PASURUAN (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menyinggung peran para kiai dalam menjaga keberlangsungan Nahdlatul Ulama (NU), termasuk KH Abdul Hamid atau yang akrab disapa Mbah Hamid Pasuruan.
Menurut Gus Yahya, sosok ulama seperti Mbah Hamid menunjukkan bahwa NU tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi lahiriah. Di balik perjalanan jam’iyah, terdapat kekuatan ruhani yang diwariskan para ulama kepada generasi penerus.
“Jam’iyah NU bukan hanya munadzomah lahiriyah. Ini bukan hanya jamaah, tetapi juga jundul arwah,” ujarnya saat menghadiri peringatan Haul ke-45 KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar dan Nyai Nafisah di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Sabtu (22/08/2026).
Gus Yahya menyampaikan secara reflektif mengenai kemungkinan adanya dimensi ruhani dalam perjalanan jam’iyah NU. Menurutnya, para ulama yang telah wafat tetap memiliki keterhubungan spiritual dengan perjalanan NU.
“Saya belum pernah dengar atau belum pernah mencari riwayat dari para ulama rohani kita, para ahli, tentang terjadinya Muktamar Arwah. Sekarang Mbah Hamid tidak ada, mungkin menjadi Raisul Arwah,” tuturnya.
Dirinya menegaskan bahwa NU bukan hanya jam’iyah dalam pengertian struktur lahiriah, tetapi juga memiliki dimensi ruhani yang menjadi bagian dari kekuatan perjuangan para ulama.
“Kekuatan NU tidak semata-mata bergantung pada jabatan maupun periode kepemimpinan seseorang. Nilai-nilai keulamaan, keteladanan, dan perjuangan para kiai menjadi bagian yang terus hidup dalam perjalanan jam’iyah,” jelasnya.
Dirinya pun meyakini berbagai upaya untuk memecah belah warga NU tidak akan menghentikan perjalanan jam’iyah selama warga Nahdliyin tetap berpegang pada kebenaran serta menjaga persaudaraan.
“Jam’iyah ini terus berjalan. Persaudaraan berlangsung di atas landasan kerukunan dan persatuan,” pungkasnya. (nhr)

