang.
“Kami selalu ingin produk tetap fresh, jadi sering membatasi stok dan menggunakan sistem PO,” tandasnya.
Ummi juga mengurangi intensitas pemesanan bahan baku dan memperkuat penjualan secara langsung maupun daring. Menurutnya, penjualan online menjadi salah satu cara agar usaha tetap berjalan di tengah penurunan minat pasar.
Meski demikian, ia tetap optimistis. Jika kondisi ekonomi membaik, ia berencana memperluas usaha dengan melengkapi perizinan agar jangkauan pemasaran produknya semakin luas.
