JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau secara langsung kesiapan lokasi dan arena Muktamar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Mengawali peninjauan tersebut, Gus Yahya terlebih dahulu sowan ke kediaman Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdullah Rozaq, yang menempati ndalem kasepuhan KH Wahab Chasbullah yang persis di depan masjid.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban tersebut diwarnai berbagai perbincangan, mulai dari nostalgia keutamaan Muassis NU hingga persiapan teknis persidangan Muktamar.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran persiapan tempat dan fasilitas Muktamar, termasuk penyesuaian infrastruktur di area pesantren.
“Saya kira ini menaranya yang menyesuaikan desain logo Muktamar,” kelakar Gus Yahya disambut gelak tawa.
Gus Yahya juga secara khusus mengungkapkan keyakinannya atas restu dan wasilah dari Pendiri NU, KH A. Wahab Chasbullah, dalam penyelenggaraan Muktamar di Tambakberas.
Dengan nada berseloroh khasnya, Gus Yahya menceritakan pengalamannya setiap kali berziarah ke maqbarah Mbah Wahab.
“Saya kira Mbah Wahab yang menjadi wasilah Muktamar Tambakberas ini. Saya selalu matur ke Mbah Wahab, Mbah Wahab sudah pasrah ke Kiai Rozaq: ‘Wis awakmu turu ae, wis ono Kiai Rozaq’,'” kelakar Gus Yahya.
Beliau juga menambah kisah unik saat berziarah yang selalu dipadati umat dari berbagai daerah.
“Setiap kali saya sowan Mbah Wahab, tidak tahu kenapa selalu ramai peziarah. Bahkan pernah ada orang Pati tiba-tiba berbisik, titip Gus Rozin untuk jalan tengah kalau rusuh. Lah, ditunggoni Mbah Wahab kok rusuh,” selorohnya.
Selain bernostalgia, Gus Yahya memberikan catatan penting terkait manajemen pelaksanaan persidangan Muktamar kelak.
Beliau menekankan pentingnya kedisiplinan penggunaan pengeras suara demi menjaga kekhidmatan dan kelancaran musyawarah.
“Disiplin mic itu penting. Jangan biarkan orang pegang mic kecuali dipersilakan oleh pimpinan sidang,” tegas Gus Yahya dan diamini Kiai Rozaq.
Melengkapi suasana kehangatan, pertemuan tersebut juga diselingi cerita kenangan Mbah Amman (1999–2004) yang pernah berseloroh kepada Gus Yahya mengenai dinamika karakter warga Jombang.
“Orang Jombang yang di Jakarta aja ruwet apalagi yang di Jombang,” tukas Gus Yahya menirukan Kiai Amanullah.
Peninjauan arena Muktamar di Tambakberas ini menjadi penanda semakin matangnya persiapan teknis maupun spiritual Jam’iyah Nahdlatul Ulama dalam menyambut helatan akbar Muktamar. (jok)

