Oleh M. Hanafi
(Aktivis NU Jatim)
ADA sesuatu yang terasa janggal di rumah besar Nahdlatul Ulama.
Para kiai yang selama ini menjadi tempat kita meminta petunjuk, tempat kita mengadu persoalan umat, tempat kita belajar adab dan kebijaksanaan, kini justru muncul keadaan di mana mereka diberi arahan tentang siapa yang harus dipilih dalam Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).
Maka pantas jika hati bertanya:
Sejak kapan para kiai yang seharusnya menjadi tempat meminta arahan, justru harus menerima arahan dari orang-orang yang memiliki kepentingan?
Ini bukan sekadar soal pilihan nama.
Ini soal marwah ulama.
Ini soal adab kepada masyayikh.
Ini soal tradisi musyawarah yang selama ini menjadi napas NU.
Kalau para kiai Syuriah sudah tidak lagi diberi ruang untuk menentukan pilihan berdasarkan ilmu, pertimbangan, dan hati nuraninya sendiri, lalu apa makna Ahlul Halli wal ‘Aqdi?
Apakah mereka dipilih untuk menjadi wakil suara umat dan para ulama, atau sekadar untuk mengesahkan keputusan yang sebelumnya sudah diarahkan?
Na’udzubillah…
Lebih memprihatinkan lagi apabila fenomena semacam ini dilakukan oleh orang yang masih memiliki hubungan dengan dzurriyah para muassis.
Bukankah justru karena membawa nama besar para muassis, seharusnya adab dan kehormatan perjuangan mereka dijaga lebih hati-hati?
Para muassis NU dahulu membangun jam’iyyah ini bukan dengan intrik, bukan dengan perebutan pengaruh, dan bukan dengan mengatur-atur para kiai agar mengikuti kehendak seseorang.
Mereka membangun NU dengan keikhlasan, pengorbanan, ilmu, musyawarah, dan akhlakul karimah.
Jangan sampai nama besar para muassis hanya diwarisi nasabnya, tetapi akhlaknya justru ditinggalkan.
Sebab menjadi dzurriyah seorang ulama bukan sekadar membawa nama besar leluhur. Ada tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan perjuangan mereka.
Kita boleh berbeda pilihan.
Kita boleh berbeda pandangan.
Kita boleh memiliki kandidat yang kita anggap paling baik.
Tetapi jangan sampai karena kepentingan memilih seseorang, kita kemudian merendahkan posisi para kiai dengan menjadikan mereka sekadar objek pengarahan.
Kiai bukan boneka,
Syuriah bukan stempel,
Musyawarah bukan formalitas.
Jika para kiai memang dipercaya sebagai ulama yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah jam’iyyah, maka berikanlah kepada mereka ruang untuk bermusyawarah, mempertimbangkan, dan memilih dengan hati nurani serta pertanggungjawaban kepada Allah سبحانه وتعالى.
Sebab yang kita takutkan bukan hanya salah memilih seseorang.
Yang lebih kita takutkan adalah rusaknya tradisi NU dari dalam oleh orang-orang NU sendiri.
Hari ini mungkin hanya soal siapa yang dipilih.
Tetapi jika cara-cara seperti ini dibiarkan, jangan heran jika suatu hari nanti yang hilang bukan hanya kebebasan para kiai dalam bermusyawarah, tetapi juga ruh NU itu sendiri.
Mari kita jaga NU dengan adab.
Mari kita hormati para kiai.
Mari kita kembalikan setiap persoalan kepada musyawarah.
Dan mari kita ingat kembali pesan para pendahulu:
NU akan tetap besar bukan karena siapa yang paling kuat mengendalikan, tetapi karena siapa yang paling tulus menjaga.
Ya Allah…
Jika ada kepentingan pribadi yang sedang menyusup ke dalam urusan jam’iyyah, singkirkanlah.
Jika ada ambisi yang mengalahkan adab, sadarkanlah.
Jika ada perselisihan yang mengancam persatuan para ulama, damaikanlah.
Dan jika kami sedang keliru dalam membaca keadaan, tunjukkanlah kepada kami kebenaran dengan sebenar-benarnya kebenaran.
اللهم احفظ نهضة العلماء من الفتن، واحفظ علماءها ومشايخها، واجمع كلمتهم على الحق، وألهمهم الرشد والصواب، ولا تجعل في قلوبنا غلًّا للذين آمنوا.
Semoga NU tetap menjadi rumah para ulama.
Rumah yang di dalamnya ilmu lebih tinggi daripada kepentingan, musyawarah lebih kuat daripada pengarahan, dan adab lebih tinggi daripada ambisi. (*)

