25 Tahun Tragedi WTC: Pesan Gus Yahya tentang Tatanan Dunia dan Jalan Panjang Perdamaian

berbicara tentang masa depan. Tentang bagaimana dunia harus dikelola setelah 9/11. Menurut Gus Yahya, pasca-serangan WTC, tatanan dunia membutuhkan pengelolaan yang semakin tangguh. Bukan sekadar memperkuat senjata. Bukan hanya memperketat keamanan.

Oleh Joko Santoso

Ada tragedi yang selesai dalam hitungan jam. Ada pula tragedi yang terus hidup puluhan tahun.

Serangan 11 September 2001 termasuk yang kedua. Tahun ini, 2026, dunia memperingati 25 tahun tragedi 11/9. Seperempat abad. Namun luka sejarah itu belum benar-benar mengering.

Setiap September, Amerika Serikat mengenang ribuan korban yang kehilangan nyawa. Keluarga korban kembali mengingat nama-nama orang yang mereka cintai. Dunia juga kembali bertanya. Mengapa tragedi itu terjadi? Mengapa kebencian bisa tumbuh begitu besar?

Dan yang lebih penting lagi, bagaimana dunia mencegah tragedi serupa terulang?
Pertanyaan terakhir itulah yang menarik jika dikaitkan dengan pemikiran KH Yahya Cholil Staquf.
Ya, Gus Yahya. Ketua Umum PBNU periode 2021-2026.

Kini, setelah purna khidmah di PBNU, Gus Yahya justru ingin kembali memperkuat kiprah di ranah yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian besarnya. Dialog lintas agama. Islam Kemanusiaan. Dan perdamaian dunia.

Ketika Langit New York Berubah

Pagi 11 September 2001.

New York menjalani hari biasa. Gedung-gedung menjulang. Jalan-jalan ramai. Orang-orang bekerja. Pesawat terbang seperti biasa.

Tetapi pagi itu berubah menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Amerika Serikat.

Sembilan belas anggota jaringan al-Qaeda membajak empat pesawat komersial. Dua pesawat ditabrakkan ke Menara Utara dan Menara Selatan World Trade Center. Pesawat ketiga menghantam Pentagon. Pesawat keempat jatuh di Pennsylvania setelah penumpang dan awak berusaha melawan pembajak.

Pukul 08.46 waktu setempat, American Airlines Flight 11 menabrak Menara Utara.
Tujuh belas menit kemudian, pukul 09.03, United Airlines Flight 175 menghantam Menara Selatan.

Dunia menyaksikan semuanya. Televisi menyiarkan kepulan asap. Lalu api.
Kemudian bangunan runtuh.

Menara yang sebelumnya menjadi simbol kekuatan ekonomi Amerika berubah menjadi puing.

Tragedi itu menewaskan 2.977 orang dari 90 negara. Sebanyak 2.753 orang meninggal di New York. Sebanyak 184 orang tewas di Pentagon. Empat puluh orang meninggal dalam jatuhnya Flight 93.

Tetapi angka itu hanya sebagian dari cerita. Di balik setiap angka terdapat manusia.
Ada ayah. Ada ibu. Ada anak. Ada suami.
Ada istri. Ada pekerja yang pagi itu berangkat tanpa pernah menduga bahwa mereka tidak akan pulang.

Karena itu, 9/11 bukan sekadar angka dalam buku sejarah. Ia adalah ingatan kemanusiaan.

Dua Puluh Lima Tahun Kemudian

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang panjang. Generasi baru bahkan lahir setelah tragedi tersebut.

Sebagian anak muda hari ini hanya mengenal 9/11 dari buku sejarah, film dokumenter atau arsip televisi. Tetapi akibatnya masih terasa.

Serangan tersebut mengubah politik global. Mengubah kebijakan keamanan.
Mengubah cara negara memandang terorisme. Mengubah hubungan antaragama. Bahkan mengubah cara sebagian masyarakat memandang Islam dan Muslim.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Tragedi yang dilakukan kelompok ekstremis tidak boleh kemudian menjadi alasan untuk menghakimi seluruh agama.
Tidak boleh pula kebencian terhadap kelompok tertentu dibalas dengan kebencian baru. Sebab kebencian yang dibalas kebencian hanya menciptakan lingkaran tanpa ujung.

