Suara Nahdliyin

Jam'iyyah

Wakil Rais Aam Ajak Akhiri Masa Kepengurusan dengan Husnul Khatimah

Masa khidmat kepengurusan PBNU sebentar lagi berakhir. Semua pengurus diharapkan melakukan refleksi diri agar masa kepengurusan ini bisa berakhir dengan husnul khatimah.

3 Juni 2026 22.33
Wakil Rais Aam Ajak Akhiri Masa Kepengurusan dengan Husnul Khatimah
KH Afifuddin Muhaji – Wakil Rais Aam PBNU

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Masa kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2021-2026 diperkirakan tinggal dua bulan lagi. Silang pendapat pun menghiasi perjalanan kepengurusan di internal PBNU.

Untuk itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir mengajak seluruh jajaran PBNU di berbagai bidang untuk menutup masa kepengurusan dengan semangat husnul khatimah atau akhir yang baik. “Karena husnul khatimah itu bisa melunturkan gonjang-ganjing yang ada sebelumnya,” harap Kiai Afifuddin, kemarin.

Menurutnya, akhir masa kepengurusan bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan momentum untuk meninggalkan jejak dan keputusan penting bagi masa depan NU.

“Kita sekarang sudah berada di ujung, mungkin sebentar lagi. Dalam periode yang akan datang, mungkin kita tidak akan lagi menjadi pengurus PBNU, seluruhnya atau sebagian. Akan tetapi, yang penting adalah husnul khatimah,” katanya.

Untuk itu, menjelang Muktamar ke-35 NU yang diperkirakan akan digelar Agustus 2026 mendatang, Kiai Afifuddin meminta semua pengurus untuk melakukan refleksi diri. Pasalnya, dalam menjalankan roda organisasi, pengurus NU melahirkan keputusan strategis yang memiliki dampak jangka Panjang bagi umat dan bangsa.

“Ada pertanyaan besar dari saya, kira-kira kita ini akan meninggalkan PBNU apa? Apa yang akan diwariskan kepada pengurus PBNU yang akan datang atau kepada nahdliyin? Apa yang akan kita wariskan?” ucapnya.

Kiai Afif menyampaikan bahwa keputusan besar yang lahir dari muktamar mendatang, dapat menjadi warisan penting bagi generasi penerus NU. “Kalau muktamar yang akan datang kita kerjakan bersama dan melahirkan keputusan, mungkin itu yang akan kita wariskan kepada para penggantinya nanti,” terangnya.

Ia juga mengajak seluruh pengurus NU mengesampingkan kepentingan pribadi maupun kelompok demi tujuan bersama organisasi. “Mudah-mudahan ini bisa diupayakan, bagaimana muktamar yang akan datang adalah muktamar yang luar biasa, dalam tanda petik. Perlu kita kesampingkan kepentingan demi tujuan yang sama ini,” tuturnya.

Kiai Afif juga menyinggung karakter Muktamar ke-35 NU mendatang yang dinilainya memiliki kemiripan dengan Muktamar ke-27 NU di Situbondo, Jawa Timur. Muktamar tersebut dikenang sebagai momentum penting karena mampu menyelesaikan konflik internal, sekaligus melahirkan keputusan besar mengenai hubungan Pancasila dan Islam.

Ia berharap muktamar mendatang tidak hanya menjadi agenda rutin pergantian kepengurusan, tetapi juga mampu menjadi ruang konsolidasi organisasi. “Mudah-mudahan muktamar yang akan datang bisa menyelesaikan persoalan ini dan bukan hanya bisa menyelesaikan,” pungkasnya. nuo/han