Gus Yahya Yakin Muktamar NU Akan Tenang-Gembira Asal Tidak Ada yang ‘Aneh-aneh’!

Gus Yahya secara khusus menyoroti wacana pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang belakangan menjadi perbincangan di kalangan warga Nahdliyin. Menurutnya, PCNU perlu cermat dalam memilih kiai-kiai yang benar-benar memiliki kapasitas dan maqam (kedudukan) yang layak sebagai AHWA.

BENGKULU (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), meyakini bahwa Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Tambakberas, Jombang, berlangsung dengan suasana aman, sejuk dan gembira, dengan syarat tidak ada pihak yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan atau “aneh-aneh”. Keyakinan Gus Yahya itu disampaikan dalam forum silaturahmi dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Bengkulu yang digelar di Hotel Mercure, Bengkulu, Kamis (13/8/2026).

Pernyataan itu merupakan respons atas harapan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bengkulu, Prof Dr H Khairudin Wahid, yang mendoakan agar muktamar berjalan tenang dan penuh kegembiraan.

“Ya, Muktamar bisa tenang dan gembira, asalkan tidak ada yang aneh-aneh,” kata Gus Yahya di hadapan para pengurus NU Bengkulu.

Putra dari KH Cholil Bisri, Rembang, itu secara khusus menyoroti wacana pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang belakangan menjadi perbincangan di kalangan warga Nahdliyin. Menurutnya, PCNU perlu cermat dalam memilih kiai-kiai yang benar-benar memiliki kapasitas dan maqam (kedudukan) yang layak sebagai AHWA.

“Ya kan sudah pada tahu, yang harusnya menjadi AHWA itu adalah kiai-kiai yang dikenal sebagai pengayom rohani NU selama ini. Jadi jangan diubah-ubah,” tegas Gus Yahya.

Lebih lanjut, tokoh yang pernah menjadi juru bicara Gus Dur ini mencontohkan hal lain yang berpotensi merusak suasana kondusif muktamar, seperti upaya mengubah aturan main yang telah menjadi konsensus di lingkungan NU. “Kalau ada yang memaksa mau mengubah aturan yang sudah menjadi konsensus di NU pada saat muktamar, itu dikhawatirkan malah merusak suasana dan menjadikan muktamar tidak bahagia,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Gus Yahya mengingatkan seluruh peserta muktamar (muktamirin) untuk senantiasa mengingat jasa salah satu pendiri (muassis) NU, yakni KH Wahab Hasbullah, yang makamnya terletak di kompleks Tambakberas, Jombang.

“Saya yakin kita semua tidak mau rusak-rusakan. Kita mau muktamar yang tenang dan gembira. Kalau sampai muktamirin tidak ingat Mbah Wahab, itu kebangetan, buang aja dari NU. Kalau tidak ingat Mbah Wahab dan buat hal-hal yang tidak-tidak, berarti ya bukan orang NU itu,” kata Gus Yahya tegas. (jok)