JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) – Tak ada cukup alasan untuk mendikte peradaban kecuali memperkuat fondasi ekonomi melalui kolektif ekonomi seperti yang dilakukan oleh KH Wahab Chasbullah pada tahun 1918.
“Mbah Wahab adalah Wali Peradaban, ide-ide pembaharuan NU awal berasal dari pengalaman lintas budaya dan gerakan yang beliau kuasai, dengan menyelaraskan pula pada konteks sosial waktu itu,” tulis Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dikutip dari Instagramnya, Senin (24/8/2026).
Hari ini, kata Gus Yahya, di mana warga sudah sangat sadar akan apa yang pantas mereka terima dan tidak, pemberdayaan ekonomi melalui Sa’adatuna, adalah ikhtiar peta jalan NU 2050 untuk mendongkrak tuas transformasi peradaban Nahdlatul Ulama menuju masa depan mulia.
Seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) meluncurkan Sa’adatuna sebagai syarah atas Mabadi Khaira Ummah di Jakarta pada Rabu (5/8/2026). Mabadi Khaira Ummah merupakan prinsip dasar pembentukan umat terbaik yang digagas oleh KH Mahfudz Shiddiq.
Ada lima hal pokok yang menjadi prinsip Mabadi Khaira Ummah. Pertama, ash-shidqu atau kejujuran. Menurut Gus Yahya, prinsip ini tidak memutarbalikkan fakta. Rantai yang panjang bukan masalah, tetapi rantai yang gelap itulah masalah. “Sebelum segala sesuatu, nomor satu itu kejujuran. Makanya KH Mahfudz Shiddiq itu menempatkan as-Shidqu itu nomor satu paling dulu,” katanya.
Ia bahkan menyoroti bahwa teknologi canggih sekalipun tidak akan mampu memperbaiki pasar yang penuh dengan ketidakjujuran. Yang lebih penting, kata Gus Yahya, adalah bagaimana orang-orang jujur tetap bisa menang meskipun ketulusan mereka sering tidak terlihat.
“Kadang tukang tipu itu kelihatannya jujur juga. Jadi bagaimana supaya yang jujur beneran ini tetap bisa menang. Itu yang harus kita pikirkan caranya,” tegasnya.
Prinsip kedua, al-amanah wal wafa bil ahdi, berbicara tentang kepercayaan dan pemenuhan janji. Gus Yahya mengingatkan bahwa amanah adalah titipan yang harus dijaga, bukan untuk dimiliki, apalagi diperjualbelikan. Ia memberi contoh konkret terkait pengelolaan data warga NU.
“Data warga ini amanah, bukan milik pengurus. Jadi tidak bisa diperjualbelikan. Tidak bisa dipinjam untuk kepentingan politik atau apa pun. Dan itu harus ada jaminan,” katanya.
Untuk itu, PBNU disebutnya sedang membangun sistem teknologi yang mampu menjamin keamanan data warga. Sistem ini memungkinkan warga untuk memverifikasi sendiri bahwa data mereka aman dan digunakan hanya untuk kemaslahatan mereka.
“Saya pribadi siap mempertanggungjawabkan di hadapan warga, di hadapan pengurus, di hadapan Allah swt,” tambah Gus Yahya dengan tegas.
Ketiga, al – adalah atau keadilan. Ia menyebut, kerap kali yang jauh selalu terlambat. Keadilan itu menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga semua pengurus dan warga di mana saja mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama pada saat yang sama.
“Apa yang didapat dari cabang di Jakarta juga harus bisa didapat di NTT misalnya atau MWC di Papua,” katanya. “Yang sering terjadi adalah bahwa daerah-daerah di pinggir ini, yang jauh dari ibukota itu, sering terlambat. Yang dekat dengan ibukota bisa dapat duluan atau yang di Jawa dapat duluan. Yang di Indonesia timur, di pulau-pulau yang jauh terlambat,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Gus Yahya menegaskan perlunya membangun cara agar tercipta keadilan sehingga semua bisa mendapatkan kesempatan dan fasilitas pada saat yang sama.
Keempat, al – Istiqamah (konsisten). Ia menegaskan bahwa yang baik tidak harus diselesaikan di tangan satu orang, tidak boleh terputus pada satu periode. Suatu periode, menurutnya, meletakkan fondasi. Periode berikutnya melanjutkan bangunan. Istiqamah berarti sambung-menyambung antar periode seperti satu bangunan. “Yang diharapkan istiqamah itu bukan hanya kita sebagai pribadi, jamiyah ini juga harus istiqamah,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa hal yang menjadi masalah adalah dalam periode lima tahun ini fondasi baru. Menurutnya, jika belum selesai dan ditinggal akan berbahaya, bisa mangkrak atau nanti bisa rusak. Sebab, selanjutnya tidak memahami desain secara keseluruhan sehingga bangunan yang dihasilkan menjadi rawan. “Makanya kita harus berusaha untuk mendapat kesempatan melanjutkan pekerjaan ini sampai nanti jadi bangunan sehingga penerus kita nanti tinggal menggunakan bangunan itu untuk kemaslahatan jamiyah,” ujarnya.
Prinsip terakhir adalah taawun , yakni tolong-menolong dalam kebaikan. Menurutnya, sejak dulu, jika ada yang membutuhkan, tangan selalu ringan diulurkan sebagai watak, bukan hanya program. “Sejak dulu kalau ada tetangga butuh kita datang. Itu bukan program, itu watak namanya,” katanya.
Hal yang bukan berubah niatnya, tetapi kecepatannya. Taawun itu bukan program organisasi, tetapi nilai dasar ajarannya Kanjeng Nabi yang dilakukan oleh organisasi. “Yang perlu dilakukan oleh organisasi ini adalah mencari cara dan membangun satu alat agar membutuhkan bantuan dan yang bisa membantu tersambung satu sama lain sehingga mereka bisa bertemu hari itu juga, tidak menunggu bulan depan atau kapan. Itu yang kita coba,” katanya.
“ Taawun tolong-menolong dalam kebaikan untuk saling menjaga dan menguatkan,” tutupnya.
Nama Sa’adatuna sendiri kepanjangan dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama. Platform digital ini nantinya akan difungsikan sebagai ekosistem penghubung warga NU sampai ke akar rumput. (jok)

