9 Ulama AHWA Rapat Tertutup Pilih Rais Aam, Kemudian Ketum PBNU

Sesuai mekanisme yang telah disepakati dalam sidang pleno sebelumnya, kesembilan kiai sepuh ini mengemban mandat untuk bermusyawarah secara tertutup guna menetapkan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031 sekaligus merumuskan arah selanjutnya terkait pemilihan Ketua Umum PBNU.

JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) – Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) hasil tabulasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menggelar rapat tertutup untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU di ndalem KH Abdul Wahab Chasbullah di kawasan Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026). Pemilihan lokasi ini mengingat rapat penentu kepemimpinan tertinggi NU digelar di rumah salah satu tokoh pendiri jam’iyah tersebut, tepat di kompleks pesantren yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35.

Rapat tertutup ini digelar tak lama setelah proses tabulasi suara pemilihan anggota AHWA rampung dilakukan pada hari yang sama. Sembilan ulama sepuh yang meraih suara terbanyak dalam tabulasi tersebut adalah:

  1. KH. Nurul Huda Djazuli
  2. TGK. KH. Nuruzzhari Yahya
  3. AG. Dr. KH. Baharuddin HS, MA
  4. KH. Miftachul Akhyar
  5. KH. Afifuddin Muhajir
  6. KH. Anwar Iskandar
  7. KH. Anwar Manshur
  8. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj
  9. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA

Sesuai mekanisme yang telah disepakati dalam sidang pleno sebelumnya, kesembilan kiai sepuh ini mengemban mandat untuk bermusyawarah secara tertutup guna menetapkan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031 sekaligus merumuskan arah selanjutnya terkait pemilihan Ketua Umum PBNU.

Rapat berlangsung tertutup dari jangkauan wartawan maupun muktamirin, AHWA sebagai forum ahlul ikhtiar yang bekerja secara internal tanpa campur tangan pihak luar dalam proses pengambilan keputusannya.

Awalnya ada 34 orang yang diusulkan menjadi anggota AHWA dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Dari 34 nama calon itu, terpilih sembilan orang yang meraih suara terbanyak sebagai anggota AHWA. Sembilan anggota peraih suara terbanyak ini kemudian disahkan sebagai anggota AHWA dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. (jok)