Bedah Buku “NU Smoking”, Lesbumi dan LKNU Kupas Fatwa Kretek dan Proteksi Perokok Dini

Pembahasan rokok dari sisi hukum agama sudah beres dari dahulu, sudah menjadi rahasia umum bahwa hukum rokok bukanlah haram melainkan mubah, sehingga keputusan seseorang untuk menjadi perokok bukanlah sebuah jalan utama kematian selagi tidak berlebihan dan cukup umur.

JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU sukses menggelar acara Launching dan Bedah Buku berjudul “NU Smoking: Kedaulatan Islam Nusantara dalam Fatwa Kretek” yang berlangsung Rabu (26/8/2026) bertempat di Antheng Kopi, depan Unwaha, Tambakberas, Jombang.

Acara yang merupakan rangkaian kegiatan jelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama ini menghadirkan langsung para penulis buku, yakni Ketua Lesbumi PBNU, K.H. M. Jadul Maula, dan Dosen Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga, Dr. Gugun El Guyanie.

Selain kedua penulis, diskusi interaktif ini juga menghadirkan narasumber utama lainnya, yaitu Ketua LKNU PBNU, Dr. dr. HM. Zulfikar As’ad, MMR. Dalam kesempatan tersebut, Ketua LKNU PBNU, Dr. dr. HM. Zulfikar As’ad, MMR, memberikan pandangannya mengenai isi buku sekaligus melengkapi perspektif medis yang dinilainya perlu dikupas mendalam.

“Di buku ini lengkap sekali dikupas perspektif rokok dari berbagai sisi budaya, ekonomi, agama. Sayangnya dalam segi kesehatan belum dikupas, maka saya tambahkan sedikit,” katanya.

Ia menambahkan, pembahasan rokok dari sisi hukum agama sudah beres dari dahulu, sudah menjadi rahasia umum bahwa hukum rokok bukanlah haram melainkan mubah, sehingga keputusan seseorang untuk menjadi perokok bukanlah sebuah jalan utama kematian selagi tidak berlebihan dan cukup umur.

“Memang kalau sisi hukum sudah clear, tidak ada masalah. Dari sisi kesehatan pun juga demikian sebenarnya, tidak ada yang mengatakan bahwa rokok itu sebagai penyebab langsung dari suatu penyakit, tidak ada. Tapi memang dampaknya muncul dari perokok itu sekian tahun kemudian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap kelompok usia muda agar terhindar dari kebiasaan merokok sejak dini.

“Yang paling riskan, perokok itu perokok dini. Di mana usia-usia anak-anak kita yang masih belum matang secara fisik, nah itu yang mestinya harus kita hindari, apapun itu. Karena dengan berbagai macam banyaknya temuan-temuan di sisi kesehatan, ini munculnya ada yang 10 tahun, ada yang 15 tahun, ada yang 20 tahun. Nah, itu biasanya berakibat secara bertahap itu, mulai dari menyempitnya pembuluh darah dan sebagainya,” jelasnya.

Pelaksanaan launching dan bedah buku berjalan dengan lancar, penuh antusiasme, serta ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama para narasumber dan peserta. Melalui agenda ini, diharapkan gagasan dan advokasi terkait kedaulatan budaya serta ekonomi masyarakat nahdliyin dapat terus terdiseminasi atau tersebar secara luas. (jok)