Oleh: Dony Lesmana

NU bukan sekadar struktur PBNU, PWNU dan PCNU. NU hidup karena khidmah warga di ranting, pesantren, masjid, madrasah dan tengah masyarakat.
Isu pengkondisian PWNU dan PCNU untuk mendukung calon tertentu juga menjadi perhatian. Konsolidasi tentu wajar. Tetapi jika berubah menjadi tekanan atau upaya mengunci pilihan, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pemilihan, melainkan marwah NU.
Lebih sensitif lagi adalah isu politik uang. Isu ini tetap harus menjadi alarm karena menyangkut integritas suara dan amanah Muktamar.
Sikap yang paling sehat adalah transparan, membuka ruang klarifikasi, dan memastikan pemilihan berjalan sesuai aturan. Muktamar harus sah secara prosedural sekaligus bermartabat secara moral.
Muktamar NU 2026 Bukan Arena Transaksi
Jika benar ada pembelian dukungan, persoalannya bukan berapa nominalnya. Pertanyaannya: apakah suara yang dibeli masih bisa disebut amanah?
NU dibangun oleh para kiai dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka tidak mendirikan NU untuk memperebutkan fasilitas, jabatan atau keuntungan pribadi.
KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU, mewariskan nasihat yang sederhana tetapi dalam: “Jangan mencari hidup di NU, tapi hidupilah NU.”
Pesan itu relevan untuk semua pihak: calon, pendukung, pemilik suara, dan peserta Muktamar. Jabatan seharusnya menjadi alat untuk memperluas kemanfaatan, bukan tujuan mencari keuntungan.
Petuah Muassis NU: Jaga Persatuan
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari juga mewariskan pesan tentang persaudaraan, kerukunan dan persatuan. Karena itu, perbedaan pilihan dalam Muktamar tidak boleh berubah menjadi permusuhan.
Muktamar bukan perang. Muktamar adalah musyawarah besar keluarga NU. Siapa pun yang terpilih harus merangkul semua pihak, sementara yang berbeda pilihan harus tetap menjaga persaudaraan.
Bahkan salah satu wasiat beliau masyur dan kerap dikutip : “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santri ku dan aku do’akan keluarganya Husnul khotimah”.
Pesan tersebut mengandung makna mendalam, mengurus NU seharusnya dipandang sebagai khidmat, bukan kendaraan untuk mengejar keuntungan pribadi.
Jangan Lupakan Ranting NU
Di tengah perebutan dukungan di tingkat atas, jangan lupakan ranting NU.
Di sinilah nasihat Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid menjadi relevan.
Dalam sebuah kesempatan ketika penulis sowan bersama PRNU Cipayung, Depok, beliau mengingatkan pentingnya merawat dan membesarkan ranting NU.
“Ranting bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ranting menjadi salah satu ujung tombak yang merawat hubungan NU dengan warga.”
Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid merupakan putri KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Kiprahnya di NU selama ini juga menunjukkan perhatian terhadap penguatan khidmah dan kaderisasi.
Pesannya sederhana: khidmah bukan hanya terlihat di tingkat pusat, tetapi hadir di tengah masyarakat.
Ranting bersentuhan langsung dengan warga. Di sanalah pengajian, kegiatan sosial, tradisi keagamaan dan kepedulian kepada masyarakat dirawat.
Karena itu, kemenangan di tingkat pusat tidak banyak berarti jika ranting justru melemah dan warga merasa semakin jauh dari jam’iyah.
Dari Tambakberas, Kembalikan NU kepada Ruh Khidmah
NU tidak kekurangan tokoh, kader atau gagasan. Yang dibutuhkan adalah ketulusan untuk kembali kepada ruh organisasi: khidmah, persaudaraan, ilmu dan kepedulian kepada umat.
Biarkan gagasan dan rekam jejak diuji. Konsolidasi boleh dilakukan, tetapi jangan sampai dukungan berubah menjadi tekanan, pengkondisian atau transaksi.
Muktamar NU ke-35 di Tambakberas harus menjadi bukti bahwa NU mampu menyelesaikan kontestasi internal secara dewasa dan bermartabat.
Harapan untuk Muktamar NU ke-35
Tambakberas bukan sekadar lokasi Muktamar. Di tempat yang lekat dengan tradisi pesantren ini, nahdliyin seharusnya kembali mengingat bahwa NU lahir dari ikhtiar para ulama untuk menjawab persoalan umat dan bangsa.
Jangan sampai setelah Muktamar hanya tersisa pemenang dan pihak yang merasa dikalahkan. Yang harus lahir adalah kepemimpinan yang mampu merangkul semua.
Setelah pemilihan selesai, pekerjaan NU jauh lebih besar: pendidikan, pesantren, ekonomi umat, kaderisasi, generasi muda, teknologi dan masa depan Indonesia.
Maka jangan habiskan energi NU hanya untuk berebut kursi. Kursi kepemimpinan sementara, khidmah jauh lebih panjang.
Siapa pun yang terpilih sebagai Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam harus membuktikan bahwa amanah Muktamar digunakan untuk memperkuat NU dan memberi manfaat kepada umat.
Ukuran keberhasilan bukan hanya jumlah suara, tetapi seberapa kuat ranting, pesantren, pendidikan dan ekonomi umat. Para muassis telah mewariskan semangat menghidupi NU, bukan berebut keuntungan dari NU.
Semoga dari Tambakberas lahir keputusan yang jernih, kepemimpinan yang teduh dan Muktamar yang bermartabat.
NU bukan milik satu calon. NU adalah amanah para muassis dan rumah besar warga nahdliyin.
* Penulis adalah Jurnalis dan pemerhati NU

