PCNU Cilacap Tolak Karantina: Demi Muktamar yang Sehat, Fair, dan Beradab

Namun terkait persiapan teknis, Cilacap memilih untuk tidak bersedia mengikuti karantina. Kami telah mendirikan posko sendiri agar koordinasi internal lebih terarah dan nyaman, ujarnya

JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan dibuka Presiden Prabowo Subianto Kamis (27/8/2026) sore ini diwarnai adanya skenario karantina muktamirin. Hal ini memicu polemik di antara peserta Muktamar.

PCNU Cilacap Jawa Tengah misalnya menolak karantina tersebut. Abdal Malik, Katib Syuriyah PCNU Cilacap, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi SuaraNahdliyin.id, Kamis pagi, mengatakan, Muktamar NU senantiasa menjadi momentum istimewa bagi warga nahdliyin. Di dalamnya terdapat ruang silaturahim yang mempererat tali persaudaraan, pembahasan program kerja, bahtsul masail, serta penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan. Semuanya berlangsung dalam suasana yang penuh kebersamaan dan kebijaksanaan.

“Selain itu Muktamar juga merupakan ajang suksesi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Proses pergantian estafet kepemimpinan ini penting agar organisasi terus bergerak dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, setiap langkah yang diambil hendaknya dilandasi niat lurus demi kemaslahatan jamiyyah,” katanya.

Dia menegaskan bahwa PCNU Cilacap mendukung sepenuhnya penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama yang jujur, bersih, terbuka, demokratis, dan beradab. Prinsip-prinsip ini menjadi fondasi agar hasil Muktamar benar-benar mencerminkan kehendak warga dan menjaga marwah organisasi.

Namun terkait persiapan teknis, Cilacap memilih untuk tidak bersedia mengikuti karantina. Kami telah mendirikan posko sendiri agar koordinasi internal lebih terarah dan nyaman, ujarnya.

Keputusan ini, kata Abdal Malik, diambil dengan penuh pertimbangan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat diikuti dengan baik. Skenario karantina berpotensi menodai semangat Muktamar yang sehat.

“Hal itu dapat membuat proses berlangsung tidak fair dan mengurangi rasa kepercayaan di antara peserta,” katanya.

Yang tidak kalah penting, dia menegaskan, Muktamar harus dijalani dengan hati yang riang gembira. Suasana gembira akan menjaga ukhuwah tetap utuh, perbedaan pendapat tidak merusak persaudaraan, dan setiap keputusan lahir dari semangat kebersamaan.

“Semoga Muktamar ke-35 di Tambakberas berjalan lancar, penuh berkah, dan menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi Nahdlatul Ulama serta bangsa Indonesia,” katanya. (jok)