Lesehan Bareng Kader di Peterongan, Gus Yahya Tegaskan Jati Diri NU

Semua orang bisa melihat dengan mata telanjang, mana yang sungguh-sungguh dan mana yang pura-pura. Siapa yang mengaku membawa-bawa dan mempermainkan NU tanpa rasa malu, silakan pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Mari kita niatkan keberadaan kita di Muktamar ini untuk kemaslahatan jam’iyah, dan bersiap menyaksikan takdir indah yang Allah berikan untuk NU,” kata Gus Yahya.

JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) – Kehangatan terpancar saat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), duduk melingkar lesehan dikelilingi ratusan kader NU di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, Peterongan, Jombang, Kamis malam (27/8/2025).

Acara lesehan yang dipandu oleh KH Amin Said Husni ini diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH Luqman Harits Dimyathi Termas, ditutup dengan doa oleh KH Ainul Yakin.

Dalam suasana yang penuh keakraban tersebut, Gus Yahya menguraikan pentingnya memegang teguh jati diri dan kesejatian Nahdlatul Ulama di tengah berbagai dinamika serta ujian organisasi.

“Saya terkagum-kagum dengan keteguhan panjenengan semua dari awal sampai akhir dalam memegang thariqah Nahdlatul Ulama sesuai dengan baiat kita: ‘bay’atukum alassam’i wa thā’ati bil jihādi ala thariqati nahdlatil ulama li i’la’i kalimatillah allatī hiyal ulyā’,” ujar Gus Yahya di hadapan para kader.

Pengasuh Ponpes Leteh Rembang yang juga santri KH Ali Maksum tersebut menilai bahwa keteguhan para kader membuktikan bahwa kalkulasi hitung-hitungan untung-rugi material semata bukanlah jawaban atas situasi yang dihadapi jam’iyah.

“Kalau orang hanya menggunakan kalkulasi politik, untung rugi, saya kira tidak mungkin bertahan di posisi ini. Keteguhan ini lahir dari keyakinan yang dalam, bahwa dalam keadaan bagaimanapun, pertolongan Allah SWT senantiasa memandu langkah kita dan menjaga jam’iyah,” terangnya.

Isyarat Masyayikh

Gus Yahya kemudian menceritakan kilas balik perjalanan spiritual dan organisatoris sebelum dinamika saat ini terjadi. Beliau mengungkapkan bahwa jauh sebelum peristiwa terjadi, para kiai dan sepuh telah memberikan pengingat khusus.

Beliau mengenang momen sowan ke Abuya Muhtadi pada Juli 2025. Dalam pertemuan itu, Abuya Muhtadi sempat berseloroh melantunkan syair tentang Baitul Watwat, sembari memberikan pesan mendalam agar organisasi senantiasa dijalankan dengan patuh pada AD/ART.

“Saya sowan ke kiai-kiai yang lain, pesannya senada. Saat itu saya bertanya-tanya, ada apa tiba-tiba ada pesan seperti ini? Saya diingatkan tidak boleh bergeser, tidak boleh menyerah, tetapi pada saat yang sama tidak boleh melawan,” kenangnya.

“Karena, kalau pada waktu itu juga, saya melawan, NU akan pecah. Maka jalan yang saya tempuh adalah mengajukan islah,” lanjut Gus Yahya.

Menurutnya, Muktamar di Jombang menjadi satu-satunya jalan keluar yang bermartabat dan transparan bagi seluruh warga NU.

“Seandainya tidak terjadi Muktamar di Jombang, saya tidak tahu apa jalan keluarnya. Kalau cuma mengandalkan siapa yang lebih mulia atau siapa yang benar dan salah, saya tidak mau berspekulasi. Maka satu-satunya jalan adalah Muktamar,” tegasnya.

Muktamar sebagai Bukti Pertolongan Allah

Menjelang perhelatan Muktamar, Gus Yahya mengutip kembali muqaddimah/nasyarah yang pernah disampaikan Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari sekitar 93 tahun yang lalu (1335 H) mengenai hakikat fitnah dan ujian dalam organisasi.

“Senada dengan yang diutarakan Hadratussyaikh, bahwa sesungguhnya sekian banyak fitnah, musibah, dan keadaan sempit yang dirasakan hari ini adalah cobaan untuk menguji hati para hamba. Dari situ akan tampak siapa yang benar-benar jujur dalam pengakuannya sebagai kader NU, dan siapa yang tidak,” kutip Gus Yahya.

Di hadapan para kader yang hadir, Gus Yahya mengaku melihat pancaran optimisme dan ketulusan.

Beliau menegaskan bahwa Muktamar bukan sekadar pertarungan jumlah suara, melainkan ujian menjaga kesejatian NU sebagai jam’iyah yang mardliyyah (diridhai) di hadapan Allah SWT.

“Ini bukan soal pihak-memihak atau kalkulasi angka, tetapi bagaimana kita menjaga kesetiaan kepada NU. Muktamar ini adalah wahana yang Allah jadikan bukti untuk memperlihatkan kepada semua orang bahwa Allah senantiasa bersama jam’iyah NU. Saya yakin, tidak mungkin Allah membiarkan NU dalam kerusakan,” tutur Gus Yahya optimistis.

Mengakhiri arahannya, Gus Yahya mengajak seluruh kader untuk menata niat demi kemaslahatan jam’iyah yang penuh berkah.

“Semua orang bisa melihat dengan mata telanjang, mana yang sungguh-sungguh dan mana yang pura-pura. Siapa yang mengaku membawa-bawa dan mempermainkan NU tanpa rasa malu, silakan pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Mari kita niatkan keberadaan kita di Muktamar ini untuk kemaslahatan jam’iyah, dan bersiap menyaksikan takdir indah yang Allah berikan untuk NU,” pungkasnya. (jok/shn)