JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) — Saat di dalam negeri banyak orang meragukan peran Indonesia dalam membantu rakyat Palestina untuk merdeka bebas dari penjajahan Israel, akademisi internasional bidang kajian Baitul Maqdis, Prof Abdul Fattah el-Awaisi, justru menilai sebaliknya. Menurut dia, Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis untuk memimpin persiapan berbasis ilmu pengetahuan dalam upaya pembebasan Masjid Al-Aqsa. Namun perjuangan tersebut tidak dimulai dengan kekuatan militer, melainkan lewat pembangunan ilmu, cara berpikir, dan perencanaan strategis.
Menurut el-Awaisi, Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa perubahan besar selalu diawali dengan ilmu. Ia merujuk pada wahyu pertama yang memerintahkan membaca sebagai fondasi membangun peradaban.
“Rasulullah tidak memulai dengan militer. Beliau memulai dengan membaca dan membangun ilmu,” ujar el-Awaisi dalam acara “Baitul Maqdis The Blueprint” yang digelar International Networking for Humanitarian (INH) di Auditorium RRI, Jakarta, Minggu (2/8/2026).
Sang Profesor adalah guru besar pada Universitas Istambul Sabahatiin Turki dengan keahlian kajian Hubungan Internasional dan seorang pakar pada bidang Baitul Maqdis atau Mesjid Alqsha di Yerussalem Palestina.
Ia mengatakan, negara-negara kolonial justru menerapkan prinsip tersebut ketika hendak menjajah berbagai wilayah, termasuk Palestina dan Indonesia. Sebelum mengirim pasukan, kata dia, mereka lebih dahulu melakukan riset, mengumpulkan pengetahuan, dan menyusun strategi jangka panjang.
“Sayangnya, penjajah mengikuti sunnatullah dengan mempersiapkan ilmu terlebih dahulu, sementara umat Islam sering kali justru mengabaikannya,” kata dia.
Karena itu, ia mengajak umat Islam melakukan apa yang disebutnya sebagai liberation of mind atau pembebasan cara berpikir. Menurut dia, dukungan terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada solidaritas emosional, tetapi harus dibangun di atas pemahaman sejarah, geopolitik, dan kajian ilmiah yang kuat.
El-Awaisi mengaku menghabiskan puluhan tahun meneliti dokumen-dokumen arsip Inggris di Kew Gardens, London. Dari penelitian tersebut, ia menyimpulkan bahwa proyek pendirian Israel telah dipersiapkan jauh sebelum negara itu berdiri melalui pembangunan pengetahuan dan strategi kolonial.”Negara itu dipersiapkan melalui pengetahuan terlebih dahulu, baru kemudian kekuatan militer,”kata dia.
Berdasarkan penelitian yang sama, ia menilai, Indonesia memiliki keunggulan geopolitik dibanding banyak negara Muslim lainnya untuk memimpin gerakan intelektual tersebut. Menurut dia, negara-negara Arab menghadapi berbagai hambatan politik sehingga ruang untuk mengembangkan kajian secara bebas menjadi lebih terbatas.”Indonesia adalah negara yang paling mampu memimpin persiapan ilmu pengetahuan bagi pembebasan Masjid Al-Aqsa pada abad ke-21,” kata dia.
El-Awaisi menegaskan, yang dimaksud bukanlah persiapan perang maupun agenda politik praktis. Fokus utamanya adalah membangun tradisi keilmuan yang melahirkan pemikiran dan perencanaan strategis.
Ia menjelaskan, terdapat tiga tahapan utama yang harus dilakukan, yakni membangun ilmu yang bermanfaat (beneficial knowledge), melahirkan pemikiran strategis (strategic thinking), dan menyusun perencanaan strategis (strategic planning).”Ilmu yang bermanfaat akan melahirkan pemikiran strategis, kemudian menghasilkan perencanaan strategis,” ujar dia.
El-Awaisi mengingatkan bahwa perjuangan umat Islam hendaknya tidak terjebak pada perdebatan politik jangka pendek. Menurut dia, Rasulullah SAW mengajarkan umat agar tetap fokus membangun proyek besar melalui ilmu pengetahuan.
“Fokuslah pada persiapan ilmu. Jangan sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Ikutilah sunnah Rasulullah dalam membangun pengetahuan sebagai fondasi perubahan,”kata dia. (jok/rpk)

