Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Karena itu, saya kira kita tidak perlu melihat berakhirnya kepemimpinan Gus Yahya di PBNU sebagai berakhirnya peran beliau dalam kehidupan kebangsaan.
Justru sebaliknya.
Dengan segudang pengetahuan, pengalaman dan jaringan yang dimilikinya, Gus Yahya tidak akan kehilangan panggung hanya karena kehilangan kursi.
Beliau memiliki pengalaman yang tidak pendek. Pernah berada dekat dengan Gus Dur pada masa awal Reformasi. Pernah menjadi Katib Aam PBNU. Pernah memimpin PBNU. Pernah pula membawa gagasan Islam Indonesia ke ruang percakapan internasional melalui R20.
Artinya, yang dimiliki Gus Yahya bukan sekadar jabatan.
Ada pengalaman organisasi. Ada pengalaman membaca kekuasaan. Ada pengalaman berkomunikasi dengan dunia internasional. Ada jaringan pesantren. Ada jaringan intelektual. Ada kemampuan berbicara dalam bahasa tradisi sekaligus bahasa dunia.
Modal semacam itu tidak ikut dicopot bersama sebuah jabatan.
Kursi bisa berganti. Tetapi pengalaman tidak ikut berganti.
Itulah sebabnya saya tidak terlalu khawatir dengan masa depan Gus Yahya setelah Muktamar ke-35.
Beliau bisa kembali ke pesantren. Bisa memperdalam kajian. Bisa menulis. Bisa berdakwah. Bisa menjadi jembatan antara dunia pesantren dan percakapan global. Bisa pula tetap memberikan gagasan bagi kehidupan kebangsaan.
Dan semua itu tidak membutuhkan stempel Ketua Umum PBNU.
Barangkali justru di sinilah kita perlu belajar membedakan antara jabatan dan pengaruh.
Jabatan memberikan kewenangan. Tetapi pengaruh lahir dari perjalanan panjang, gagasan, keteladanan, jaringan dan kepercayaan.
Seorang tokoh mungkin tidak lagi memimpin rapat. Tetapi orang masih datang untuk meminta pandangan.
Ia mungkin tidak lagi memiliki stempel organisasi. Tetapi gagasannya masih dibicarakan.
Ia mungkin tidak lagi duduk di kursi kekuasaan. Tetapi teleponnya masih berdering.
Begitulah dunia.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk menghitung jabatan seseorang, sampai lupa menghitung nilai dirinya.
Maka, kalau kemudian ada pihak-pihak yang mencoba mendekati Gus Yahya setelah beliau tidak lagi menjadi Ketua Umum PBNU, saya kira itu bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan.
Sebab orang tidak selalu dicari karena kursinya.
Kadang seseorang justru dicari karena apa yang ada di dalam kepalanya, apa yang pernah dialaminya, dan siapa saja yang mengenalnya.
Di sinilah pengalaman Gus Yahya bersama Gus Dur menjadi menarik untuk direnungkan.
Beliau pernah menyaksikan kekuasaan dari jarak yang sangat dekat. Pernah melihat bagaimana sebuah keputusan politik dibuat, bagaimana tekanan datang dari berbagai arah, dan bagaimana seorang pemimpin harus mengambil keputusan dalam situasi yang tidak sederhana.
Itu adalah sekolah kehidupan yang tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengikutinya.
Kemudian pengalaman tersebut bertemu dengan tradisi pesantren, perjalanan panjang di NU, dunia intelektual dan pergaulan internasional.
Maka jangan heran jika setelah tidak lagi menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Yahya masih mempunyai banyak hal yang dapat diberikan kepada bangsa ini.
Beliau mungkin kehilangan kursi. Tetapi tidak kehilangan ilmu.
Mungkin kehilangan kewenangan administratif. Tetapi tidak kehilangan pengalaman.
Mungkin tidak lagi memegang kendali organisasi. Tetapi tidak otomatis kehilangan kepercayaan orang-orang yang selama ini mengikuti gagasannya.
Dan yang paling penting, beliau masih mempunyai kesempatan untuk memilih jalan berikutnya.
Kembali ke Leteh adalah pilihan yang terhormat.
Tetap berada di ruang publik juga bukan kesalahan.
Memberikan pandangan kepada pemerintah tidak harus berarti menjadi bagian dari pemerintah.
Mengkritik pemerintah juga tidak harus berarti menjadi lawan pemerintah.
Bangsa ini justru membutuhkan orang-orang yang mampu berdiri cukup dekat untuk didengar, tetapi cukup jauh untuk tetap kritis.
Sebab penasihat yang selalu berkata, “Bisa, Pak,” belum tentu sedang membantu.
Kadang-kadang orang yang paling berguna justru orang yang berani berkata, “Sebentar, Pak. Mari kita pikirkan kembali.”
Itulah pentingnya menjaga jarak yang sehat antara kekuasaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dan bagi Gus Yahya, saya kira panggung itu masih panjang.
Tidak harus panggung politik.
Tidak harus panggung kekuasaan.
Panggung intelektual masih terbuka. Panggung pesantren masih tersedia. Panggung dakwah masih luas. Panggung diplomasi kebudayaan dan perdamaian juga belum selesai.
Bahkan mungkin, setelah tidak lagi dibebani jabatan struktural, beliau mempunyai ruang yang lebih luas untuk berbicara sebagai seorang pribadi yang membawa pengalaman panjang.
Karena pada akhirnya, jabatan mempunyai umur. Tetapi pengalaman tidak mengenal masa jabatan.
Muktamar ke-35 telah menutup satu babak perjalanan Gus Yahya di PBNU.
Tetapi saya kira belum menutup buku perjalanan beliau.
Boleh jadi, justru setelah meninggalkan kursi Ketua Umum PBNU, kita akan melihat Gus Yahya dalam peran yang berbeda.
Lebih bebas.
Lebih lentur.
Dan mungkin lebih luas.
Maka tidak perlu terlalu bersedih karena seseorang meninggalkan kursi.
Sebab ada orang yang ketika meninggalkan kursi, ikut kehilangan pengaruh.
Tetapi ada pula orang yang ketika meninggalkan kursi, baru terlihat bahwa dirinya memang lebih besar daripada kursi yang pernah didudukinya.
Gus Yahya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, adalah bagian dari perjalanan NU dan Indonesia hari ini.
Kita boleh berbeda pandangan dengan beliau.
Kita boleh mengkritik kebijakan-kebijakannya.
Tetapi kita juga harus mampu mengakui bahwa pengetahuan, pengalaman dan jaringan yang telah beliau bangun selama puluhan tahun adalah modal yang tidak kecil.
Maka, setelah Muktamar ke-35, pertanyaannya bukan lagi:
“Apa yang akan dilakukan Gus Yahya setelah tidak menjadi Ketua Umum PBNU?”
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
“Apa yang dapat dilakukan seorang Gus Yahya dengan seluruh ilmu, pengalaman dan jaringan yang masih dimilikinya setelah tidak lagi berada di kursi Ketua Umum PBNU?”
Jawabannya tentu ada pada beliau sendiri.
Tetapi satu hal rasanya cukup jelas:
Gus Yahya boleh meninggalkan kursi. Tetapi beliau tidak akan kehilangan panggung.
Sebab panggung terbesar seorang tokoh bukanlah jabatan.
Panggung terbesar adalah kapasitas dirinya sendiri.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
* Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik ; Penasehat LBM PCNU Kabupaten Gresik JATIM