Gagasan inilah yang sejak lama diperjuangkan Gus Yahya.

Menariknya, gagasan tersebut sudah disampaikan Gus Yahya bahkan sebelum ia menjadi Ketua Umum PBNU.

Dari Virginia, Gus Yahya Bicara tentang Dunia

Pada 9 September 2021, dua hari sebelum peringatan 20 tahun serangan 11/9, Gus Yahya mendapat undangan khusus dari Regent University, Virginia, Amerika Serikat.

Saat itu ia masih menjabat Katib Aam PBNU. Ia diminta menjadi pembicara dalam forum internasional memperingati dua dekade serangan WTC.

Forum itu bukan forum kecil. Sejumlah tokoh Amerika hadir.

Ada mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo. Ada Pat Robertson, pendiri Regent University. Hadir pula tokoh diplomatik, ahli keamanan, militer, hukum dan kalangan intelektual Amerika Serikat.

Gus Yahya berbicara melalui rekaman video. Namun pesannya jauh melampaui tragedi masa lalu.

Ia berbicara tentang masa depan. Tentang bagaimana dunia harus dikelola setelah 9/11. Menurut Gus Yahya, pasca-serangan WTC, tatanan dunia membutuhkan pengelolaan yang semakin tangguh. Bukan sekadar memperkuat senjata. Bukan hanya memperketat keamanan.

Tetapi juga memperkuat struktur sosial dan budaya yang memungkinkan manusia hidup berdampingan. Di sinilah muncul gagasan penting Gus Yahya.

Negara-bangsa, tradisi keagamaan dan budaya lokal harus menjadi fondasi dalam mengelola tata dunia.

Negara-bangsa, menurut gagasan itu, merupakan pondasi tata dunia setelah Perang Dunia II. Namun negara tidak cukup hanya memiliki batas wilayah.
Ia membutuhkan masyarakat. Masyarakat membutuhkan nilai. Dan nilai tidak bisa dilepaskan dari tradisi agama dan budaya.

Karena itu, Gus Yahya melihat ancaman bukan hanya datang dari kekerasan fisik.
Ancaman juga bisa datang dari ideologi yang mencabut manusia dari akar sosial dan budayanya.

Ideologi transnasional dapat berbasis agama. Dapat pula berbasis etnik.
Ras. Bahkan gagasan sekuler.

Jika semua itu gagal dinegosiasikan dengan realitas negara dan masyarakat lokal, konflik baru dapat muncul. Inilah inti pemikiran Gus Yahya di Virginia.

Tatanan dunia harus diperkuat. Bukan dihancurkan.

Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika

Gus Yahya kemudian membawa Indonesia sebagai contoh. Indonesia mempunyai pengalaman yang sangat panjang dalam mengelola keberagaman.

Ada Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Buddha. Konghucu. Ada ratusan kelompok etnis. Ada ribuan tradisi. Ada begitu banyak bahasa dan kebudayaan.

Namun semua itu dipersatukan oleh satu gagasan.

Bhinneka Tunggal Ika.

Berbeda-beda tetapi tetap satu. Bagi Gus Yahya, pengalaman Indonesia bukan sekadar pengalaman nasional. Ia dapat menjadi bahan pembelajaran bagi dunia.

NU juga mempunyai modal besar. Tradisi keagamaan NU berakar kuat pada masyarakat. Islam tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang asing dari kebudayaan. Islam justru berdialog dengan kebudayaan. Dengan masyarakat.
Dengan negara. Dengan realitas kehidupan.

Karena itu, Gus Yahya melihat NU mempunyai peluang untuk ikut membangun konsensus global. Bukan dengan memaksakan model Indonesia kepada dunia. Tetapi dengan menawarkan pengalaman. Bahwa agama dapat menjadi sumber perdamaian. Bahwa identitas tidak harus menjadi bahan permusuhan. Dan bahwa perbedaan tidak selalu menghasilkan konflik.

