JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memberikan apresiasi tinggi atas peluncuran buku “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin”. Menurut Gus Yahya, Kiai Ma’ruf Amin bukan sekadar tokoh yang menyaksikan dan menjadi pelaku sejarah, melainkan sosok yang mendalami serta menghayati betul akar perjuangan Nahdlatul Ulama.
Gus Yahya menyampaikan apresiasinya tersebut seusai menghadiri acara peluncuran buku yang merupakan karya Hj Siti Haniatunnisa dan H Muhammad Zainal Arifin itu di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.
“Beliau bukan hanya menekuni wawasan keagamaan yang melandasi peradaban NU, melainkan beliau juga pelaku yang bergulat bersama NU untuk mengamalkan ilmu-ilmu NU, melindungi, dan menghayati betul apa hakikat perjuangan ini,” ujar Gus Yahya.
Gus Yahya secara khusus menyebut penerbitan karya setebal lebih dari 600 halaman tersebut sebagai bentuk kontribusi luar biasa bagi jam’iyyah.
Gus Yahya menilai rekam jejak Kiai Ma’ruf yang membentang lebih dari lima dekade di lingkungan NU menjadikannya rujukan penting bagi generasi penerus.
“Insya Allah ini adalah sumbangan raksasa dari Kiai Ma’ruf. Saya kira buku ini sangat penting dipelajari oleh siapa saja yang ingin berkiprah di dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” tegas Ketum PBNU tersebut.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyampaikan doa mendalam untuk keberkahan usia dan pengabdian Wakil Presiden ke-13 RI yang kini berusia 83 tahun tersebut.
“Semoga beliau dikaruniai usia yang dipanjangkan oleh Allah, dan terus mendapatkan kesempatan untuk berkhidmat pada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini demi kemaslahatan bersama,” tuturnya.
Acara peluncuran buku yang merangkum tiga pilar utama Jam’iyyah, fikrah (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan) ini berlangsung semarak menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.
Selain Gus Yahya, peluncuran buku ini turut dihadiri Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Gus Yusuf, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjend MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S Karni.
Seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin meluncurkan buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam. KH Ma’ruf Amin dalam arahannya menekankan bahwa Nahdlatul Ulama, pesantren, dan institusi keagamaan pada umumnya tidak boleh sekadar menjadi ornamen sejarah. Ia menegaskan agar umat Islam senantiasa menjaga harakah diniyah (gerakan keagamaan), wathaniyah (kebangsaan), dan iqtishadiyah (pemberdayaan ekonomi).
“Jangan sampai kita hanya bangga pada masa lalu dan kehilangan relevansi di masa depan. Kita harus menjadi penjaga keberagamaan yang adil (himayatul ummah) sekaligus pelopor perbaikan peradaban,” pesannya.
Penulis buku ini, Siti Haniatunnisa mengatakan buku ini bertujuan mendokumentasikan perjalanan dan pemikiran KH Ma’ruf Amin mengenai Nahdlatul Ulama (NU). “Pemikiran beliau tidak pernah lepas dari warisan para muassis (pendiri) NU seperti Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan semoga bisa menjadi penunjuk arah Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengisi dan menjalani abad keduanya,” tegas Siti Haniatunnisa. (jok)

