NU Abad Kedua membutuhkan pemimpin yang mampu membaca geopolitik dunia tanpa kehilangan kedalaman spiritual. Sebab ancaman terbesar hari ini bukan hanya perang senjata, melainkan perang algoritma, disinformasi, dan krisis makna.
NU di abad kedua harus menjadi sebuah gerakan masyarakat yang digdaya, bukan sekadar berdaya. Karenanya, NU harus memberikan kontribusi nyata, baik di level nasional maupun global. Karena untuk melakukan itu dibutuhkan konsolidasi kekuatan yang serius.
Perhelatan lima tahunan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) bukan hanya sebagai agenda rutin pergantian kepemimpinan organisasi. Justru momentum ini sebagai penentu arah organisasi NU ke depan.