Nasirun Dakwah bil Kopiah

Nasirun menempelkan karya pada apa saja, bukan cuma kanvas. Mobil mewah, tas mewah, tembok, meja, helm, kursi, kaca, motor, jaket, koran, kartu pos, kertas surat, setrika, sabuk, layang-layang, batok kelapa, dokar, wayang, beragam alat musik dan masih ratusan atau bahkan ribuan benda-benda.

Oleh Hamzah Sahal

AKHIR Juli 2023, saya ke rumah almarhum pelukis Nasirun. “Kopiah sampean ditinggal aja. Nanti saya tukar,” begitu katanya, dengan suaranya yang agak bindeng seperti dibuat-buat. Permintaan itu meluncur begitu saja, tanpa ba-bi-bu, tanpa saya tahu konteksnya apa. Padahal saya masih di serambi rumah dan baru selesai mengucapkan salam. Setelah duduk di kursi belakang rumah, saya taruh kopiah bermerek Awing di meja yang panjang itu, tempat semua orang menumpahkan berbagai macam cerita.
u
“Mahal loh ini, Mas, dan ndak muat kalau dipakai sampean,” kataku. Mas Nasirun merespons dengan bangkit, masuk ke dalam, sambil ketawa terbahak-bahak. Saya jelas tidak tahu, adegan apa yang sedang dipertontonkan. Tidak lama kemudian, dia datang lagi dengan kedua tangan penuh kotak-kotak, juga sambil tertawa terbahak-bahak.

Dia meletakkan lalu membuka semua kotak itu, dikeluarkan satu-satu, dijejerkan. Ya Allah, kopiah dengan yang sudah penuh coretan. “Mahal ini, Pak Sahal,” katanya sambil tertawa.

Saya pulang membawa 5 kopiah, kopiah punya saya ditinggal, diminta oleh Mas Nasirun. “Buat siapa terserah Pak Sahal,” katanya. Salah satunya saya kasih ke Gus Yahya dan langsung dipakai minta difotoin dan sampaikan salam kepada Mas Nasirun. Foto ini saya kirimkan melalui Mba Ila, istri Mas Nasirun.

Nasirun menempelkan karya pada apa saja, bukan cuma kanvas. Mobil mewah, tas mewah, tembok, meja, helm, kursi, kaca, motor, jaket, koran, kartu pos, kertas surat, setrika, sabuk, layang-layang, batok kelapa, dokar, wayang, beragam alat musik dan masih ratusan atau bahkan ribuan benda-benda.

Yang tidak tertinggal adalah benda-benda yang akrab di komunitas Islam Tradisional, pesantren. Katakanlah NU. Ketika ulang tahun ke-50, Nasirun merayakannya dengan pameran bertajuk Rubuh-Rubuh Gedang yang kontroversial itu tahun 2013. Saya mengajak Nawa yang baru berumur 2/3 tahun. Salah satu yang dipamerkan bedug yang sudah “diselimuti” coretan dengan warna-warna yang dinamis dan mencolok (orange sangat menonjol dalam karya-karyanya).

Rehal, musola, rebana, tak luput dia “gambar”. Di studionya masih bergelantungan fiber berbentuk batok kelapa yang sudah dibubuhi kaligrafi al-Asmaul Husna.

Terakhir, karyanya menempel di kopiah. Beda dengan bedug yang hanya pajangan. Karyanya pada kopiah fungsional, bisa dipakai jalan-jalan, shalat, pertemuan, dll. Sepertinya, selain karya seni yg fungsingnya abstrak, almarhum Nasirun ingin karyanya dipakai/dinikmati orang awam yang jauh dari dunia seni rupa. Dan Nasirun menemukan kopiah sebagai medium. Konon dia melukis 1000 kopiah yang dibagikan dan dijual.

“Satu juta ini, Pak Sahal,” katanya, lagi-lagi sambil ketawa. “Dakwah bil Kopiah,” begitu saya menyebutnya. Dia mensyiarkan lukisan pada kiai-kiai melalui kopiah yang setiap hari dikenakan, sementara orang yang tidak biasa pake kopiah, mengenakannya karena ada karya Nasirun di sana. Subhanallah! (*)