KUPANG (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menggelar pertemuan silaturahmi dan konsolidasi bersama jajaran pengurus Nahdlatul Ulama se-Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (6/8/2026), di Hotel Neo Aston Kupang.
Silaturahmi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat soliditas organisasi menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 27-31 Agustus 2026 mendatang.
Gus Yahya mengatakan pertemuan bersama pengurus NU dari 22 kabupaten/kota se-NTT ini menjadi momentum strategis untuk menyatukan langkah, memperkuat koordinasi, serta memastikan kesiapan seluruh struktur organisasi dalam menyukseskan agenda Muktamar NU di Jombang.
Selain membahas dinamika organisasi, forum ini juga menegaskan pentingnya menjaga persatuan, semangat khidmah, dan komitmen dalam mengawal berbagai program bagi umat.
Gus Yahya mengajak seluruh pengurus NU di NTT untuk terus memperkuat peran organisasi sebagai perekat persatuan bangsa serta menghadirkan pelayanan dan dampak yang nyata bagi masyarakat.
Ia mengaku momentum silaturahmi ini juga mempertegas keberadaan NU sebagai salah satu organisasi besar di Indonesia yang akan memasuki usia dua abad.
Menurutnya, konsolidasi menjadi kunci agar NU mampu menjawab berbagai tantangan zaman termasuk berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Gus Yahya menilai, selama lima tahun kepemimpinannya, konstruksi organisasi benar-benar diperhatikan sehingga NU menjadi organisasi yang lebih kokoh.
“NU harus semakin menjadi organisasi yang profesional, sistematis dengan kinerjanya yang lebih terukur, dan semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, lima tahun ini menjadi pondasi yang kuat untuk membangun NU yang lebih baik dalam perjalanannya memasuki usia dua abad.
“Kebersamaan dan kekompakan menjadi modal utama dalam membangun organisasi yang semakin kuat, sekaligus memastikan NU tetap hadir memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Ia menambahkan momentum Muktamar NU akhir Agustus nanti terasa semakin istimewa karena berlangsung pada masa perjalanan dua abad Nahdlatul Ulama, yang menandai kiprah panjang organisasi Islam terbesar di Indonesia dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kebangsaan.
“Perkembangan umat NU di NTT sangat pesat dan secara nasional kita juga harus membantu pemerintah Indonesia untuk aktif terlibat dalam menyelesaikan berbagai tantangan dan persoalan bangsa dan negara. Namun, untuk bisa melakukan hal itu, vitalitas organisasi sangatlah dibutuhkan sehingga kita bisa optimal membantu bangsa Indonesia dalam pelayanan terhadap masyarakat yang membawa kebermanfaatan,” tegasnya.
Selama lebih dari satu abad, NU telah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta merawat nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.
Ia menilai umat NU di NTT juga mampu memberikan kontribusi terbaik bagi NU secara nasional.
“Saya melihat bahwa kehadiran NU di NTT juga mampu membawa nilai harmoni bagi masyarakat yang heterogen di NTT bahkan nilai ini bisa menjadi teladan di tingkat nasional dimana kita bisa menjahit berbagai keberagaman menjadi harmoni yang makin membawa manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya seperti dikutip dari victorynews.id.
Ia berharap melalui silaturahmi dan konsolidasi bersama pengurus NU se-NTT, lahir semangat baru untuk memperkuat sinergi antarstruktur organisasi, menyukseskan Muktamar Jombang dan membawa Nahdlatul Ulama terus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia memasuki era dua abad pengabdiannya.
Gus Yahya Sukses Pimpin PBNU
Seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, Ketua PWNU Nusa Tenggara Timur (NTT), Pua Monto Umbu Nay, menilai selama memimpin PBNU, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), banyak melakukan pembenahan organisasi. Warga NU pun sudah merasakan hasil kerja Gus Yahya selama satu periode memimpin PBNU hingga tingkat bawah.
Salah satunya soal penertiban administrasi organisasi serta implementasi sistem digital Digdaya yang dinilai memperkuat tata kelola NU.
“Ada banyak hasil yang beliau lakukan, di antaranya penertiban administrasi, hadirnya Digdaya, lahirnya berbagai aturan organisasi yang membuat progres NU semakin maju,” kata Pua Monton Kamis (6/8/2026).
Meski demikian, ia mengakui implementasi digitalisasi di NTT belum sepenuhnya merata. Menurut Pua, penggunaan Digdaya di tingkat PWNU sudah berjalan penuh. Tantangan justru berada di tingkat cabang yang masih membutuhkan pendampingan karena sebagian pengurus belum terbiasa menggunakan teknologi digital.
“Kami di wilayah sudah 100 persen. Tinggal cabang-cabang yang terus kami dorong karena masih ada pengurus yang gagap teknologi,” katanya.
Di tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 27-31 Agustus 2026, Pua berharap seluruh proses berlangsung damai tanpa mengorbankan tradisi saling menghormati yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.
Dia juga menilai pencalonan kembali Gus Yahya pada Muktamar NU ke-35 nanti merupakan hak yang dijamin dalam mekanisme organisasi. Apalagi Gus Yahya berhasil dalam memimpin PBNU.
Menurutnya, semakin banyak kader yang maju justru menunjukkan regenerasi di tubuh Nahdlatul Ulama berjalan sehat.
“Sah-sah saja. Itu hak masing-masing kader untuk mencalonkan diri. Semakin banyak kader yang maju, kami merasa NU semakin maju,” katanya. (jok)

