Di era kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang telah memasuki Abad kedua usia organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, Gus Yahya telah berhasil memperbanyak kiprah NU di level global untuk menyemai perdamaian internasional bersama para tokoh dan pemimpin agama dunia.
Tidak hanya itu, Gus Yahya juga mencoba menata kembali manajemen organisasi dan menguatkan sistem berbasis digital hingga ke tingkat ranting. Gus Yahya menyebutnya sebagai transformasi digital yang tidak hanya menjadi kebutuhan internal organisasi, tetapi juga sebagai tantangan seluruh warga NU.
Dalam kepemimpinannya yang kini memasuki abad kedua, Gus Yahya mengatakan, telah menempatkan empat agenda besar. Pertama adalah agenda untuk memperbaiki tata laksana organisasi. “Ini menyangkut dua hal. Yang pertama adalah norma-norma terkait administrasi dan mekanisme-mekanisme pembuatan keputusan, dan yang kedua adalah mengenai teknik manajemen, teknik pengelolaan,” katanya.
Untuk hal-hal yang terkait dengan norma-norma dan mekanisme-mekanisme pembuatan keputusan, lanjut Gus Yahya, PBNU bekerja untuk menyesuaikan berbagai macam instrumen normatif, berupa peraturan-peraturan perkumpulan dan berbagai macam ubo rampe-nya lah, berbagai macam aturan ikutan yang diturunkan dari peraturan-peraturan perkumpulan itu.
“Tugas ini sebagian besar sudah kami selesaikan, sambil terus-menerus berusaha memperbaiki hal-hal yang kita lihat dalam perjalanan ada kekurangan-kekurangan,” ungkapnya.
Sedangkan teknik manajemen, Gus Yahya menjelaskan, PBNU telah menetapkan agenda digitalisasi organisasi, mulai dari administrasi sampai dengan berbagai macam kegiatan organisasi yang lainnya. “Termasuk program-program dan juga kegiatan-kegiatan yang akan melibatkan partisipasi dari masyarakat, dari jamaah NU itu sendiri,” katanya.
Sementara untuk agenda besar yang kedua, kata Gus Yahya, adalah pemenuhan dan peningkatan sumber daya manusia organisasi. “Kita membutuhkan personil-personil yang memiliki kapasitas standar yang dibutuhkan dalam pengelolaan organisasi. Dan itu kami lakukan dengan membangun satu system kaderisasi yang berjenjang dan komprehensif,” tutur Gus Yahya.
Kemudian agenda besar yang ketiga, lanjut Gus Yahya, adalah mengembangkan model aktivisme atau pola aktivisme yang ini menyangkut dua ranah utama. “Yang pertama adalah ranah domestik, ranah dalam negeri, yang menyangkut masyarakat kita sendiri, bukan hanya jamaah NU saja, tapi juga masyarakat pada umumnya,” jelasnya.
Dalam hal ini, kata Gus Yahya, PBNU telah melakukan reorientasi aktivisme organisasi ini kepada model kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, yang merupakan engagement atau bersentuhan langsung dengan masyarakat. “Kita orientasikan ke sana,” cetusnya.
Sedangkan yang kedua, lanjut Gus Yahya, adalah arena aktivisme internasional, khususnya menyangkut posisi NU di dalam percaturan internasional, menyangkut hubungan-hubungan dengan berbagai macam kalangan agama yang berbeda-beda, dan juga aktor-aktor global lainnya. “Nah, untuk arena internasional ini kita orientasikan kepada pengembangan satu gerakan global yang bisa secara konkrit menjalankan strategi untuk mendapatkan atau menemukan solusi-solusi bagi berbagai masalah kemanusiaan yang dihadapi oleh masyarakat internasional saat ini,” ungkap Gus Yahya.
Kemudian agenda fundamental yang keempat adalah menyangkut upaya untuk membangun kapasitas keuangan yang lebih baik, dengan mengembangkan sumber-sumber keuangan yang lumintu. “Jadi, financial sustainability. Nah, akhir agenda ini kemudian kita eksekusi dengan satu strategi bertahap, mengingat realitas masyarakat yang kita hadapi, mengingat dinamika yang berlangsung dari waktu ke waktu,” kata Gus Yahya.
Untuk menjalankan keempat agenda besar tersebut, langkah awal yang dilakukan Gus Yahya adalah menyelesaikan desain-desain konseptual dari tata laksana organisasi dan sistem kaderisasi. Dalam hal ini termasuk di dalamnya adalah tentang manajemen keuangan.
“Ini kita jalankan paling awal bersamaan dengan dimulainya upaya-upaya untuk membangun satu platform digital, yang bisa digunakan untuk menampung segala kegiatan-kegiatan ke-NU-an,” katanya.
