Sosok Ketum PBNU Diharapkan Paduan KH Idham Chalid dan Gus Dur

Model kepemimpinan yang ideal bagi NU ke depan adalah perpaduan karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). KH Idham Chalid dikenal sebagai sosok yang lentur dan mampu membangun komunikasi dengan kekuasaan. Sementara Gus Dur memiliki karakter kritis terhadap kekuasaan sekaligus dekat dengan aspirasi warga nahdliyin.

BANDUNG (SuaraNahdliyin.id) – Sejumlah pakar antara lain Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Prof Burhanuddin Muhtadi, Indonesianis dari The Australian National University Prof Gregory John Fealy, serta Sejarawan Iip D. Yahya, memberi masukan kepada PBNU menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 27-31 Agustus 2026 mendatang. Gagasan mereka disampaikan saat menjadi nara sumber seminar kebangsaan bertajuk “Menelusuri Jejak Keteladanan Pemimpin NU dari Masa ke Masa” yang diselenggarakan di Creative Hall, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini antara lain dihadiri Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad, Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU se-Jawa Barat.

Dalam acara itu muncul ide model kepemimpinan yang ideal bagi NU ke depan adalah perpaduan karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). KH Idham Chalid dikenal sebagai sosok yang lentur dan mampu membangun komunikasi dengan kekuasaan. Sementara Gus Dur memiliki karakter kritis terhadap kekuasaan sekaligus dekat dengan aspirasi warga nahdliyin.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi, mengatakan pendekatan akomodatif dan non-konfrontatif peninggalan Kiai Idham memang sangat sukses dan relevan dalam menyelamatkan NU dari situasi yang chaotic di masa lalu. Namun, untuk konteks saat ini, pendekatan tersebut butuh penyesuaian. Karena itu, ia menyarankan agar para pemilik suara di muktamar mendatang mencari figur yang memiliki keseimbangan antara lobi ke atas (pemerintah) dan advokasi ke bawah (nahdliyin). Dalam kaitan ini sosok ideal itu adalah Gus Dur.

“Yang terjadi dalam konteks kepemimpinan NU beberapa waktu terakhir itu, too much Kiai Idham, not enough Gus Dur. Terlalu kental Kiai Idham-nya, kurang Gus Dur-nya. Maksudnya, terlalu kuat politisinya, tapi kurang kuat advokasi umatnya seperti yang diperlihatkan Gus Dur,” kata Burhanuddin.

Sementara itu, Pengamat politik dan Indonesianis, Prof Gregory John Fealy (Greg Fealy), menyoroti kebutuhan NU akan lompatan di bidang manajerial untuk menghadapi perubahan zaman. Menurut dia, model kepemimpinan klasik di masa tekanan otoritarianisme berbeda dengan tantangan keumatan saat ini.

“Sudah waktunya NU punya ketua umum dan pengurus yang mengutamakan aspek manajerial, serta berani mengambil sikap kritis terhadap hal-hal yang memberatkan komunitas Muslim,” kata Greg.

Menurut dia, gaya kepemimpinan masa lalu tidak bisa serta-merta diduplikasi di era modern. Pengamat yang telah meneliti NU selama puluhan tahun ini menyebutkan bahwa NU saat ini lebih membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kapasitas manajerial dan profesionalisme tingkat tinggi.​”Pak Idham menjadi ahli dalam memimpin organisasi pada periode yang penuh dengan ancaman, otoritarianisme, dan macam-macam tekanan. Tapi untuk sekarang ini, NU butuh kepemimpinan yang sangat profesional dan memperhatikan perkembangan organisasinya,” ucap Greg.

​Greg menggarisbawahi pentingnya mengejar ketertinggalan fasilitas, pengelolaan anggaran, dan pelayanan anggota, jika dibandingkan dengan ormas Islam lainnya. “Sudah waktunya NU punya ketua umum dan pengurus yang mengutamakan aspek-aspek manajerial. Dan mereka juga harus berani mengambil sikap kritis terhadap hal-hal yang memberatkan komunitas NU,” tuturnya.

(jok)