20 Pondok di Kalsel Ikut Gerakan Pesantrenku Aman, Gus Yahya Pastikan Cegah Kekerasan terhadap Santri

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyebutkan bahwa pesantren merupakan tempat yang seharusnya aman bagi santri dan santriwati dalam menuntut ilmu. Pesantren harus bisa menjamin keselamatan dan kenyamanan para santri saat berada dalam lingkungan pondok.

BANJARBARU (SuaraNahdliyin.id) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melanjutkan sosialisasi gerakan Pesantrenku Aman di Kalimantan Selatan (Kalsel) Selasa (11/8/2026). Gerakan ini bertujuan memastikan seluruh santri yang ada di Kalsel tidak mengalami tindak kekerasan dalam bentuk apapun di lingkungan pondok pesantren.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyebutkan bahwa pesantren merupakan tempat yang seharusnya aman bagi santri dan santriwati dalam menuntut ilmu. Pesantren harus bisa menjamin keselamatan dan kenyamanan para santri saat berada dalam lingkungan pondok.

“Kita bangun kerja sama mewujudkan Pesantrenku Aman sesuai apa yang kita idealisasikan, standar keamanannya dan kebutuhan apa saja yang harus diidentifikasi,” kata Gus Yahya.

Gus Yahya menyebutkan sejauh ini sudah ada 20 pondok pesantren di Kalsel yang menyatakan ikut dalam gerakan Pesantrenku Aman. Keterlibatan 20 pesantren dalam gerakan ini merupakan awal untuk menyesuaikan kebutuhan setiap pesantren sekaligus menjalin kerja sama untuk memenuhi kebutuhan keamanan.

“Kami harap, kegiatan ini menjadi langkah awal program lanjutan untuk membangun Pesantrenku Aman secara berkelanjutan di lingkup Nahdlatul Ulama,” katanya.

Sementara itu, Kabiro Kesra Pemprov Kalsel Fahrurazi mendukung penuh gerakan Pesantrenku Aman. Menurutnya, perlu ada perlindungan nyata untuk keamanan terhadap keberadaan santri-santri di pondok pesantren.

“Karena pesantren harus menjadi rumah aman dan tempat yang nyaman bagi santri,” harapnya.

Sekretaris RMI PBNU Ulun Nuha mengatakan bahwa keberadaan gerakan Pesantrenku Aman merupakan tindakan lanjut dari berbagai laporan kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren. Dengan adanya gerakan itu, pelatihan terhadap para pengurus untuk menangani persoalan kekerasan juga akan diberikan. Pelatihan untuk para santri juga akan diberikan pelatihan untuk mencegah kekerasan.

“Intinya di dalam kita hendak mengajak semua komponen di pesantren untuk mewujudkan Pesantrenku Aman. Sementara ke luar, kita hendak menunjukkan bahwa kita punya puluhan ribu pesantren dengan praktek baik dan menujukan bahwa pesantren kita benar-benar aman,” tegasnya.

Mengenai beberapa kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren, Gus Ulun menyebut bahwa hal itu terjadi di pesantren abal-abal yang kemudian berdampak pada sejumlah pesantren resmi. Ia meminta peran serta pemerintah untuk ikut melarang tegas pihak yang tidak layak dan tidak punya izin pesantren untuk mengadakan pendidikan dengan tajuk pesantren.

“Karena hal-hal itu bisa merusak nama baik pesantren,” pungkasnya. (jok/det)