KH Imron Mutamakkin: Jangan Reduksi Muktamar NU hanya Demi Perebutan Kursi Ketua Umum

Menurutnya, Muktamar NU adalah ajang untuk memperkuat konstitusi jam'iyah, serta meneguhkan kembali kepemimpinan ulama sebagai ruh Nahdlatul Ulama.

PASURUAN (SuaraNahdliyin.id) – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, KH Imron Mutamakkin, mengingatkan agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) jangan direduksi menjadi arena memilih ketua umum semata. Namun, hendaknya menjadi ruang merumuskan arah organisasi ke depan.

“Forum permusyawaratan tertinggi NU justru harus menjadi ruang untuk merumuskan arah organisasi,” ujarnya saat Majelis Muhasabah di Aula PCNU Kabupaten Pasuruan, Sabtu (1/8/2026).

Ia mengaku kegelisahan itu muncul setelah mengikuti sejumlah forum koordinasi menjelang Muktamar NU. Ia menilai pembahasan yang berkembang lebih banyak berkutat pada figur calon ketua umum daripada substansi yang akan dibawa ke forum Muktamar.

“Ketika kami diundang dalam rapat koordinasi Muktamar, yang kami harapkan adalah pembahasan mengenai materi yang akan dibawa ke Muktamar,” terang Gus Ipong, sapaan akrabnya.

Menurutnya, Muktamar NU adalah ajang untuk memperkuat konstitusi jam’iyah, serta meneguhkan kembali kepemimpinan ulama sebagai ruh Nahdlatul Ulama. Namun, yang banyak muncul justru pembicaraan mengenai calon.

“Padahal, semestinya ada rumusan-rumusan penting yang menjadi bekal peserta Muktamar,” jelasnya.

Ia menyebutkan, setiap struktur kepengurusan NU seharusnya datang ke Muktamar nu dengan membawa usulan konkret, baik berupa program organisasi maupun penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

“Kita datang ke Muktamar jangan hanya untuk memilih atau sekadar meramaikan suasana. Kita harus membawa pemikiran baru demi kemajuan Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Baginya, kualitas Muktamar NU ditentukan oleh kualitas gagasan yang dibawa peserta, bukan semata-mata oleh dinamika kontestasi kepemimpinan.

“Karena keputusan lima tahun ke depan tergantung pada Muktamar NU yang akan datang,” tutupnya. (nhr)