Gus Yahya Hadiri Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersama ribuan jamaah dari berbagai daerah di Jawa Barat dan sejumlah daerah lainnya, ikut menhadiri acara haul almarhumin sesepuh dan warga Pondok Buntet Pesantren di Maqbaroh Gajah Ngambung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026).

CIREBON (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menghadiri Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di Maqbaroh Gajah Ngambung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026). Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan takziyah atas wafatnya pengasuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah PBNU, KH Adib Rofiuddin Izza. Beliau wafat pada hari Senin, 1 Juni 2026 pukul 09.15 WIB lalu di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.

“Bukan hanya Keluarga Besar Buntet Pesantren dan masyarakat sekitarnya saja yang kehilangan tapi juga seluruh warga NU. Beliau telah mencurahkan segala yang Beliau miliki untuk mengasuh kita semua dan berkhidmah pada jam’iyyah NU. Semoga segera ada pengganti yang mengisi ruang kosong yang Beliau tinggalkan, semoga dihadirkan oleh Allah SWT yang akan menyulih peran dan khidmah yang beliau persembahkan untuk jam’iyyah,” katanya.

Gus Yahya mengatakan, bahwa Pondok Buntet Pesantren adalah salah satu pesantren yang masih menghadirkan makna hakiki dari pesantren dan kiai di tengah masyarakat, ketika sekarang begitu banyak pondok pesantren di Tanah Air. Dalam catatan Gus Yahya, sekarang ada sekitar 42 ribu pesantren di seluruh Indonesia, di mana di antara sekian banyak itu ada 28.000 yang mengaku berafiliasi kepada NU. Belum cukup data mengenai keadaan pesantren yang sekian banyak itu, bagaimana realitasnya, tapi kita semua bisa melihat, dan Gus Yahya sepenuhnya bersaksi, bahwa Pondok Buntet Pesantren adalah salah satu yang masih menghadirkan pesantren seperti yang diteladankan oleh pendahulu kita.

Pesantren itu, kata Gus Yahya, bukan soal pengajaran dan ilmu pengetahuan saja, tapi seperti disampaikan oleh Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari dalam muqoddimah Qonun Asasi NU, tapi ilmunya dari ulama ahli sunnah wal jamaah, kitab karya ulama yang kita warisi secara turun temurun sejak tiga generasi awal yang memiliki kedudukan istimewa, yaitu sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin. Pesantren bukan hanya untuk mengisi akal para santri dengan pengetahuan yang berbagai macam, tapi para santri juga ditanamkan pendidikan ruhani, dilatih mengembangkan kekuatan ruhani, sebagaimana estafet yang diwariskan dari Rasulullah SAW melalui sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin, kepada kita semua.

“Ini dapat kita pahami dari nasihat Beliau kepada ulama yang Beliau undang untuk bergabung ke dalam NU. Sanad yang Beliau maksudkan bukan sanad pengajar ilmu pengatahuan akliyah saja tapi sanad ruhani, sebab dengan sanad ruhani itulah para ulama memiliki otoritas dan maqam sumber -sumber otoritatif untuk mengambil agama bukan hanya ilmu pengetahuan tapi sanad estafet dari guru ke guru sampai bersambung ke Rasulullah SAW,” katanya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga menghadiri ziarah dan tahlil umum dalam rangka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di Maqbaroh Gajah Ngambung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (1/8/2026).
Dalam sambutannya, ia menyoroti besarnya peran ulama dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, tokoh-tokoh ulama, termasuk Kiai Abbas Buntet, memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa. Ia menyebut perjuangan para kiai dan santri menjadi fondasi penting bagi lahir dan berdirinya Indonesia.
“Tanpa Kiai Abbas, tidak ada NKRI,” ujar Zulkifli Hasan. Ia mengatakan pesantren sejak dulu menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa, baik saat masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam mengisi pembangunan.

Menurutnya, para kiai dan santri telah memberi teladan dalam menjaga persatuan serta mengabdikan diri kepada negara.
“Kita selalu berharap Indonesia senantiasa dilindungi oleh para guru, para kiai, dan para pahlawan,” tuturnya.
Sekadar informasi, tahlil merupakan salah satu agenda inti dalam haul di Pondok Buntet Pesantren. Lantunan tahlil dipimpin para ulama dan diikuti ribuan warga yang memenuhi kawasan Maqbaroh Gajah Ngambung.

Ketua Umum Panitia Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2026, Ammar Firman Maulana memperkirakan jumlah jamaah yang mengikuti tahlil mencapai 10 ribu hingga 15 ribu orang. Selain masyarakat dari desa-desa sekitar Pondok Buntet Pesantren, ribuan jamaah juga datang dari berbagai daerah.

“Perkiraan 10.000 sampai 15.000 orang. Karena selain masyarakat sekitar, juga ada santri, alumni, dan tamu dari berbagai daerah yang datang mengikuti tahlil di Maqbaroh,” kata dia.

Usai rangkaian tahlil, terang Ammar, kegiatan berlanjut pada malam hari dengan acara yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Acara tersebut diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, mauidhoh hasanah, serta doa bersama.

Sementara itu, bagi para alumni, momen haul juga menjadi ajang melepas rindu. Selain mengikuti rangkaian tahlil, mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk bersilaturahmi dengan para kiai dan bertemu kembali dengan teman-teman semasa mondok.
Salah seorang alumni Pondok Buntet Pesantren, Alimuddin Nur, mengaku selalu menyempatkan diri hadir setiap penyelenggaraan haul. “Setiap tahun kalau momen haul saya berusaha untuk selalu hadir. Selain ikut tahlil, juga untuk silaturahmi dengan kiai dan ketemu juga sama temen-temen lama,” kata dia.

Hal serupa disampaikan Deden, alumni Pondok Buntet Pesantren lainnya. Pada haul tahun ini, ia datang bersama keluarganya. Menurutnya, haul bukan hanya menjadi momen mengikuti tahlil, tetapi juga kesempatan bersilaturahmi dengan para kiai serta bertemu kembali dengan teman-teman lama.

“Selain ikut tahlil, bisa silaturahmi dengan para kiai dan ketemu lagi sama teman-teman yang dulu sama-sama mondok,” ujar Deden. (jok/det)