Gus Yahya Ingin NU Jadi ‘Active Player’ di Isu Strategis Global, Bukan Pendukung Agenda Pihak Lain

"Maka saya berpikir bahwa kita harus berusaha menjadi active player di dalam percaturan internasional. Kita harus menawarkan inisiatif dan menawarkan gagasan-gagasan terkait berbagai macam isu yang dipertarungkan. Itu juga membutuhkan positioning di dalam konstelasi internasional," kata Gus Yahya menguraikan gagasannya.

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti pergeseran identitas ke-NU-an yang semakin cair di tengah masyarakat Indonesia. Gus Yahya menekankan perlunya mendefinisikan kembali NU di tengah tantangan zaman yang berubah.

“Bahwa saat ini batas-batas sosial dan kultural yang dulu menandai warga NU telah mengalami peleburan yang signifikan. Selain peleburan kultural, juga data lonjakan drastis masyarakat yang mengaku sebagai warga NU secara eksplisit,” kata Gus Yahya dalam acara “Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU” di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Menurut Gus Yahya, Gus Dur pada tahun 80-an memperkenalkan wacana tentang pesantren sebagai subkultur dan sekarang sudah enggak ada karena batas sosial, batas kultural sudah hilang semua. “Sudah lebur,” katanya.

Merujuk pada berbagai survei, angka populasi Muslim yang mengaku NU meningkat dari sekitar 27 persen pada tahun 2005 menjadi sekitar 57,2 persen pada tahun 2024. “Ini luar biasa. Bayangkan dalam waktu hanya 18 tahun,” katanya.

“Lalu NU dipersepsikan sebagai barang apa sekarang? Sementara, ya, kita menyadari realitas kehidupan NU sendiri itu juga mengalami perubahan-perubahan,” sambungnya.

Menurut tokoh yang pernah menjadi juru bicara Gus Dur ini, kalau struktur tidak bisa menjadi rujukan dari ta’rif NU, maka justru struktur ini yang kemudian larut ke dalam persepsi ke-NU-an yang awam di tengah-tengah masyarakat luas.

“Dan itu secara kultural sudah mulai terjadi. Maka itu yang saya tawarkan ketika saya mencalonkan diri di Lampung, bahwa saya ingin melakukan konsolidasi struktural dengan mentransformasikan model struktural NU dari model kasual menjadi model yang lebih formal,” tambahnya.

Mengenai dinamika politik domestik, Gus Yahya menegaskan komitmen NU untuk tetap berada pada jalur Khittah, yakni menjaga jarak dari politik kekuasaan. Hal ini didasari data bahwa pemilih NU tersebar luas di berbagai partai politik, mulai dari Gerindra, PDIP, Golkar, hingga PKB.

“Saya berpikir untuk memperkuat apa yang sudah dihasilkan Muktamar ke-27 di Situbondo untuk kembali ke Khittah dengan menaruh NU dari semua kontestasi politik kekuasaan dan menempatkan NU sebagai buffer dari sistem politik ketika melakukan engagement dengan masyarakat,” paparnya.

Sementara itu di kancah internasional, Gus Yahya memproyeksikan NU sebagai pemain aktif yang memberikan solusi atas isu-isu global, bukan sekadar pendukung agenda pihak lain.

“Maka saya berpikir bahwa kita harus berusaha menjadi active player di dalam percaturan internasional. Kita harus menawarkan inisiatif dan menawarkan gagasan-gagasan terkait berbagai macam isu yang dipertarungkan. Itu juga membutuhkan positioning di dalam konstelasi internasional,” kata Gus Yahya menguraikan gagasannya.

Sementara itu, di sisi lain, Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta, KH Endin AJ Soefihara, turut memberikan catatan mengenai syarat ideal menjadi Ketua Umum PBNU yang mencakup aspek keilmuan, spiritualitas, hingga logistik.

“Jadi, Ketua Umum PBNU itu kan syaratnya memiliki kapasitas keilmuan, terkenal, lalu spiritualitasnya tinggi. Itu kan syarat yang pertama. Syarat yang kedua itu punya logistik. Itu baru syarat Ketua Umum PBNU,” kata KH Endin.

“Cuma untuk terkenal dan punya spiritual dan punya logistik, itu celakanya harus jadi Ketua Umum PBNU dulu,” selorohnya.

Jadwal Lengkap

Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) secara resmi merilis jadwal kegiatan Muktamar NU yang berlangsung di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada tanggal 27-31 Agustus 2026. Jadwal tersebut disampaikan PBNU melalui surat Nomor 970/PB.02/A.I.01.47/99/08/2026 tertanggal 23 Agustus 2026 ditandatangani oleh Rais Syuriyah PBNU Prof Mohammad Nuh beserta Katib Aam PBNU Akhmad Said Asrori.