Pada saat yang sama, lanjut Gus Yahya, pihaknya juga menghadapi kebutuhan untuk mentransformasikan mindset dari masyarakat. Karenanya, agenda-agenda dasar ini harus diperkenalkan kepada masyarakat, dan kemudian melakukan upaya mentransformasikan pola pikir dari masyarakat – khususnya jamaah NU itu sendiri – tentang bagaimana keberadaan NU, tentang apa yang menjadi tanggung jawab NU, cita-cita NU, dan seterusnya. ‘
“Maka pada tahun pertama kita melakukan mobilisasi besar-besaran dalam berbagai macam sumber daya – baik sumber daya personal, sumber daya finansial, dan lain sebagainya, termasuk partisipasi warga – untuk membangkitkan gairah warga tentang peran yang lebih besar yang harus dijalankan oleh Nahdlatul Ulama, yang kemudian juga membutuhkan ikhtiar-ikhtiar besar dari dalam,” katanya.
Itulah sebabnya, lanjut Gus Yahya, masyarakat saat ini bisa menyaksikan bahwa NU ini tidak bisa lagi dipandang keberadaannya seperti masa lalu. Selam aini banyak kalangan NU termasuk juga aktivis-aktivis NU, merasa bahwa NU ini lemah, bahwa NU ini kekurangan ini dan kekurangan itu, semua itu tidaklah benar.
“Kita berupaya untuk membongkar mindset ini, membongkar persepsi ini, dengan menunjukkan bahwa NU besar, NU punya kemampuan untuk mengerjakan hal-hal besar. Dan alhamdulillah, ini saya kira bisa kita laksanakan dengan hasil yang optimal,” terang Gus Yahya.
“Masyarakat sekarang melihat NU dengan persepsi yang berbeda. Imajinasi tentang NU sudah berubah menjadi imajinasi yang lebih kuat dampaknya secara psikologis, sebagai rasa percaya kepada NU untuk berbagai isu di dalam kehidupan masyarakat pada umumnya,” tambahnya.
Hal ini mampu dibuktikan oleh Gus Yahya dengan keterlibatan NU di kancah internasional. Bahkan memasuki NU abad kedua, pihaknya telah membuat kemajuan-kemajuan yang besar yang secara khusus ditandai dengan keberhasilan PBNU menyelenggarakan forum agama-agama dalam rangkaian G-20 yang dituanrumahi Indonesia tahun 2022.
“Forum-forum agama-agama ini kita namai R-20, Religion of Twenty. Dan di situ kita mengundang tidak kurang dari 150 pemimpin agama dari seluruh dunia, terutama dari negara-negara anggota G-20 dan negara-negara yang merupakan jaringan kerja sama dengan G-20 ini,” katanya.
Kegiatan ini sangat mengesankan, karena PBNU berhasil menggalang pemimpin agama ini untuk memulai satu model engagement yang baru. Kalau selama ini yang dilakukan adalah dialog, dialog, dialog. Mulai dengan R-20 ini kita berhasil membangun kesepakatan dan tekad bersama dari para pemimpin agama ini untuk membangun gerakan global bersama.
“Jadi dari dialog gerakan ini menjadi satu geseran yang luar biasa. Dan ini genuine dan shincher, ini asli dan tulus. Jadi ini bukan dibuat-buat, bukan sekadar asal bikin pernyataan bagus, tapi memang sungguh-sungguh menjadi gairah dari para pimpin agama itu sendiri, sehingga sejak R-20 itu kita juga semakin mudah melaksanakan kegiatan-kegiatan kerjasama internasional ini dari waktu ke waktu, setiap ada momentum kita bisa dengan mudah mengajak kumpul para pemain agama ini,” tuturnya.
Gus Yahya kemudian mencontohkan dengan forum ASEAN. Dengan hanya persiapan sekitar satu bulan, PBNU berhasil mengundang para tokoh agama. Kemudian terkait dengan serangan Israel ke Gaza juga dalam waktu hanya sekitar tiga minggu, PBNU berhasil menghadirkan para pemimpin agama untuk menanggapi itu. “Bahkan kemudian disusul dengan forum untuk meng-addres masalah yang sama di Amerika, hanya dua minggu sesudahnya, di Universitas Princeton. Ini wah, saya kira belum pernah ada organisasi masyarakat keagamaan yang bekerja sama dengan Universitas Princeton – ini universitas nomor satu di Amerika ini – untuk menyelenggarakan event seperti ini,” katanya.
“Nah, ini adalah capaian-capaian yang saya kira monumental dari segi aspek-aspek yang yang telah dicapai, sekaligus juga monumental dari segi keberhasilan kita di dalam mengelola upaya-upaya itu sedemikian rupa, sehingga berhasil mendapatkan capaian yang sedemikian baik sekarang ini,” pungkasnya. (rai)

