ORANG KUAT ITU, SUDAH TERUJI

Gus Yahya, dalam lima tahun terakhir, telah melewati banyak sekali ujian. Berkali-kali digoyang, diserang, bahkan upaya untuk menghentikan langkahnya datang dari berbagai arah. Tetapi satu hal yang tidak bisa dibantah: Gus Yahya tetap berdiri sampai akhir masa khidmahnya.

ORANG KUAT ITU, SUDAH TERUJI

Ada orang yang ketika diterpa masalah memilih menghindar. Ada pula yang ketika dijatuhkan justru semakin kokoh berdiri.

Gus Yahya, dalam lima tahun terakhir, telah melewati banyak sekali ujian. Berkali-kali digoyang, diserang, bahkan upaya untuk menghentikan langkahnya datang dari berbagai arah. Tetapi satu hal yang tidak bisa dibantah: Gus Yahya tetap berdiri sampai akhir masa khidmahnya.

Jatuh, bangkit.

Oleng, kembali tegak.

Diserang, bertahan.

Dikritik, tetap bekerja.

Dan kemarin, laporan pertanggungjawabannya sebagai Ketua Umum PBNU diterima dengan mulus.

Bagi saya, itu bukan perkara kecil.

LPJ yang diterima muktamar adalah salah satu bukti bahwa perjalanan lima tahun kepemimpinan Gus Yahya tidak bisa begitu saja dihapus dengan narasi-narasi tentang kegagalan, apalagi dengan upaya menjatuhkan pribadi.

Kalau memang ada kekurangan, mari dievaluasi.

Kalau ada kesalahan, mari diperbaiki.

Tetapi jangan setiap perbedaan dijadikan alasan untuk mengganti kepemimpinan.

NU membutuhkan kesinambungan.

Sebab organisasi sebesar NU tidak bisa terus-menerus dimulai dari nol setiap pergantian kepemimpinan.

Gus Yahya sudah memahami medan. Sudah mengetahui persoalan. Sudah memiliki pengalaman. Sudah membangun jaringan dan agenda kelembagaan. Maka memberikan kesempatan periode kedua bukan berarti memberikan cek kosong.

Justru periode kedua harus menjadi kesempatan untuk menyempurnakan apa yang belum selesai dan memperbaiki apa yang masih kurang.

Saya mendukung Gus Yahya untuk periode kedua.

Bukan karena beliau manusia tanpa kekurangan.

Bukan pula karena semua kebijakannya harus dianggap benar.

Tetapi karena saya melihat satu kualitas penting dalam dirinya:

daya tahan.

Pemimpin itu tidak cukup hanya pintar ketika keadaan tenang.

Pemimpin diuji ketika badai datang.

Dan Gus Yahya sudah melewati badai itu.

Hari ini masih terdengar berbagai isu. Ada yang mengatakan kelompok ini menang, kelompok itu kalah. Ada yang menghubungkan dengan kekuatan politik. Ada yang membawa-bawa nama istana. Ada pula kabar tentang uang yang beredar di arena muktamar.

Saya tidak ingin ikut memperbesar semua isu yang belum terbukti.

Saya hanya ingin mengatakan kepada para muktamirin:

Jangan jual suara NU.

Jangan biarkan uang menentukan masa depan organisasi.

Jangan biarkan tekanan menentukan pilihan.

Dan jangan biarkan kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan NU yang jauh lebih besar.

PWNU dan PCNU adalah kader-kader NU. Mereka bukan pedagang. Mereka memiliki harga diri, akal sehat, dan tanggung jawab sejarah.

Karena itu saya percaya, ketika saatnya memilih nanti, mereka akan menggunakan hati nurani dan pertimbangan yang matang.

Kalau mereka menilai Gus Yahya masih layak memimpin, jangan takut untuk memilih Gus Yahya.

Kalau mereka melihat Gus Yahya masih dibutuhkan untuk membawa NU melanjutkan agenda-agenda besarnya, jangan ragu memberikan mandat periode kedua.

Gus Yahya tidak perlu dikasihani.

Beliau hanya perlu diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa lima tahun pertama bukanlah akhir perjalanan.

Periode pertama adalah masa menghadapi badai.

Periode kedua semoga menjadi masa memanen hasil, memperkuat organisasi, merawat ukhuwah, dan mengembalikan NU kepada cita-cita para pendirinya.

Maka, kalau ditanya saya memilih siapa?

Jawabannya sederhana:

Gus Yahya.

Semoga lolos.

Semoga sukses.

Semoga periode kedua menjadi lebih baik daripada periode pertama.

Dan semoga kemenangan Gus Yahya nanti bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya.

Tetapi kemenangan NU atas kepentingan-kepentingan yang ingin menjadikan NU sebagai kendaraan kekuasaan.

Semoga Gus Yahya lolos dan sukses untuk periode kedua. (*)

Gresik, 29/8/2026

Ahmad Chuvav Ibriy