CIREBON (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menjelaskan bahwa ada tiga tugas kiai pesantren sebagaimana dijelaskan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi. Tiga tugas itu sekaligus menjadi semacam syarat bagi ulama yang ingin bergabung ke dalam NU.
Gus Yahya menjelaskan hal itu saat memberikan sambutan pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026).
Tugas pertama, kata Gus Yahya, adalah tugas keilmuan. Ketika Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari mengajak para ulama bergabung ke NU, Beliau menyeru kepada para ulama dari kalangan Ahlussunah wal Jamaah. “Jelas tidak mungkin memahami Ahlussunah wal jamaah, mazhab empat tanpa ilmu pengetahuan yang kita kaji di pesantren,” katanya.
Pengetahuan yang dikaji itu melalui khazanah karya para ulama yang kita warisi secara turun temurun sejak zaman para sahabat, tabiin hingga tabiitt tabiin sampai kepada para kiai di Indonesia. Kedua, tugas tarbiyah ruhaniyah. Bukan hanya mengurusi akal dengan pengetahuan, kiai pesantren juga harus menanamkan pendidikan ruhani kepada para santri. Mereka perlu dilatih mengembangkan kekuatan ruhani sebagaimana secara estafet diwariskan dari Rasulullah melalui para sahabat, tabiin, hingga kepada umat saat ini.
“Melalui itu (sanad ruhani), para ulama memiliki otoritas,” katanya.
Para ulama memiliki maqam sumber muktabar untuk mengambil mana yang utama. Namun, sanad ruhani yang diterima secara estafet dari guru hingga bersambung kepada Rasulullah menjadi ciri sendiri. Mengutip Ibnu Sirin, perlu sungguh memperhatikan dari mana mengambil agama. “Tidak mungkin para ulama diberikan maqam sumber muktabar untuk mengambil ilmu kecuali para ulama mewarisi transmisi,” lanjutnya.
Gus Yahya menegaskan bahwa kiai harus mengembangkan bukan hanya girah ilmiyah tapi juga ruhaniyah; bukan hanya ilmu pengetahuan aqiliyah, tapi juga kuat ruhaniyah. Hal tersebut dilakukan agar kiai dan santri beserta masyarakat sungguh memiliki jalinan batin sumber agama kepada Rasulullah.
Ketiga adalah riayatul jamaah atau dalam skala luas menjadi riayah ummah. Artinya, para kiai harus menekuni wadzifah mengasuh jamaah ya mengasuh umatnya. Oleh karena itu, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari menyeru kepada para ulama dan para pengikutnya. Hal ini berarti, katanya, bahwa Hadratussyeikh memberi semacam syarat bahwa ulama yang layak bergabung kepada jamiyah NU adalah ulama yang memiliki pengikut-pengikut.
“Tidak mungkin ulama memiliki pengikut kalau tidak mengasuh mereka, mengayomi mereka membimbing mereka,” tegas Gus Yahya.
Dalam kesempatan itu, hadir Sesepuh Pondok Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani beserta seluruh anggota dewan sepuh Buntet Pesantren, Ketua Umum YLPI Buntet Pesantren KH Aris Ni’matulloh beserta jajarannya, Ketua Umum Panitia Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Ust Ammar Firman Maulana.
Kegiatan ini juga dihadiri Kapolda Irjen Pol Pipit Rismanto dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung Abdul Hakim. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga hadir dalam Ziarah dan Tahlil Umum yang dilaksanakan pada Sabtu (1/8/2026) sore di Makbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat. (jok)
TONTON VIDEO HAUL ALMARHUMIN SESEPUH PONDOK BUNTET PESANTREN