Sesuai jadwal dalam surat itu, Muktamar NU akan dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto pada Kamis malam, 27 Agustus 2026 di Lapangan Untung Suropati. Dalam surat tersebut, PBNU juga menyampaikan sejumlah ketentuan teknis pelaksanaan Muktamar kepada PWNU, PCNU, dan PCINU.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan Muktamar, registrasi peserta dan pengambilan ID Card dari unsur PWNU, PCNU, dan PCINU mulai dilayani pada Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB. Registrasi berlangsung di kompleks Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah Bahrul Ulum.

Setiap utusan PWNU, PCNU, dan PCINU juga diwajibkan memastikan QR Code konfirmasi pendaftaran atau pembaruan data kepesertaan telah valid sesuai Surat Keputusan PBNU yang berlaku serta telah diverifikasi Sekretariat Panitia Muktamar ke-35 NU.

Berikut Agenda Lengkap Muktamar ke-35 NU Pembukaan:

Pada hari Pertama, Kamis 27 Agustus 2026

Pembukaan Muktamar NU bertempat di Lapangan Untung Suropati. Seremoni tersebut diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon, kemudian pembukaan, pembacaan ayat Al-Qur’an dan sholawat, serta ucapan selamat datang dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Acara dilanjutkan sambutan Shohibul Bait (tuan rumah), laporan Ketua Panitia Muktamar ke-35, serta penyerahan draf materi Muktamar dari Ketua Panitia kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Selanjutnya, Ketua Umum PBNU menyampaikan sambutan, kemudian Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan khutbah iftitah. Amanat Presiden RI Prabowo Subianto yang dilanjutkan dengan pembukaan Muktamar NU ke-35 dijadwalkan menjadi bagian akhir seremoni sebelum doa penutup.

Sidang pleno dan komisi Hari kedua

Jumat 28 Agustus 2026 agenda Muktamar memasuki persidangan. Sidang Pleno I berlangsung pukul 08.00-11.00 WIB di Ruang Pleno Halaman GSG. Sidang tersebut membahas dan mengesahkan jadwal serta tata tertib Muktamar ke-35 NU. Sidang dipimpin KH Ahmad Said Asrori dan Prof H Mohammad Nuh.

Sidang Pleno II berlangsung pukul 13.30-17.00 WIB. Agenda utamanya meliputi laporan pertanggungjawaban (LPJ) PBNU, pandangan umum atas LPJ PBNU, serta jawaban atas pandangan umum LPJ PBNU.

Pada malam hari, pukul 19.00-22.30 WIB, peserta akan mengikuti sidang-sidang komisi yang terdiri atas enam komisi yakni Komisi A membahas Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Waqi’iyyah yang berlokasi di Halaman MAN 3.

Komisi B membahas Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudlu’iyyah yang bertempat di Aula Ma’had Aly.

Komisi C membahas Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Qonuniyyah berlokasi di Aula Madrasah Fatah Hasyim.

Sementara itu, Komisi D membahas organisasi bertempat di Aula GSG.

Komisi E membahas program berada di Aula Kampus IAIBAFA.

Komisi F membahas rekomendasi di Aula Unwaha.

Pembahasan hasil komisi hingga pemilihan

Pada hari ketiga, Sabtu 29 Agustus 2026 agenda Muktamar dilanjut dengan Sidang komisi berlanjut pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 08.00-12.00 WIB. Setelah istirahat, shalat, dan makan, agenda dilanjutkan dengan Sidang Pleno III pada pukul 13.30-15.00 WIB. Sidang ini membahas laporan dan pengesahan hasil sidang-sidang komisi.

Selanjutnya, Sidang Pleno IV digelar pukul 15.30-17.30 WIB. Agenda sidang meliputi pengesahan tata tertib pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum, serta tabulasi usulan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) bertempat di Ruang Pleno halaman GSG.

Agenda penting Muktamar berlanjut pada Sidang Pleno V yang berlangsung pukul 19.30-23.30 WIB. Sidang tersebut mencakup demisioner Pengurus PBNU masa khidmah 2021-2026, pemilihan dan penetapan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), sidang tertutup anggota AHWA dan pengesahan Rais Aam masa khidmah 2026-2031, pemilihan Ketua Umum masa khidmah 2026-2031, serta penetapan formatur.

Penutupan Muktamar

Hari berikutnya, Minggu 30 Agustus 2026 rangkaian Muktamar memasuki agenda penutupan. Seremoni penutupan dijadwalkan berlangsung pukul 08.30-10.15 WIB di Ruang Pleno Halaman GSG. Acara penutupan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sholawat, laporan panitia serta penyerahan hasil Muktamar.

Selanjutnya, Shohibul Bait menyampaikan sambutan, kemudian Ketua Umum PBNU terpilih masa khidmah 2026-2031 menyampaikan sambutan. Rangkaian ditutup dengan sambutan Rais Aam PBNU terpilih masa khidmah 2026-2031 sekaligus penutupan acara Muktamar NU ke-35, sebelum diakhiri doa penutup.

Setelah seremoni penutupan, pada pukul 10.15-12.00 WIB dijadwalkan konferensi pers dengan Rais Aam dan ketum PBNU terpilih. (jok)