TULUNGAGUNG — Dalam ceramahnya yang bernas dan sarat nilai-nilai esensial keislaman, Kiai Syafi’ mengupas tuntas pentingnya menjaga keselarasan antara kondisi batin (hati) dan amal perbuatan lahiriah sebagai kunci utama keselamatan manusia menuju surga Allah SWT.
Dua Pilar Utama: Memperbaiki Hati dan Perbuatan
Mengawali pengajiannya, Kiai Syafi’ mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa memanjatkan doa agar diri beserta keluarga dan keturunan dijadikan golongan hamba yang senantiasa mendapat petunjuk-Nya. Beliau menegaskan bahwa untuk bisa selamat hingga menginjakkan kaki di surga kelak, ada dua hal fundamental yang wajib diperbaiki secara bersamaan oleh setiap Muslim.
“Untuk bisa selamat dan sampai ke surga Allah SWT, ada dua hal utama yang harus kita perbaiki: yang pertama adalah hati kita, dan yang kedua adalah amal perbuatan kita,” ujar Kiai Syafi’ di hadapan para santri.
Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap hipokrit “tampak baik secara penampilan luar, namun menyimpan keburukan di dalam hati” (ketok e njabane apik, nanging jeroane elek). Keselamatan hakiki hanya akan didapatkan oleh mereka yang memiliki kebersihan hati yang sejalan dengan keluhuran amal perbuatan lahiriahnya.
Bahaya Terbesar dari Anggota Tubuh: Lisan dan Tangan
Memasuki inti kajian, Kiai Syafi’ mengutip sebuah kaidah penting mengenai urgensi pengawasan diri (muraqabah):
إِنَّ مِنْ أَهَمِّ الْمُهِمَّاتِ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ مُرَاقَبَةَ قَلْبِهِ وَجَوَارِحِهِ
Inna min ahammil muhimmat ‘ala kulli mu’minin muraqabatu qolbihi wa jawarihihi
bahwa perkara terpenting bagi seorang mukmin adalah menjaga hati serta seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa.
Beliau menyoroti berbagai penyakit hati yang kerap menjangkiti manusia, mulai dari sifat sombong (gumede), dengki, iri, rasa benci, hingga dendam kesumat. Tidak hanya hati, pengawasan terhadap anggota tubuh bagian luar seperti mata, telinga, tangan, dan kaki juga menjadi sorotan tajam.
Dengan gaya penyampaian khasnya yang membumi dan interaktif, Kiai Syafi’ mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga lisan dan tangan mereka.
“Jagalah tanganmu, jangan sampai mengambil barang atau hak orang lain. Apa pun yang kita ucapkan dan lakukan di dunia ini, semuanya pasti ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT,” tegas beliau.
Inovasi Pesantren: Menuju Era Sistem Nontunai (Cashless)
Menariknya, dalam kesempatan tersebut Kiai Syafi’ juga menyampaikan hasil musyawarah bersama jajaran pengurus pondok pesantren. Mengantisipasi potensi pelanggaran kecil seperti hilangnya uang tunai di lingkungan santri, pihak pesantren berencana menggulirkan inovasi sistem keuangan berbasis digital atau nontunai (cashless) pada bulan-bulan mendatang.
Nantinya, setiap santri akan dibekali kartu khusus—mirip kartu e-toll yang terintegrasi dengan kartu tanda santri dan dilengkapi kode sandi (password) pribadi masing-masing. Langkah progresif ini dinilai efektif untuk mendidik kedisiplinan modern sekaligus meminimalisir celah perbuatan tercela di lingkungan santri.
Refleksi Mendalam: Kisah Haru di Rumah Sakit dan Hakikat Syukur Nikmat
Sebagai puncak refleksi, Kiai Syafi’ memaparkan renungan tentang betapa besar nikmat kesehatan yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia. Beliau menceritakan sebuah kisah nyata tentang seorang pengusaha sukses (CEO) berusia lanjut yang mengalami sakit parah dan harus menjalani operasi di rumah sakit bertaraf VIP.
Setelah melalui proses perawatan intensif dan operasi yang memakan biaya hingga Rp80 juta, sang anak dengan sigap melunasi seluruh tagihan medis tersebut. Namun, yang mengejutkan, sang ayah justru menangis tersedu-sedu di hadapan dokternya.
Ketika ditanya mengapa ia menangis padahal biaya pengobatan telah lunas dibayar, sang ayah menjawab dengan penuh haru: “Aku menangis bukan karena persoalan uangnya. Aku menangis karena menyadari, dokter ini baru melancarkan pencernaan atau ambeyenku sekali saja biayanya sudah mencapai 80 juta rupiah. Lantas, betapa luar biasanya Allah SWT yang telah melancarkan fungsi tubuhku, menyehatkan mataku, telingaku, dan organku selama puluhan tahun secara gratis tanpa pernah meminta bayaran sedikt pun padaku!”
Kisah tersebut menyentuh hati para jemaah yang hadir. Kiai Syafi’ mengingatkan bahwa seluruh anggota tubuh—mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki—adalah kenikmatan agung dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Persaksian Anggota Tubuh di Hari Kiamat
Mengutip ayat suci Al-Qur’an, beliau mengingatkan bahwa di hari akhir kelak, seluruh pancaindra dan anggota tubuh manusia akan menjadi saksi bisu atas apa yang diperbuat semasa hidup di dunia (Al-yawma nakhtimu ‘ala afwahihim wa tuklamuna aidihim wa tasyhadu arjuluhum bima kanu yaksibun). Pada hari kiamat, mulut manusia akan dibungkam, sementara tangan, kaki, dan kulit mereka sendiri yang akan berbicara melaporkan segala amal perbuatan secara jujur.
Oleh karena itu, Kiai Syafi’ berpesan agar para santri dan jemaah senantiasa merawat memori, pandangan, pendengaran, dan langkah kaki dengan hal-hal yang diridaikecil kemungkinannya mendatangkan murka Allah. Beliau juga berpesan agar umat Islam menjauhi penyakit ragu (rayb) serta penyakit dendam batin, dan senantiasa mensyukuri nikmat dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk beribadah kepada Allah SWT (Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun).
Pengajian ditutup dengan pembacaan doa bersama dan lantunan shalawat yang menggema khidmat di seluruh penjuru Masjid PP Darunnajah, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh jemaah yang hadir malam itu. * Kang Yanu