Dari 9/11 Menuju R20

Empat tahun setelah forum peringatan 20 tahun 9/11 itu, arah perjuangan Gus Yahya semakin terlihat ketika ia memimpin PBNU. Ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung.

Gus Yahya memperoleh 337 suara dari 548 suara yang masuk. Ia mengalahkan KH Said Aqil Siroj yang memperoleh 210 suara.

Sejak awal kepemimpinannya, Gus Yahya menyebut dua agenda besar.

Pertama, membangun kemandirian warga. Kedua, meningkatkan peran NU dalam pergulatan global untuk mendukung perdamaian dunia.

Agenda kedua kemudian menjadi salah satu ciri penting kepemimpinannya. Salah satu tonggaknya adalah Religion of Twenty atau R20.

Forum itu digelar di Bali pada 2022 sebagai bagian dari rangkaian Presidensi G20 Indonesia. Tokoh agama dari berbagai negara dipertemukan.

Bukan hanya untuk saling memuji. Tetapi juga untuk berbicara mengenai problem agama secara terbuka.

Gus Yahya bahkan menegaskan bahwa R20 dirancang agar para tokoh agama berbicara jujur mengenai persoalan agama masing-masing.

Sebab klaim bahwa setiap agama selalu membawa perdamaian harus dibuktikan dalam kenyataan. Dialog tidak boleh berhenti pada seremoni. Tidak boleh sekadar foto bersama.

Tidak cukup dengan pernyataan bahwa semua agama mengajarkan kedamaian.
Masalah nyata harus dibicarakan.
Luka sejarah harus dibuka. Prasangka harus diurai.

Dan sumber konflik harus dicari. Inilah pendekatan yang menarik.

Gus Yahya tidak menawarkan perdamaian dengan cara menghapus perbedaan.
Ia justru mengajak manusia menghadapi perbedaan. Dengan keberanian. Dengan dialog. Dengan kejujuran.

Agama Jangan Dipinggirkan

Dalam pemikiran Gus Yahya, agama juga tidak boleh sekadar menjadi ornamen.
Agama bukan hanya pembaca doa dalam sebuah acara kenegaraan.

Bukan pula sekadar pemberi legitimasi moral setelah keputusan politik dibuat.

Agama harus ikut memengaruhi arah kehidupan publik.

Nilai keadilan.

Kemanusiaan.

Martabat manusia.

Kasih sayang.

Semua itu harus masuk dalam percakapan politik dan ekonomi.

Gagasan tersebut menjadi salah satu roh R20.

Forum itu diharapkan berkembang menjadi gerakan global.

Bukan hanya acara tahunan.

Bukan hanya forum para elite agama.

Tetapi gerakan yang mendorong nilai moral dan spiritual menjadi bagian dari penyelesaian persoalan dunia.

Dalam konteks ini, perjuangan Gus Yahya sebenarnya memiliki benang merah dengan pidatonya di Virginia pada 2021.

Ada satu gagasan yang terus muncul.

Dunia membutuhkan tatanan.

Tetapi tatanan itu tidak cukup hanya dibangun dengan hukum internasional.

Tidak cukup dengan kekuatan militer. Tidak cukup dengan diplomasi. Ia membutuhkan nilai. Dan agama mempunyai sumber nilai yang sangat besar.

Dialog Tidak Berarti Kehilangan Prinsip

Tentu dialog lintas agama bukan pekerjaan mudah. Apalagi ketika dunia masih menghadapi perang.

Palestina dan Israel adalah contoh paling nyata. Konflik berlangsung puluhan tahun.
Luka sejarah menumpuk.

Agama terkadang justru digunakan untuk memperkuat identitas yang saling berhadapan.

Dalam situasi seperti ini, dialog sering dianggap terlalu lunak.

Sebagian orang bertanya. Untuk apa berdialog jika konflik masih terjadi? Justru karena konflik masih terjadi, dialog diperlukan.

