Halaqah Pra-Muktamar, Gus Yahya Tegaskan Pentingnya Menjaga Jati Diri Ke-NU-an

Beragam aktivitas dakwah dan berbagai platform mengklaim membawa nilai-nilai NU, bahkan muncul penyelenggaraan kegiatan di ruang-ruang yang selama ini tidak identik dengan tradisi pesantren.

PASURUAN (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, mengingatkan pentingnya menjaga jati diri Nahdlatul Ulama (NU) di tengah pesatnya perkembangan dakwah dan meluasnya klaim terhadap identitas ke-NU-an di berbagai ruang publik.

Hal itu disampaikan Gus Yahya saat Halaqah Pra-Muktamar bertajuk ‘Piagam Nilai-Nilai Keulamaan Nahdlatul Ulama’ di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, NU mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tradisi, simbol, dan kegiatan yang mengatasnamakan NU kini tumbuh di berbagai ruang yang sebelumnya tidak lazim menjadi bagian dari kultur pesantren.

“Dulu pengajian umum hampir selalu diselenggarakan oleh pesantren. Penceramah yang diundang adalah para kiai yang memiliki otoritas keilmuan sehingga tradisi keilmuan tetap terjaga,”ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan media sosial turut memperluas fenomena tersebut. Beragam aktivitas dakwah dan berbagai platform mengklaim membawa nilai-nilai NU, bahkan muncul penyelenggaraan kegiatan di ruang-ruang yang selama ini tidak identik dengan tradisi pesantren.

“Berbicara pesantren ya berbicara NU, begitupun sebaliknya,” terang Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, kondisi itu melahirkan pertanyaan mendasar mengenai siapa yang berhak menjadi rujukan dalam merumuskan identitas dan jati diri NU.

“Persepsi tentang NU nanti ditentukan oleh siapa? Apakah oleh para kiai dan pesantren, atau justru oleh persepsi masyarakat luas yang bermunculan melalui berbagai media?” katanya.

Ia mencontohkan, semakin cairnya pemahaman masyarakat tentang NU membuat berbagai kalangan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari NU. Karena itu, PBNU memandang perlu melakukan konsolidasi terhadap unsur-unsur inti yang menjadi penyangga Nahdlatul Ulama, yakni kiai, pesantren, dan struktur organisasi NU.

“Pesantren adalah proyeksi dari kiai, sedangkan Nahdlatul Ulama merupakan proyeksi dari pesantren. Tiga unsur inilah yang harus dikonsolidasikan agar jati diri NU tetap terjaga,” tegasnya.

Dengan jumlah pesantren yang telah mencapai puluhan ribu dan semakin luasnya komunitas Nahdliyin, pendekatan yang dilakukan PBNU dimulai dari penguatan organisasi terlebih dahulu sebelum menjangkau pesantren dan para kiai secara lebih menyeluruh.

“Karena itu, langkah pertama yang kami lakukan adalah mengonsolidasikan jam’iyah NU. Sehingga identitas dan nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama tetap terpelihara di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya. (nhr)