JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Presidium Pusat Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) 2026 di Hotel The Grove Suites by Grand Aston, Jakarta Selatan, Jumat (7/8/2026). Dalam acara itu, juga diisi diskusi panel bersama yang menghadirkan calon Ketua Umum PBNU.
Acara yang diikuti 11 tokoh yang masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU itu mengusung tema “Kepemimpinan NU yang Adaptif terhadap Perubahan Sosial: Revitalisasi Spirit Al-Muhafadhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah.”
Tokoh yang hadir dalam diskusi panel tersebut yakni KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Yusuf Chudlori, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Abdussalam Shochib, KH Masykuri Abdillah, Hery Haryanto Azumi, KH Ali Masykur Musa, dan KH Marsudi Syuhud.
Ketua Presidium Pusat MA IPNU, Prof H M Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan bahwa seluruh nama yang muncul di publik sebagai bakal calon pimpinan PBNU menunjukkan komitmen untuk berdiskusi bersama alumni IPNU.
“Alhamdulillah, 11 nama yang muncul di publik, baik yang sudah keliling bersilaturahmi maupun yang mendatangi langsung pengurus cabang, semuanya berkomitmen untuk hadir dan berdiskusi,” ujarnya.
Ni’am mengatakan, sebagian tokoh hadir secara langsung dalam forum tersebut, sementara lainnya mengikuti diskusi secara daring. Di antaranya KH Marsudi Syuhud dan Hery Haryanto Azumi yang hadir langsung, serta KH Abdul Ghaffar Rozin yang bergabung melalui Zoom karena sedang berada di luar kota.
Menurutnya, Muktamar ke-35 NU tidak semestinya hanya dipandang sebagai ajang kontestasi figur. Lebih dari itu, Muktamar menjadi momentum untuk mempertemukan dan menguji gagasan mengenai masa depan NU.
“Muktamar bukan sekadar soal kandidasi, tapi kontribusi pemikiran dan ide bagi NU abad kedua. Jika kita ingin melihat NU Abad Kedua gemilang, itu berada di tangan kesiapan kader-kader muda hari ini,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU Prof Mohammad Nuh mengapresiasi inisiatif MA IPNU melaksanakan agenda tersebut. Prof Nuh mengingatkan seluruh pihak agar menjaga keutuhan dan marwah organisasi di tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU.
“Muktamar ke-35 ini adalah muktamar pertama di tahun yang pas memasuki abad kedua NU. Kompetisi harus disikapi dengan adem dan sejuk,” pungkasnya. (nuo/nhr)