Dialog bukan berarti menyerahkan prinsip.
Dialog bukan berarti membenarkan semua tindakan. Dialog adalah usaha untuk menciptakan ruang agar manusia masih bisa berbicara ketika politik sudah buntu.

Gus Yahya konsisten mendorong pendekatan semacam ini.

Pada 2023, misalnya, PBNU menyerukan agar identitas dan seruan keagamaan tidak digunakan untuk menyuburkan permusuhan dan kebencian dalam konflik Israel-Palestina. PBNU juga menekankan nilai rahmah, persaudaraan dan keadilan universal sebagai inspirasi penyelesaian konflik.

Pesannya jelas. Agama jangan dijadikan bahan bakar konflik. Agama justru harus menjadi jalan keluar.

Diplomasi Kultural NU

Di bawah kepemimpinan Gus Yahya, NU juga semakin aktif membuka ruang dialog internasional. Delegasi lintas agama dan lintas budaya datang ke PBNU.

Pada 2025, misalnya, delegasi International Fellows dari KAICIID datang ke PBNU untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman. Mereka berasal dari berbagai kawasan dan terdiri dari aktivis lintas iman, diplomat serta perwakilan lembaga internasional.

Pada tahun yang sama, Gus Yahya berdialog dengan delegasi Indonesian Interfaith Scholarship dari Austria.

Tema yang dibicarakan bukan hanya toleransi.

Tetapi juga bagaimana menghadirkan Islam sebagai kekuatan untuk menyelesaikan masalah global.

Gus Yahya berbicara mengenai perlunya konsensus universal sebagai fondasi perdamaian dunia.

Semua itu menunjukkan satu pola. NU tidak ingin hanya menjadi penonton. NU ingin menjadi bagian dari percakapan dunia.

Purna Khidmah, Bukan Purna Perjuangan

Kini periode kepemimpinan Gus Yahya di PBNU telah berakhir.

Muktamar ke-35 NU di Jombang menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 melalui mekanisme AHWA. Namun purna khidmah tidak berarti purna perjuangan.

Gus Yahya justru menyatakan akan kembali berkonsentrasi pada agenda dialog antaragama dan gerakan Islam Kemanusiaan.

Ia akan mengembangkan agenda itu melalui lembaga internasional yang selama ini terkait dengan kiprahnya, termasuk Center for Shared Civilizational Values dan Bayt ar-Rahmah.

Ia juga merencanakan perjalanan ke Amerika Serikat pada Desember 2026 untuk menjalankan rangkaian dialog lintas agama.

Di sinilah sejarah seperti membuat lingkaran.

Pada 2021, Gus Yahya berbicara di Virginia menjelang peringatan 20 tahun 9/11.

Kini, pada 2026, setelah 25 tahun tragedi tersebut, ia kembali hendak memperkuat kerja-kerja spiritual dan dialog di Amerika.
Tempat di mana tragedi itu pernah mengubah wajah dunia.

Dari Reruntuhan Menuju Perdamaian

Dua puluh lima tahun setelah 9/11, dunia belum sepenuhnya damai.

Perang masih terjadi. Ekstremisme masih muncul. Politik identitas masih berkembang. Kebencian masih mudah diproduksi.

Media sosial bahkan membuat penyebaran kebencian menjadi jauh lebih cepat.

Karena itu, pesan Gus Yahya tentang penguatan tatanan dunia menjadi relevan.

Dunia membutuhkan negara yang kuat. Tetapi juga membutuhkan masyarakat yang matang.

Dunia membutuhkan hukum. Tetapi juga membutuhkan moral.

Dunia membutuhkan diplomasi. Tetapi juga membutuhkan dialog agama.

Dunia membutuhkan keamanan. Tetapi juga membutuhkan keadilan.

Dan yang paling penting, dunia membutuhkan manusia yang mampu melihat manusia lain bukan sebagai musuh.

Melainkan sebagai sesama manusia. Di titik inilah gagasan Islam Kemanusiaan menjadi penting.

