JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Program digitalisasi yang diinsiasi oleh kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) hingga kini terus dikembangkan. Terbaru, PBNU akan melaunching program digitaliasi dengan nama Sa’adatuna kepanjangan dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama.
Sesuai rencana, platform Sa’adatuna ini akan diluncurkan usai pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, akhir Agustus 2026 mendatang. Platform digital ini nantinya akan difungsikan sebagai ekosistem penghubung warga NU sampai ke akar rumput.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, saat ini PBNU sedang memfinalisasi pengembangan platform baru tersebut. “Mungkin tidak apa-apa jika saya sedikit membocorkan rencana ini. Dalam waktu dekat kami akan meluncurkan sebuah inisiatif bernama Sa’adatuna,” ujar Gus Yahya, Jumat (31/7/2026).
Ia menerangkan bahwa secara etimologi bahasa Arab, Sa’adatuna bermakna kebahagiaan kita. Di samping itu, nama tersebut juga merupakan kependekan dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama. “Kami sedang menyelesaikan seluruh persiapannya. Berbagai sistem aplikasi telah siap dan insyaallah akan diluncurkan setelah Muktamar Nahdlatul Ulama,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Yahya menyebutkan bahwa PBNU telah menginisiasi pembangunan platform digital ini sejak 2023. Langkah ini diambil guna menyediakan ekosistem digital yang sanggup mengakomodasi beragam kebutuhan warga NU maupun masyarakat umum.
“Platform tersebut telah berjalan dengan baik untuk kebutuhan internal organisasi. Kini siap dikembangkan hingga ke tingkat akar rumput,” ujarnya. Gus Yahya.
Ia menjelaskan, sejak pertama kali didirikan, spirit utama NU adalah merancang sistem yang memungkinkan antaranggota masyarakat saling menopang secara efisien melalui koordinasi terstruktur. Ia mencontohkan gerakan Mabadi’ Khaira Ummah yang diusung oleh Ketua Pengurus Besar NU, KH Mahfudz Siddiq, pada 1939.
“Inisiatif masa lalu tersebut bertumpu pada pembentukan tatanan masyarakat ideal melalui penguatan tradisi gotong royong,” kata Gus Yahya.
Ia menyebutkan bahwa fondasi gerakan tersebut disokong oleh lima pilar utama, yakni As-Shidq (kejujuran), Al-Wafa bil ‘Ahdi (menepati janji), Al-Amanah (dapat dipercaya), Al-‘Adl (keadilan), serta At-Ta’awun (saling tolong-menolong). “Gagasannya adalah menghubungkan masyarakat satu sama lain agar mereka mengetahui kebutuhan sesamanya setiap saat, sehingga setiap orang siap membantu siapa pun yang membutuhkan dengan kemampuan yang dimilikinya,” jelasnya.Gus Yahya.
Ia menilai, tantangan dalam merealisasikan gagasan itu kini kian dinamis seiring meluasnya basis warga NU. Hasil dari pelbagai lembaga survei mengindikasikan sekitar 57 persen populasi Muslim di Indonesia mengidentifikasikan dirinya sebagai Nahdliyin, yang jumlahnya menembus lebih dari 120 juta jiwa. “Karena itu, tantangan strategis kami saat ini adalah bagaimana menjangkau seluruh warga NU dan menghubungkan mereka satu sama lain,” tegasnya.
Ia membandingkan, jika pada era 1939 populasi warga NU diperkirakan baru menyentuh angka 5 hingga 10 juta jiwa, kini mengkonsolidasikan lebih dari 120 juta orang jelas membutuhkan daya jangkau yang jauh lebih rumit.
Oleh sebab itu, akselerasi teknologi digital dipandang sebagai peluang emas untuk mempererat konektivitas antarnahdliyin. “Syukurlah, sekarang teknologi sudah berkembang sangat pesat. Kami dapat memanfaatkan teknologi digital untuk menghubungkan warga NU sehingga mereka dapat saling membantu kapan pun diperlukan,” pungkasnya.
Seperti diketahui, sebelumnya PBNU telah membuat gebrakan baru dalam memperbaiki tata kelola organisasi menerapkan system digitaliasi melalui platform Digdaya (Digitaliasai Data dan Pelayanan) Nahdlatul Ulama. Kehadiran Digdaya NU bukan sekadar tentang adopsi teknologi, melainkan juga sebuah gerakan transformasi budaya organisasi yang berorientasi pada efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas.
Platform ini juga menjadi tulang punggung digital yang memungkinkan pengelolaan administrasi, pendataan, dan layanan berjalan lebih cepat, tertib, dan terintegrasi dari tingkat PBNU hingga Ranting. Dengan Digdaya NU, wajah tata kelola organisasi semakin modern tanpa meninggalkan akar tradisinya. rai,nuo

