BANDUNG (SuaraNahdliyin.id) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat Gerakan Nasional Pesantrenku Aman dengan berbagai instrumen pendukungnya. Selain melakukan kerjasama dengan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) untuk masalah pembangunan infrastruktur dan sejumlah bidang lainnya, PBNU juga meluncurkan buku Standar Pesantren Indonesia. Ikhtiar tersebut dilakukan dalam Roadshow ke-25 Gerakan Nasional Pesantrenku Aman yang digelar di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengatakan, bahwa pesantren merupakan jantung Nahdlatul Ulama (NU) karena organisasi ini lahir dari tradisi dan kehidupan pesantren.
“Pusat dari segala urusan NU adalah pesantren karena memang intinya NU ada di pesantren,” kata Gus Yahya.
Tokoh yang pernah menjadi juru bicara Gus Dur ini menegaskan pesantren juga menjadi wujud tanggung jawab para kiai dalam mengemban amanah orang tua dan wali santri untuk mendidik anak-anak mereka. Karena itu, menurutnya, pengembangan sarana dan prasarana pesantren diperlukan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan para santri selama menempuh pendidikan.
“Mudah-mudahan ikhtiar PBNU ini menjadi ikhtiar yang diridhai Allah, bermanfaat dan membawa maslahat, dan barokah bagi kita semua,” ujarnya.
Dorong Pesantren Relevan dengan Perkembangan Zaman
Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, KH Hodri Ariev, mengatakan, pelaksanaan roadshow tersebut dilatarbelakangi keprihatinan mendalam terhadap pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman. Menurutnya, berbagai kasus kekerasan di pesantren tidak semata-mata persoalan angka, tetapi menyangkut kehidupan dan masa depan manusia.
Karena itu, RMI PBNU menyusun sejumlah program untuk mendorong pesantren beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kita dituntut melahirkan lulusan santri relevan dengan kebutuhan umat sesuai dinamika mutakhir,” katanya.
Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, RMI PBNU bekerja sama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU meluncurkan Buku Standar Pesantren Indonesia dan Buku Pelatihan Perlindungan Anak dan Kekerasan di Pesantren. Peluncuran buku tersebut diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk membantu pesantren memperkuat tata kelola sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi santri.
Dalam kesempatan yang sama, seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, PBNU juga menandatangani kerja sama dengan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) untuk memberikan layanan konsultasi terkait pembangunan dan penataan infrastruktur pesantren. Kerja sama tersebut diarahkan agar pesantren memiliki tata ruang dan bangunan yang tidak hanya kuat dan kokoh, tetapi juga memenuhi aspek keamanan dan kenyamanan bagi para santri.
Ketua Umum Inkindo Eri Heriyadi mengatakan pihaknya siap membantu PBNU dalam merancang pembangunan pesantren berdasarkan standar yang baik, kuat, dan kokoh.
Selain konsultasi infrastruktur, Inkindo juga membuka peluang bagi para santri untuk mendapatkan pengalaman melalui program kerja praktik di dunia kerja.
Sementara itu, Penanggung Jawab Saka Pesantren H Ulun Nuha mengatakan gerakan tersebut dilatarbelakangi berbagai potensi bahaya yang dapat mengancam keamanan santri. RMI PBNU, kata dia, hadir untuk mendampingi pesantren melakukan transformasi, mulai dari sistem kepengasuhan hingga aspek keamanan dan kenyamanan santri.
“Mari kita kerahkan kekuatan semaksimal mungkin. Ikut kena getahnya,” kata Sekretaris RMI PBNU itu.
Ia juga mengajak para santri menerapkan prinsip STOP, yakni Sadari Batas, Tolak Kekerasan, Obrolkan jika Melihat Kekerasan, dan Pastikan Lapor kepada Orang Dewasa yang Dipercaya.
“Kita yang punya kewajiban syariat untuk menjaga tubuh kita. Kita harus taat hormat. Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Katib Syuriyah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq, Mustasyar PWNU Jawa Barat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bandung KH Sofyan Yahya, serta sejumlah pengasuh dan pengurus pesantren. (jok)