Islam tidak diposisikan sebagai identitas untuk melawan identitas lain.

Islam hadir sebagai rahmah. Sebagai sumber kemanusiaan. Sebagai energi spiritual. Sebagai kekuatan moral untuk membangun peradaban.

Mengingat 9/11 Tanpa Mewariskan Kebencian

Peringatan 25 tahun 9/11 semestinya tidak hanya menjadi ritual mengenang korban. Ia harus menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi.

Apa yang telah dipelajari dunia?

Apakah manusia semakin mampu menyelesaikan konflik?

Apakah agama semakin mampu menjadi sumber perdamaian?

Atau justru agama masih sering dipakai untuk memperkuat permusuhan?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Tetapi sejarah mengajarkan satu hal. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan semua masalah.

Kebencian melahirkan kebencian baru.
Dendam melahirkan dendam berikutnya.

Karena itu, perdamaian membutuhkan keberanian yang berbeda. Keberanian untuk duduk bersama.

Keberanian mendengar. Keberanian mengakui kesalahan. Keberanian mengoreksi tradisi sendiri.

Dan keberanian untuk membangun kesepakatan bersama.

Itulah semangat yang tampak dalam perjalanan Gus Yahya.

Dari forum Virginia.

Ke PBNU.

Ke R20.

Ke berbagai forum lintas agama.

Dan kini kembali ke panggung internasional setelah purna khidmah.

Barangkali inilah cara lain membaca tragedi 11/9.

Bukan hanya sebagai kisah tentang runtuhnya dua gedung pencakar langit.

Tetapi sebagai peringatan bahwa peradaban manusia juga dapat runtuh jika kehilangan fondasi moral.

Gedung bisa dibangun kembali. Kota bisa dipulihkan. Ekonomi bisa bangkit.

Tetapi jika kebencian tetap dipelihara, tragedi baru selalu mungkin terjadi.

Karena itu, setelah 25 tahun, pertanyaan paling penting bukan lagi sekadar siapa yang melakukan 9/11.

Pertanyaan yang lebih besar adalah:

Bagaimana manusia membangun tatanan dunia agar tragedi semacam itu tidak menjadi warisan bagi generasi berikutnya?

Gus Yahya menawarkan satu jawaban.

Perkuat tatanan dunia.

Perkuat negara-bangsa.

Rawat tradisi keagamaan dan budaya lokal.

Buka dialog lintas iman.

Dan jadikan agama sebagai sumber solusi.

Bukan sumber konflik.

Di tengah dunia yang semakin terpecah, gagasan itu terasa sederhana.

Tetapi justru karena sederhana, ia menjadi penting.

Sebab perdamaian dunia sering kali tidak dimulai dari meja perundingan para pemimpin negara.

Ia bisa dimulai dari satu percakapan.

Dari satu ruang dialog.

Dari satu keberanian untuk mendengarkan orang yang berbeda.

Dan dari keyakinan bahwa manusia, apa pun agama dan bangsanya, tetap memiliki satu rumah besar.

Bumi.

Dua puluh lima tahun setelah menara WTC runtuh, dunia masih mencari jalan.

Mungkin jalan itu bukan hanya melalui kekuatan.

Tetapi melalui kesediaan untuk memahami.

Bukan hanya melalui politik.

Tetapi melalui spiritualitas.

Bukan hanya melalui diplomasi negara.

Tetapi melalui dialog antarmanusia.

Dan di situlah perjuangan Gus Yahya setelah purna khidmah PBNU menemukan relevansinya.

Ia meninggalkan jabatan.

Tetapi tidak meninggalkan gagasan.

Ia meninggalkan kursi Ketua Umum PBNU.

Tetapi kembali menuju medan yang sejak lama menjadi perhatiannya.

Medan perdamaian.

Medan kemanusiaan.

Medan dialog lintas agama.

Sebuah perjalanan panjang yang bermula jauh sebelum 2026.

Dan mungkin, justru semakin penting setelah seperempat abad dunia belajar dari tragedi 11 September. (*)